Tiga Sebab Tax Amnesty “Berhasil”

img-20160929-wa0004

Program Tax Amnesty untuk harga tebusan termurah sudah menemu ujungnya hari ini. Program yang diluncurkan sebagai salah satu solusi jangka pendek untuk mendapatkan dana segar penerimaan negara itu berjalan di luar dugaan.

Sejumlah pihak, baik dari dalam maupun luar negeri sempat meragukan program Tax Amnesty ini. Dari dalam negeri, BI bahkan sempat memprediksikan bahwa dana tebusan yang akan didapatkan hanya berkisar belasan triliun. Pengamat asing pun pesimis dengan program ini melihat program Tax Amnesty di beberapa negara menemui kegagalan. Apalagi jika melihat upaya yang dilakukan oleh Singapura dan Australia dalam menghalangi uang keluar dari negaranya. Singapura yang menerapkan Corporate Tax terendah 17% bahkan sebenarnya hanya menerapkan tarif 8,4% nett melakukan upaya-upaya untuk menggagalkan Tax Amnesty mulai dari membebaskan pajak sampai mengancam agar menyelidiki orang-orang yang ikut Tax Amnesty ini. Dan sejumlah cara lain yang mencegah repatriasi dana.

Repatriasi memang lebih memiliki efek untuk perekonomian jangka panjang. Masuknya dana repatriasi itu akan digunakan untuk investasi dan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Pergerakan Tax Amnesty di bulan September memang diprediksi menjadi puncak karena pada bulan-bulan sebelumnya perusahaan sedang sibuk menghitung cost benefitnya. Wajib pajak perlu waktu untuk mengambil keputusan. Namun, hari ini, uang tebusan yang masuk telah mencapai 80 T! (Sumber)

Setidaknya ada 3 hal yang menyebabkan Tax Amnesty bisa dikatakan berhasil itu:

  1. Faktor Sri Mulyani

Kembalinya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan disambut positif oleh pasar. IHSG Menguat, nilai tukar pun menguat. Kepercayaan publik terhadap pemerintah Indonesia juga menguat.

Sampai awal September, dana tebusan yang masuk sebenarnya tidak menggembirakan. Faktor negara lain yang menghalang-halangi itu menjadi salah satu faktor terbesar. Sejumlah langkah pun telah disiapkan bila Tax Amnesty ini gagal. Postur APBN dijaga agar tetap realistis. Ada pemotongan anggaran. Ada anjuran self-blocking. Kerangka defisit harus di bawah angka 3% sesuai amanat UU pun jadi ancang-ancang.

Kemudian, ya, salah satu wanita paling berpengaruh di dunia itu mengambil langkah besar. Sri Mulyani dikabarkan menelepon Singapura. SMI menelepon Deputi Prime Minister Singapura. Entah apa yang dibicarakannya, setelah telepon itu (dan usaha-usaha lain yang mengajak langsung para pengusaha), keikutsertaan Tax Amnesty menjadi seperti air bah. Deras sekali.

2. Peran Perbankan

Peran bank-bank dalam menyosialisasikan Tax Amnesty ini begitu beragam dan sangat menarik. Perbankan memang memiliki kepentingan terhadap Tax Amnesty. Bayangkan dana segar yang masuk ke Indonesia melalui bank-bank itu adalah berkah buat mereka. Jadinya, mereka juga sangat kreatif dan berebut perhatian dari para wajib pajak dalam mengampanyekan Tax Amnesty.

3. Perubahan Sikap Ditjen Pajak

Di awal, Tax Amnesty menuai banyak kritik dari sisi pelaksanaannya. Di lapangan terdapat banyak keluhan gaya sosialisasi yang seperti ancaman kepada wajib pajak. Di Kompasiana bahkan soal kesalahan branding yang dilakukan beberapa kali menjadi headline. Hal ini dengan cepat melahirkan antipati yang harus segera diatasi oleh pemerintah.

Untungnya, Ditjen Pajak menyadari hal itu. Tax Amnesty adalah hak. Bukan kewajiban. Dengan pernyataan itu, aparatur sipil negara DJP kemudian merealisasikan bahwa sebagai hak, maka ada pelayanan terhadap hak. Momentumnya adalah penambahan jam pelayanan Tax Amnesty, baik itu penambahan jam kerja dan penerimaan pelayanan bukan di hari kerja.

Soal jam pelayanan ini adalah bahasa terbaik yang dimiliki DJP. Ini menegaskan konsep NPS, New Public Service. Pemerintah adalah pelayan masyarakat. Pemerintah yang butuh Tax Amnesty ini berhasil. Karena itu, tak ada salahnya pemerintah meletakkan tangannya di bawah kepada CEO Republik Indonesia, yakni rakyat.

