Komunisme dan Pan-Islamisme, Tan Malaka (1922)

Penerjemah: Arief Chandra, Agustus 2009


Ini adalah sebuah pidato yang disampaikan oleh tokoh Marxis Indonesia Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional ke-empat pada tanggal 12 Nopember 1922. Menentang thesis yang didraf oleh Lenin dan diadopsi pada Kongres Kedua, yang telah menekankan perlunya sebuah “perjuangan melawan Pan-Islamisme”, Tan Malaka mengusulkan sebuah pendekatan yang lebih positif. Tan Malaka (1897-1949) dipilih sebagai ketua Partai Komunis Indonesia pada tahun 1921, tetapi pada tahun berikutnya dia dipaksa untuk meninggalkan Hindia Belanda oleh pihak otoritas koloni. Setelah proklamasi kemerdekaan pada bulan Agustus 1945, dia kembali ke Indonesia untuk berpartisipasi dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Dia menjadi ketua Partai Murba (Partai Proletar)), yang dibentuk pada tahun 1948 untuk mengorganisir kelas pekerja oposisi terhadap pemerintahan Soekarno. Pada bulan Februari 1949 Tan Malaka ditangkap oleh tentara Indonesia dan dieksekusi.

 

Kamerad! Setelah mendengar pidato-pidato Jenderal Zinoviev, Jenderal Radek dan kamerad-kamerad Eropa lainnya, serta berkenaan dengan pentingnya, untuk kita di Timur juga, masalah front persatuan, saya pikir saya harus angkat bicara, atas nama Partai Komunis Jawa, untuk jutaan rakyat tertindas di Timur.

Saya harus mengajukan beberapa pertanyaan kepada kedua jenderal tersebut. Mungkin Jenderal Zinoviev tidak memikirkan mengenai sebuah front persatuan di Jawa; mungkin front persatuan kita adalah sesuatu yang berbeda. Tetapi keputusan dari Kongres Komunis Internasional Kedua secara praktis berarti bahwa kita harus membentuk sebuah front persatuan dengan kubu nasionalisme revolusioner.  Karena, seperti yang harus kita akui, pembentukan sebuah front bersatu juga perlu di negara kita, front persatuan kita tidak bisa dibentuk dengan kaum Sosial Demokrat  tetapi harus dengan kaum nasionalis revolusioner. Namun taktik yang digunakan oleh kaum nasionalis seringkali berbeda dengan taktik kita; sebagai contoh, taktik pemboikotan dan perjuangan pembebasan kaum Muslim, Pan-Islamisme. Dua hal inilah yang secara khusus saya pertimbangkan, sehingga saya bertanya begini. Pertama, apakah kita akan mendukung gerakan boikot atau tidak? Kedua, apakah kita akan mendukung Pan-Islamisme, ya atau tidak? Bila ya, seberapa jauh kita akan terlibat?