Akhir kata, keberhasilan Tax Amnesty ini perlu disukseskan. Tahap 1 berakhir hari ini. Dan masih ada tahap selanjutnya dengan kenaikan tarif tebusan. Tidak tinggi. Semoga saja antusiasme itu tetap terjaga dan pada tahun ini khususnya, kita bisa terbebas dari ancaman cash flow shortage yang sempat begitu menghantui.

 

Puisi Pringadi Abdi Surya: Menu Asing dan Puisi Lainnya

Menu Asing

 

kita adalah sepasang kekasih

tetapi tak pernah saling menggenggam

bertemu hanya untuk duduk, melihat menu

memesan makan malam

tetapi tak juga saling bertatapan

yang kutahu kau hanya tertunduk, dan kudengar sebuah isakan

aku menanyakan siapa yang telah berani

membuatmu menangis

lewat sebaris kalimat di dalam pesan singkat

kau menjawab pengetahuan

juga tuhan yang ternyata mahatahu

termasuk sejak kali pertama bertemu

menjalin hubungan hingga menu apa

yang akan kita pesan, apa yang akan terjadi kemudian

dari kuncup bunga hingga gugur kelopak terakhir milik mata

segala telah ditentukan

untuk apa lagi percakapan, perdebatan, kecupan, dekapan

kalau itu tak dapat mengubah sesuatu

aku juga ingin menangis

tetapi pria tak seperti perempuan

ada banyak hal yang lebih berkecamuk

bangsa, negara, itu nanti saja

apalagi tuhan dan pengetahuan

aku lihat daftar menu, sebelah kanan terlebih dahulu

lalu teringat bulan yang hampir mati

hanya ada air putih di kepala

dengan es yang cukup untuk mengguyurnya

seperti tantangan dari orang ternama

apa besok kita dapat hidup atau mati sepele

tersedak, ada bom, atau meteor jatuh

pulang dari sini kecelakaan lalu lintas, terlindas

waktu

bicara atau diam, waktu tidak peduli

kita adalah sepasang kekasih, waktu juga

tidak peduli kita tidak pernah saling menggenggam waktu

apakah peduli

tuhan,

apakah maha peduli?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku Berutang Padamu Satu Jalan Pulang

 

aku bertamu padamu di desember itu

membawa bunga tulip

lambang depresi besar yang kini kembali

mengenalkan dirinya sebagai khidir

 

di perjalanan aku terjebak kemacetan

bukan hanya dadaku yang lalu lintas

perasaan mengenaimu yang selalu bebas

 

ketika kubuka jendela sedikit, udara

berbau sakit, apa yang marah di mata

mereka membakar ban, menelan korban

seolah menang sebelum mengapikan tuhan

 

desember yang kukenang tidak mengenal

darah hitam kental

 

desember yang kukenang adalah

royal opera dibuka di taman covent dan

pietro mascagni tak bermain di sana

 

tapi pemuda itu, yang percaya ibrahim

mempertontonkan alusi namrud di istana

 

aku tidak pernah sampai ke rumahmu

pada desember itu, bunga-bunga tulip

membumbung tinggi ke langit

menjadi balon-balon sabun

 

siapa percaya, balon-balon sabun itu

bisa meletus kapan saja

siapa menyangka, berkat itu

aku berutang padamu sebuah jalan pulang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuan Reynold dan Soal Lidah Orang Indonesia

 

agaknya ini hanya masalah lidah, orang indonesia
lebih suka memakan ikan yang terlalu matang
bila perlu digoreng hingga kering kerontang, hingga
tulang terasa renyah dan hancur
tentu saja, bukan demi alasan kalsium
seperti yang dimiliki ikan teri, bilis, lais dan seluang
segala yang muda tampak tidak lebih terpercaya
segala yang ranum hanya untuk ibu hamil yang mengidam
maka kepantasan untuk menikah pun ditentukan usianya
seperempat abad adalah usia yang pas
padahal chairil mati di usia dua puluh enam,
soe hok gie juga meninggal di usia yang sama
apa yang bisa dirasakan dalam satu tahun perkawinan
kalau tuhan menakdirkan panjang usia tak berbeda
cara memasak ikan pada satu sisi tidak akan cukup
untuk lidah orang indonesia
sebab tidak cuma ikan, semua hal dapat dibolak-balik
dalam berita dan perkataan
misalnya, pemerintah indonesia berhasil membuat perjanjian
dengan freeport, tentu ini akan lain maknanya
jika dikatakan freeportlah yang berhasil menekan perikatan
sebagai rakyat dan penonton, tentu kita kecewa
tuan reynold yang mahir dan mempesona harus tereliminasi
rasanya seperti calon presiden yang kita pilih kalah
jodoh yang kita idam-idamkan dibawa kabur orang
atau yang sepele, sulit buang air karena kena tipus
negara yang memiliki wilayah laut yang luas ini
seharusnya tidak kesulitan menemukan pemasak ikan
mau dibakar, digoreng, diasap atau digangan sekalian
segala rasa, aroma rempah, tidak ada masalah
hanya agaknya ini memang masalah lidah
orang indonesia lebih suka ikan yang terlalu matang
orang indonesia lebih suka lagi makan roti