Metode boikot, harus saya akui, bukanlah sebuah metode Komunis, tapi hal itu adalah salah satu senjata paling tajam yang tersedia pada situasi penaklukan politik-militer di Timur. Dalam dua tahun terakhir kita telah menyaksikan keberhasilan aksi boikot rakyat Mesir 1919 melawan imperialisme Inggris, dan lagi boikot besar oleh Cina di akhir tahun 1919 dan awal tahun 1920. Gerakan boikot terbaru terjadi di India Inggris. Kita bisa melihat bahwa dalam beberapa tahun kedepan bentuk-bentuk pemboikotan lain akan digunakan di  timur. Kita tahu bahwa ini bukan metode kita; ini adalah sebuah metode borjuis kecil, satu metode kepunyaan kaum borjuis nasionalis. Lebih jauh kita bisa mengatakan; bahwa pemboikotan berarti dukungan terhadap kapitalisme domestik; tetapi kita juga telah menyaksikan bahwa setelah gerakan boikot di India, kini ada 1800 pemimpin yang dipenjara, bahwa pemboikotan telah membangkitkan sebuah atmosfer yang sangat revolusioner, dan gerakan boikot ini telah memaksa pemerintahan Inggris untuk meminta bantuan militer kepada Jepang, untuk menjaga-jaga kalau gerakan ini akan berkembang menjadi sebuah pemeberontakan bersenjata. Kita juga tahu bahwa para pemimpin  Mahommedan di India – Dr. Kirchief, Hasret Mahoni dan Ali bersaudara – pada kenyataannya adalah kaum nasionalis; kita tidak melihat sebuah pemberontakan ketika Gandhi dipenjara. Tapi rakyat di India sangat paham seperti halnya setiap kaum revolusioner disana: bahwa sebuah pemberontakan lokal hanya akan berahir dalam kekalahan, karena kita tidak punya senjata atau militer lainnya di sana, oleh karena itu masalah gerakan boikot akan, sekarang atau di hari depan, menjadi sebuah masalah yang mendesak bagi kita kaum Komunis. Baik di India maupun Jawa kita sadar bahwa banyak kaum Komunis yang cenderung ingin memproklamirkan sebuah gerakan boikot di Jawa, mungkin karena ide-ide Komunis yang berasal dari Rusia telah lama dilupakan, atau mungkin ada semacam pelepasan mood Komunis yang besar di India yang bisa menentang semua gerakan. Bagaimanapun juga kita dihadapkan pada pertanyaan: apakah kita akan mendukung taktik ini, ya atau tidak? Dan seberapa jauh kita akan mendukung?

Pan-Islamisme adalah sebuah sejarah yang panjang. Pertama saya akan berbicara tentang pengalaman kita di Hindia Belanda dimana kita telah bekerja sama dengan kaum Islamis. Di Jawa kita memiliki sebuah organisasi yang sangat besar dengan banyak petani yang sangat miskin, yaitu Sarekat Islam. Antara tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota, mungkin sebanyak tiga atau empat juta. Itu adalah sebuah gerakan popular yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner.

Hingga tahun 1921 kita berkolaborasi dengan mereka. Partai kita, terdiri dari 13,000 anggota, masuk ke pergerakan popular ini dan melakukan propaganda di dalamnya. Pada tahun 1921 kita berhasil membuat Sarekat Islam mengadopsi program kita. Sarekat Islam juga melakukan agitasii pedesaan mengenai kontrol pabrik-pabrik dan slogan: Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin, Semua kekuasaan untuk kaum proletar! Dengan demikian Sarekat Islam melakukan propaganda yang sama seperti Partai Komunis kita, hanya saja terkadang menggunakan nama yang berbeda.

Namun pada tahun 1921 sebuah perpecahan timbul karena kritik yang ceroboh terhadap kepemimpinan Sarekat Islam. Pemerintah melalui agen-agennya di Sarekat Islam mengeksploitasi perpecahan ini, dan juga mengeksploitasi keputusan Kongres Komunis Internasional Kedua: Perjuangan melawan Pan-Islamisme! Apa kata mereka kepada para petani jelata? Mereka bilang: Lihatlah, Komunis tidak hanya menginginkan perpecahan, mereka ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu berlebihan bagi seorang petani muslim. Sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tidak akan! Ini adalah cara seorang Muslim jelata berpikir. Para propagandis dari agen-agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasi ini dengan sangat baik. Jadi kita pecah. [Ketua: Waktu anda telah habis]

Saya datang dari Hindia Belanda, dan menempuh perjalanan selama empat puluh hari .[Tepuk Tangan]

Para anggota Sarekat Islam percaya pada propaganda kita dan tetap bersama kita di perut mereka, untuk menggunakan sebuah ekspresi yang popular, tetapi di hati mereka mereka masih bersama Sarekat Islam, dengan surga mereka. Karena surga adalah sesuatu yang tidak bisa kita berikan kepada mereka. Karena itulah, mereka memboikot pertemuan-peretemuan kita dan kita tidak bisa melanjutkan propaganda kita lagi.