 

 

 

 

 

 

 

 

Membelikan Es Krim

 

aku akan membelikannya es krim setiap aku pulang ke rumah

aku tak ingin ia menyadari ada leleh yang lain

setiap kulihat dirinya, kerinduan mengamuk bagai banteng

ingin menyeruduk setiap benda yang berwarna merah

ia suka rasa vanila, dengan begitu, hatiku seperti bendera

kuperhatikan dengan seksama, detik demi detik yang ada

aku telah menjadi seorang ayah, dan suatu hari ia akan dewasa

menjadi seorang gadis yang memakai rok, memegang buku

dan menatapku dengan kenangan pertemuan di akhir pekan

aku selamanya menjadi pacarnya, cinta pertamanya

dengan segala kelemahan dan luputnya perhatian

sampai kubayangkan lelaki lain akan merampasnya dari pelukanku

ia akan duduk di pelaminan, memakai gaun, bunga-bunga

aku tidak tahu harus menghadiahi apa

aku akan memberikannya es krim, seperti setiap minggu

aku pulang ke rumah dan ia akan memelukku

kemudian ia akan memburu, tak membiarkan es krim itu meleleh

kemudian ia juga tak akan tahu, hatiku juga tengah meleleh

 

 

 

 

 

Sebelum 1998

 

Yang diingatnya dari bangku sekolah hanyalah

papan tulis yang bisu. Setiap pertanyaan dari gurunya,

ia takut mengangkat tangan seperti ada beban masa

lalu—ketakutan-ketakutan dikuntit dalam perjalanan

pulang ke rumah. Ia tidak pernah bertanya apalagi

menjawab. Ia bukan takut jawabannya salah. Bukan pula

takut jika pertanyaannya tidak bermutu. Hanya

papan tulis yang diingatnya itu bisu,

apa aku

punya hak berbicara? Di laci meja, ia menyembunyikan

tas dan kedua telapak tangannya. Ia tahu

di laci meja yang lain, bibir-bibir siswa yang sudah

lulus sekolah bersembunyi dan meringkuk,

sesekali berbisik—mengutuk-ngutuk Tuhannya sendiri.

 

 

 

 

 

 

Lomba Menulis Puisi “Sail Cimanuk”

 Bagi Anda yang menyukai dengan dunia tulis menulis terutama karya sastra berupa puisi, ada kabar gembira bagi Anda karena ada lomba menulis puisi tahun ini dengan judul “Sail Puisi Cimanuk” yang diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan HUT (Hari Ulang Tahun) Kabupaten Indramayu ke 489.

Tema kegiatan tahun ini adalah “Sungai Cimanuk Sebagai Sumber Kehidupan”. Hadiahnya tidak tanggung-tanggung dengan total hadiah sebesar Rp. 12.000.000. Penasaran dengan lomba ini berikut syarat dan ketentuannya :

Lomba Menulis Puisi

Tingkat Nasional
“sail puisi cimanuk”
Tema: “Sungai Cimanuk sebagai Sumber Kehidupan”
Berhadiah Total Rp 12 Juta

Persyaratan Peserta
1)    Terbuka untuk seluruh penyair atau penulis puisi se-Indonesia, baik yang berdomisili di dalam negeri maupun luar negeri;
2)    Peserta tidak dibatasi usia;
3)    Peserta tidak dipungut biaya;
4)    Peserta mengirimkan 1 (satu) puisi bertema “Sungai Cimanuk sebagai Sumber Kehidupan”;
5)    Peserta wajib mengirimkan 3 (tiga) puisi sebagai pendamping, bertema bebas, dan tidak harus baru;
6)    Puisi yang diikutsertakan adalah karya sendiri, bukan plagiat ataupun saduran;
7)    Puisi tidak mengandung asusila, pornografi, kekerasan berlebihan, tidak menghina atau melecehkan keyakinan dan ras tertentu.
8)    Peserta wajib menuliskan biodata singkat (disertai alamat rumah, nomor kontak telepon yang bisa dihubungi, dan email);