Sejak awal tahun lalu kita telah bekerja untuk membangun kembali hubungan kita dengan Sarekat Islam. Pada kongres kami bulan Desember tahun lalu kita mengatakan bahwa Muslim di Kaukasus dan negara-negara lain, yang bekerjasama dengan Uni Soviet dan berjuang melawan kapitalisme internasional, memahami agama mereka dengan lebih baik, kami juga mengatakan bahwa, jika mereka ingin membuat sebuah propaganda mengenai agama mereka, mereka bisa melakukan ini, meskipun mereka tidak boleh melakukannya di dalam pertemuan-pertemuan tetapi di masjid-masjid.

Kami telah ditanya di pertemuan-pertemuan publik: Apakah Anda Muslim – ya atau tidak? Apakah Anda percaya pada Tuhan – ya atau tidak? Bagaimana kita menjawabnya? Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim [Tepuk Tangan Meriah], karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia! [Tepuk Tangan Meriah] Jadi kami telah mengantarkan sebuah kekalahan pada para pemimpin mereka dengan Qur’an di tangan kita, dan di kongres kami tahun lalu kami telah memaksa para pemimpin mereka, melalui anggota mereka sendiri, untuk bekerjasama dengan kami.

Ketika sebuah pemogokan umum terjadi pada bulan Maret tahun lalu, para pekerja Muslim membutuhkan kami, karena kami memiliki pekerja kereta api di bawah kepemimpinan kami. Para pemimpin Sarekat Islam berkata: Anda ingin bekerjasama dengan kami, jadi Anda harus menolong kami juga. Tentu saja kami mendatangi mereka, dan berkata: Ya, Tuhan Anda maha kuasa, tapi Dia telah mengatakan bahwa di dunia ini pekerja kereta api adalah lebih berkuasa! [Tepuk Tangan Meriah] Pekerja kereta api adalah komite eksekutif Tuhan di dunia ini. [Tertawa]

Tapi ini tidak menyelesaikan masalah kita, jika kita pecah lagi dengan mereka kita bisa yakin bahwa para agen pemerintah akan berada di sana lagi dengan argumen Pan-Islamisme mereka. Jadi masalah Pan-Islamisme adalah sebuah masalah yang sangat mendadak.

Tapi sekarang pertama-tama kita harus paham benar apa arti sesungguhnya dari kata Pan-Islamisme. Dulu, ini mempunyai sebuah makna historis dan berarti bahwa Islam harus menaklukkan seluruh dunia, pedang di tangan, dan ini harus dilakukan di bawah kepemimpinan seorang Khalifah [Pemimpin dari Negara Islam – Ed.], dan Sang Khalifah haruslah keturunan Arab. 400 tahun setelah meninggalnya Muhammad, kaum muslim terpisah menjadi tiga Negara besar dan oleh karena itu Perang Suci ini telah kehilangan arti pentingnya bagi semua dunia Islam. Hilang artinya bahwa, atas nama Tuhan, Khalifah dan agama Islam harus menaklukkan dunia, karena Khalifah Spanyol mengatakan, aku adalah benar-benar Khalifah sesungguhnya, aku harus membawa panji [Islam], dan Khalifah Mesir mengatakan hal yang sama, serta Khalifah Baghdad berkata, Aku adalah Khalifah yang sebenarnya, karena aku berasal dari suku Arab Quraish.

Jadi Pan-Islamisme tidak lagi memiliki arti sebenarnya, tapi kini dalam prakteknya memiliki sebuah arti yang benar-benar berbeda. Saat ini, Pan-Islamisme berarti perjuangan untuk pembebasan nasional, karena bagi kaum Muslim Islam adalah segalanya: tidak hanya agama, tetapi juga Negara, ekonomi, makanan, dan segalanya. Dengan demikian Pan-Islamisme saat ini berarti persaudaraan antar sesama Muslim, dan perjuangan kemerdakaan bukan hanya untuk Arab tetapi juga India, Jawa dan semua Muslim yang tertindas. Persaudaraan ini berarti perjuangan kemerdekaan praktis bukan hanya melawan kapitalisme Belanda, tapi juga kapitalisme Inggris, Perancis dan Itali, oleh karena itu melawan kapitalisme secara keseluruhan. Itulah arti Pan-Islamisme saat ini di Indonesia di antara rakyat kolonial yang tertindas, menurut propaganda rahasia mereka – perjuangan melawan semua kekuasaan imperialis di dunia.

Ini adalah sebuah tugas yang baru untuk kita. Seperti halnya kita ingin mendukung perjuangan nasional, kita juga ingin mendukung perjuangan kemerdekaan 250 juta Muslim yang sangat pemberani, yang hidup di bawah kekuasaaan imperialis. Karena itu saya tanya sekali lagi: haruskah kita mendukung Pan-Islamisme, dalam pengertian ini?

Saya akhiri pidato saya. [Tepuk Tangan Meriah]


Puisi| Stasiun Juanda

aku akan pulang, aku akan pulang
sementara malam terus merambat
hingga ke jantungku
kukenang segala yang bisa kukenang
kereta yang akan datang terlambat
membuatku belajar arti menunggu

kau pasti tengah menanak nasi,
menggoreng telur mata sapi
menantiku berbicara soal aksi,
deklarasi, dan kabar Jakarta
yang tak pernah baik- baik saja
masalah-masalah lebih dari air bah
orang datang mengharap hidup
lalu mati dan tak mendapat tanah
dan memilih dihanyutkan di kali
yang tak lagi penuh sabun dan pasta
Waktu tiada, sekarat yang tersisa
terhimpit bunyi klakson kendaraan
dan semua yang berebut Tuhan

Jakarta selalu lebih rumit dari perempuan

aku akan pulang, aku akan pulang
bersama sekawanan binatang pekerja
dan aku adalah binatangmu
dengan kerinduan dan berkasih-kasihan
mengenalkanku kembali pada kemanusiaan
yang menuntut anyir darah
dengan alasan penting maupun remeh
atau bahkan tak beralasan sama sekali
saat itulah dari kejauhan ada sebuah sinar
bak kesadaran yang diterima hawking muda
yang jatuh cinta pada seni semesta
penciptaan yang amat sederhana dan pasti
orang hidup lalu mati, orang makan lalu mati
orang terbang lalu mati, semua orang mati
aku juga akan pulang, aku juga akan mati

Puisi| Stasiun Manggarai

 

aku salah karena berpikir perempuan paling kejam
kau lebih kejam dari semua
karena berulang-ulang membuatku menunggu
berjanji tak akan lagi, namun kau ingkari pula
semua waktu yang sia-sia adalah omong kosong
kau bisa menyita 1/12 hidup seseorang
yang telah rapuh menahan rasa pulang
hanya untuk kau biarkan pergi setelah sesaat
berdamai dengan ketakutan akan tersesat
kau telah terlalu sombong
karena menjadi jantung dan tempat masuk
setiap arah dan setiap aliran darah
kata maaf yang kau ucap dari bibir jauh lebih hina
dari seorang pejabat sekalipun, yang suka seenaknya
menyebut satu per satu nama hewan
yang tidak lagi dikurung di kebun binatang
kata maaf yang tidak terasa tulus karena di belakangku
kau pegang pisau bernama kebinekaan
apalah artinya cinta tanpa kemerdekaan
apalah artinya kemerdekaan bila ada yang diistimewakan
hanya karena kau merasa sebagai jantung
yang dibutuhkan para penumpang
aku tak pernah benar-benar ingin jadi penumpang
yang terkurung dalam dingin perahu sarden
di sungai darah ini dan menujumu

Puisi| Air Mata

aku memahami kita belajar matematika
untuk menghitung nyawa demi nyawa
yang menghilang begitu saja seperti janji Tuhan
tak ada yang tahu: satu detik kemudian
atau bahkan seribu tahun yang Anwar inginkan
bumi akan berguncang dan terbelah
tercipta puluhan lubang, yang dalam dan panjang
segalanya terhisap, juga kenangan-kenangan
saat kali pertama belajar bersepeda bersama Ayah
duduk di beranda, menatap langit dan air mata
jatuh seperti tombak-tombak yang dilemparkan
saat setan ingin mencuri rahasia masa depan
air matamu adalah setan bagiku
yang menggoda seluruh iman untuk luruh
dan menghujat yang telah menciptakan segala
dan lupa bahwa tak ada yang pernah
benar-benar menjadi milik manusia
kekasih yang kucintai sepenuh aku juga
bisa dibolak-balik hatinya dengan mudah
tak ada pernah kata kebebasan seutuhnya
masa lalu, kini, dan apa yang akan terjadi nanti
adalah rantai yang saling terikat dan pasti
dan aku hanyalah sebuah boneka
yang dimainkan ventriloquist di atas panggung