Pengiriman Puisi
1)    Puisidan biodata bisa dikirimkan ke email sailpuisi.cimanuk@gmail.com
2)    Puisi dan biodata bisa pula dikirim lewat pos / langsung  ke Panitia Lomba Menulis Puisi 2016 Tingkat Nasional, Gedung Dewan Kesenian Indramayu (DKI), Jalan R.A. Kartini No. 1 Indramayu, Jawa Barat, pukul 09.00 – 17.00;
3)    Pengiriman paling lambat tanggal 7 Oktober 2016 pukul 24.00.

Puisi Terpilih dan Pemenang

1)    Dewan Juri menentukan 100 (seratus) puisi terpilih, yang masuk dalam buku antologi;
2)    Dewan Juri juga menentukan 6 (enam) puisi pemenang di antara 100 (seratus) puisi terpilih tersebut;
3)    Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu-gugat;
4)    Penerbitan atas 100 puisi terpilih tersebut menjadi hak Panitia;
5)    Penyair yang puisinya terpilih akan mendapatkan 3 (tiga) eksemplar buku antologi puisi, dan akan dikirimkan melalui pos ke alamat masing-masing.

Penghargaan
1)    Hadiah total untuk para pemenang sebesar Rp 12.000.000,00 (dua belas juta rupiah). Masing-masing untuk:
–    Terbaik Pertama: Piagam, Trophi, dan Uang Apresiasi Rp 4.000.000,-
–    Terbaik Kedua: Piagam, Trophi, dan Uang Apresiasi Rp 3.000.000,-
–    Terbaik Ketiga: Piagam, Trophi, dan Uang Apresiasi Rp 2.000.000,-
–    Terbaik Harapan Pertama: Piagam, Trophi, dan Uang Apresiasi Rp 1.000.000,-
–    Terbaik Harapan Kedua: Piagam, Trophi, dan Uang Apresiasi Rp 1.000.000,-
–    Terbaik Harapan Ketiga: Piagam, Trophi, dan Uang Apresiasi Rp 1.000.000,-
2.    Penganugerahan puisi terbaik akan dilakukan dalam “Malam Puisi Cimanuk” pada tanggal yang ditentukan kemudian di Panggung “Bale Kambang” Sungai Cimanuk, Indramayu;
3.    Di antara puisi-puisi yang masuk dalam antologi akan dibacakan dalam acara “Malam Puisi Cimanuk” oleh para aktor, deklamator, ataupun pembaca puisi terkenal.

Dewan Juri
Dewan Juri terdiri dari para penyair dan akademisi, yakni:
1)    Hamdi Salad
2)    Kijoen
3)    Raudal Tanjung Banua

Wahabi? Tidak Pernah Ada Wahabi!

Apa dan siapa Wahabi itu? Tanyakanlah pada sejumlah orang dan minta mereka menunjuk satu kelompok yang layak menyandang nama Wahabi.

Sampai hari ini, saya menganggap Wahabi adalah ilusi semata. Tidak pernah ada Wahabi. Dan perasaan ini ternyata didukung oleh Karen Armstrong. Karen Armstrong adalah seorang penulis buku yang isinya berfokus pada permasalahan teologi. Dia pernah dekat sangat gereja dan memutuskan untuk tidak beragama karena menurutnya, Tuhan yang dikenal manusia saat ini adalah bagian dari sejarah manusia. Hal itu bisa dilihat dalam bukunya Sejarah Tuhan maupun Masa Depan Tuhan.

Karen Armstrong bilang, Wahabi hanyalah sebuah sebutan. Sebutan ini disebutkan orang-orang saat itu kepada kelompok muslim yang tidak mereka sukai. Wahabi juga dikaitkan dengan fundamentalisme. Bagaimana pandangan Karen Armstrong pada fundamentalisme agama sila dibaca bukunya ya.

Apakah Wahabi adalah Arab Saudi?

Arab Saudi sering disebut sebagai negaranya Wahabi. Sebelumnya, kita kudu tarik diri ke masa lalu.

Ada salah satu kisah Rasulullah yang fenomenal. Yakni ketika terjadi perebutan untuk meletakkan batu hajar aswad ke Kakbah. Muhammad (belum menjadi Rasul) saat itu mengajukan solusi yang brilian untuk meletakkan batu tersebut di atas sorban. Kemudian para pemimpin kaum memegang sorban itu, dan mengoperkannya satu sama lain sampai ke Kakbah.