(2016)

Menulis Sepi

Writing Residence. Dua kata ini menarik bagiku. Pada Mei 2016 lalu, aku terpilih mengikuti program residensi di ASEAN Writers Residence di Jakarta dalam rangkaian acara ASEAN Literary Festival 2016. Selama seminggu, aku berkumpul bersama 12 penulis dari negara-negara ASEAN dan Jepang dan banyak bertukar pikiran dengan mereka. Program residensi itu menumbuhkan berbagai perspektif baru dan aku menyukai itu.

Ketika membaca Asma Nadia ingin membuka writing residence, aku langsung tertarik. Apalagi dalam informasi itu disebutkan untuk penulis yang berada di Jakarta dapat memilih daerah yang menjadi tujuan. Ada satu tempat yang ingin benar-benar kukunjungi. Tempat ini sudah sejak lama memantik rasa penasaranku. Ia berada di suatu tempat di Nusa Tenggara Timur. Aku pernah satu kali ke NTT, ke Alor. Dan faktor pertama yang unik dari NTT adalah kerukunan umat beragamanya. Panitia MTQ bisa bukan beragama Islam. Sebaliknya, muslim juga bisa terlibat melindungi kegiatan yang berkaitan dengan gereja. Terkenang ucapan seorang yang menemaniku saat ke Alor, Osvo namanya. Ia berkata, bagi mereka bela di atas segalanya. Bela/darah adalah identitas. Selama satu bela, mereka akan saling menjaga.

Namun, bukan Alor yang ingin kukunjungi. Melainkan Mollo. 180 km dari Kupang.

Kenapa Mollo?

Aku punya seorang teman di Mollo. Namanya Christian Dicky Senda. Dia seorang cerpenis. Cerpen-cerpennya selalu bercerita tentang kearifan lokal di Mollo, juga masalah-masalah kemanusian yang terjadi di sana.

Sebagai seorang yang terlahir di Barat (Sumatra), dunia Timur terasa begitu berbeda. Aku ingin sekali menjejakkan kaki ke sana dan mengenali udaranya. Aku ingin mendapatkan perspektif baru mengenai keIndonesiaan yang lebih utuh dari sebelumnya.

Bila sampai di Mollo, hal pertama yang ingin kulakukan adalah mengeksplor pasar tradisional di Kapan, ibu kota kecamatan Mollo Utara. Di sana akan ditemukan banyak sekali produk pertanian organik dari warga termasuk beberapa bahan pangan yang sudah hampir jarang ditemukan di pasar-pasar di perkotaan. Kemudian treking ke beberapa kampung di sekitar desa Tafetob, bertemu dengan para penenun di desa Bosen, berinteraksi dengan petani jeruk dan sirih di Lelokasen. Atau kalau masih tersisa tenaga, aku mau treking yang lebih jauh dan menantang ke kampung Manesat Anin sejauh 12 km pergi pulang menyusuri sungai Sebau yang air jernihnya mengalir dari gunung Mutis menuju pantai selatan Timor. Di Manesat Anin aku bisa mengunjungi kebun warga, panen ubi dan sayuran, belajar bikin jagung bose hingga memasak bersama warga setempat. Ada beberapa menu spesial seperti jagung bose, singkong kuning rebus dan ubi kapuk bakar yang semuanya bisa dinikmati dengan ayam bakar dan sambal lu’at bunga gala-gala (kembang turi).

Mendadak saya terkenang ucapan Budi Darma. Masalah kebanyakan penulis adalah ketidakmampuan dalam mengenali apalagi mendalami masalah. Sastra hadir sebenarnya untuk mengangkat masalah itu ke permukaan, mengubahnya menjadi bentuk seni yang dapat dinikmati atau membuat pembaca ngeh bahwa benar ada masalah seperti ini. Ia bisa juga bisa ditampilkan dalam bentuk yang menghibur, masalah tidak ditulis gambling dan “disembunyikan” di dalam cerita.

Ketidakmampuan mengenali masalah terjadi selain karena kurangnya pembacaan terhadap literatur, salah satunya, adalah adanya jarak antara penulis dengan objek yang ia tulis. Penulis kebanyakan hanya mengira-ngira dari pembacaan yang singkat, atau dalam bahasa lain, penulis kurang melakukan riset. Karena itu, penulis perlu terjun langsung dan berinteraksi dengan objek yang ingin ditulisnya.

Kenapa Mollo—saya anggap Mollo merepresentasikan manusia yang belum banyak terpapar modernisme. Pada titik ini sebenarnya saya mempertanyakan kemanusiaan saya sendiri. Apakah hidup di kota, dengan tetek bengek kehidupan modern telah menggerus banyak hal dari dalam diri saya pribadi? Dan kenapa Mollo—sesampainya di sana, saya akan punya seorang teman yang akan mendampingi saya menemukan jawaban atas kegundahan hati.

Bukan berarti hanya, saya akan menulis mengenai Mollo. Tetapi, saya ingin berangkat dari Mollo untuk menuju sebuah gambaran apa sih manusia itu, dan bagaimana kemudian manusia yang saya pahami itu akan menjadi homo fictus di dalam karya saya.

Aa Gym di Tengah Massa

aa gym yang tegas dans antun
aa gym yang tegas dan santun

Satu hal yang membuat saya bertanya-tanya, makna apa yang ada di balik kehadiran Aa Gym dalam aksi damai. Sejauh saya memperhatikan beliau, beliau bukanlah orang yang suka ikut-ikutan, bukanlah seseorang yang bertindak tanpa pemikiran dan pertimbangan yang matang. Aa Gym adalah tipe orang yang tulus, pintar, dan tidak mudah ditunggangi kepentingan yang sifatnya pragmatis.

Bagi saya pribadi, Aa Gym, selain sebagai pribadi, juga memiliki peran sebagai simbol. Saya masih ingat sosoknya adalah sosok yang diterima berbagai kalangan. Ia dihormati dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam pergerakan. Ketika Aa Gym masih eksis di media massa, berjuta-juta orang bisa rela datang untuk mendengarkan beliau.

Di luar yang ditampilkan di media, Aa Gym punya sisi berbeda. Beliau begitu tegas. Ketika saya masih nyantri di Darut Tauhid, saya merasakan sendiri karisma itu. Beliau memahami geo politik. Paham betul ancaman-ancaman terhadap agama dan bangsa, dan karena itulah di luar santri DT, ia juga menyiapkan Santri Siap Guna yang tiap tahunnya diikuti ribuan santri. Saya sendiri masuk ke dalam angkatan ke-12.

Ketika Aa Gym ikut aksi massa, pesan apa yang hendak disampaikan beliau sebagai simbol?

Saya kemudian termasuk yang menyimak hampir semua ucapan beliau secara kronologis dalam perihal kasus Gubernur kota J. Dan menjadi sebuah simpulan, pesan itu adalah momentum persatuan umat.

Entah sudah berapa tahun, pertelevisian kita diinvasi acara yang remeh. Ustad-ustadnya nyeleb. Beritanya dikaburkan ke sana-ke mari. Arus kehidupan di televisian pun seperti sebuah efek samping produk bernama kapitalisme dan liberalisme. Segalanya hanya demi pasar.

Individualisme merebak. Beda pandangan sedikit dibilang baper. Perang terjadi di media sosial. Ga setuju gua remove. Blokir. Beda, ga temenan. Kira-kira begitu yang terjadi. Dan pandangan terhadap agama menjadi sangat sempit. Orang-orang mulai banyak berpikir agama seharusnya tetap berada di ruang privat, tidak boleh ada di ruang publik. Sekulerisme adalah buah otomatis dari liberalisme.

Aksi pertama yang dilakukan FPI kurang mendapat simpati publik. Belum lagi pendiskretan media bernama Metro Tipu yang banyak menyoroti sisi negatifnya membuat citra Islam dan muslim bisa semakin luntur.

Citra itu tidak boleh jatuh lagi. Aa Gym pun merasa harus hadir di sana.

Di mana posisi Aa waktu itu? Di belakang, bersama santrinya, ia memegang peran sebagai koordinator kebersihan. Keputusan Aa Gym untuk datang itu mungkin tidak pernah disangka-sangka oleh pihak seberang karena selama ini Aa Gym tidak tampak sekeras Habib Rizq. Tak membesar-besarkan peran Aa Gym, saya yakin sekali umat Islam yang tadinya masih ngambang pun banyak yang menjadi yakin untuk ikut serta.

Hal itu pun ditandai dengan munculnya Aa Gym di Hitam Putih. Terima kasih kepada Deddy Corbuzier. Pernyataan Aa di sana adalah pernyataan yang sangat cerdas dan tepat:

Gubernur J ditakdirkan terlahir beretnis Tionghoa, itu sudah takdirnya. Kita nggak boleh menghina hal itu. Gubernur J beragama Kristen, itu pilihannya. Biarlah nanti beliau mempertanggungjawabkannya ke Tuhan. Tapi, Gubernur J tidak seharusnya berkomentar yang bukan ranahnya. Itu offside.

Kecemerlangan beliau dilanjutkan dalam ILC bakda aksi. Mendapat giliran terakhir, orang terkesima dengan paparan Aa Gym. Beliau tidak takut nyentil Kapolri dan Presiden, dengan sangat halus… killing me softly.

Setelah itu, ad hominem bertebaran di mana-mana. Aa Gym pun mulai menuai serangan siber. Beberapa mengungkit-ungkit soal poligaminya, beberapa menyebut aa dapat panggung lagi, macam-macamlah.

Di sinilah, orang baru mulai sadar bahwa seorang Aa Gym lebih menakutkan ketimbang FPI. Saya sudah lama paham bahwa Aa Gym adalah orang yang cerdik. Sebagai simbol, Aa adalah katalis.

Katalis itu diperlihatkan sekali lagi dalam Aksi Damai 2 Desember lalu. Salah satu penyesalan saya adalah nggak ikut datang dan hanya bisa menyimak via Youtube. Aa mengatakan lebih kurang:

Berbeda boleh, marah jangan. Marah tidak sama dengan tegas dan santun. Kalau marah semuanya serba tidak jelas, sedangkan tegas segalanya didasarkan aturan.

Di sini Aa Gym juga mengingkatkan sesama muslim untuk tidak ikut berperilaku sama buruknya dengan orang yang buruk, karena menjadi tidak ada bedanya. Aa Gym juga bilang tentang untuk melihat persamaannya terlebih dahulu ketimbang perbedaan dari segala sesuatu.

Terakhir beliau berkata tentang air. Air lembut, tapi punya kekuatan. Air lembut, tapi bisa menyatukan segala adukan bahan bangunan menjadi bangunan yang kokoh. Maka, jadilah air.

Saya yakin sekali hari ini Aa Gym lebih ditakuti dari pada Habib Rizq oleh orang-orang yang tidak suka Islam, karena beliau tidak pemarah, dan beliau membuat massa mengambang tidak menjadi ragu lagi.

Politik? Tentu dalam arti luas, segala hal adalah politik. Kalau ada aktor partai politik yang ingin menunggangi umat Islam, tinggal kita berpikir seperti agent, siapa memanfaatkan siapa… Biarkanlah mereka berpikir kita bisa ditunggangi, tapi padahal kuda ini bergerak sesuai fitrahnya sendiri, tanpa dikendalikan.

PS:

Setiap kali membaca ada orang menghina Aa Gym saya seperti ingin marah, tapi ingat ucapan beliau, teko hanya mengeluarkan isinya. Dan juga galau ketika yang menghina Aa Gym berada di lingkaran saya… tapi tak jadi marah. Barangkali itu tanda, ketika saya memiliki lingkungan yang masih menghina orang lain… berarti karakter saya aslinya sebenarnya tak jauh lebih baik dari mereka.