Kakbah sebagai kiblat umat Islam sudah sangat penting pada masa itu dan menjadi perebutan kaum di seluruh semenanjung Arab.

Singkat cerita, setelah Islam mengalami kemajuan, Kakbah berada dalam penguasaan Utsmani. Dinasti Utsmani pada saat itu memegang kuasa dan dalam sebuah literatur terjadi pergeseran makna Islam dalam pemerintahan. Pemerintahan saat itu disebut glamour dan berorientasi harta dan jauh dari nilai-nilai Islam.

Lalu muncullah seorang tokoh, mufti, bernama Muhammad bin Abdul Wahhab. Beliau menjabat sebagai muftinya Kerajaan Saud di wilayah Najd, mungkin sekitar Qatar.

Melihat hal itu, beliau menyeru untuk membersihkan kakbah dari nilai-nilai yang tak Islami. Di sisi lain, kalau kita melihat psikologi kaum sejak zaman dahulu, maka ada kepentingan politik untuk merebut kekuasaan. Dengan mengusir Utsmani dari kakbah, maka kakbah akan beralih penguasaannya ke tangan Saud. Penguasaan kakbah akan melahirkan legitimasi kepada penguasanya.

Apakah Wahabi ini adalah nama pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab? Jawabannya TIDAK.

Gerakan yang dipimpin Muhammad bin Abdul Wahhab ini tidak pernah menyebut diri mereka Wahabi. Mereka lebih dikenal dengan nama Salafy. Salafy ini merujuk ke generasi salafus soleh atau sahabat yang paling dekat dengan Muhammad. Praktik ibadah seharusnya mengikuti pada masa-masa itu karena merekalah yang paling dekat dengan Muhammad. Ajaran tauhidlah yang diutamakan dalam gerakan ini.

Tentu, Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah orang sembarangan. Tak mungkin ia punya pengaruh yang besar sehingga banyak yang mengikuti beliau bila tidak punya keistimewaaan. Sejarah masa muda Muhammad bin Abdul Wahhab bisa teman-teman cari sendiri ya. Salah satunya disebutkan bahwa beliau sama sekali tak menyukai pertumpahan darah.

Gerakan ini kemudian menang. Dinasti Saud sampai sekarang berkuasa (makanya dinamakan Saudi Arabia), tetapi muftinya tidak selalu dari keluarga Abdul Wahhab.

Apakah istilah Wahabi sudah ada sebelum gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab?

Coba kita tanyakan ke teman-teman Salafy, siapa dan apa Wahabi? Mereka akan menjawab Khawarij. Salafy sama sekali menolak disebut Wahabi. Dan Salafy pun menyebut adanya Salafy gadungan yang ikut memakai salafy identitas.

Khawarij dalam sejarah dunia Islam sangatlah kelam. Hal ini bermula dari kematian Utsman bin Affan. Kematian Utsman ini didalangi oleh kelompok Khawarij.

Ali bin Abi Thalib menggantikan Utsman bin Affan sebagai khalifah. Di sisi lain, Muawiyah yang juga kerabat dari Utsman meminta keadilan kepada Ali untuk menghabisi semua yang ada sangkut-pautnya dengan Khawarij. Namun, Ali menolak. Menurut Ali, yang harus dihakimi adalah orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan Utsman saja, bukan seluruh kelompok. Atas itu, terjadilah perpecahan antara Muawiyah dan Ali. Di sinilah mengerucutnya perseteruan Syiah yang mendukung Ali dan Muawiyah yang dianggap merepresentasikan Sunni dalam Perang Siffin.

Apa dinyana, singkat cerita, ternyata Khawarij mencoba membunuh Ali dan Muawiyah diam-diam. Rencana pembunuhan terhadap Ali berhasil sementara Muawiyah gagal. Kegagalan ini dimanfaatkan oleh Muawiyah dengan menghabisi Khawarij setelah itu.

Dalam beberapa literatur lain, ada yang menyamakan Khawarij dengan Salafy. Ini logikanya ke mana? Muawiyah oleh Salafy dianggap salah satu sahabat Rasulullah dan ia menumpas Khawarij. Bagaimana rumusnya A suka B, B tidak suka C, A tidak suka C, lalu A adalah C?

Apakah Khawarij musnah? Penyebutan Khawarij, dibanding sebuah kelompok, telah bertransformasi menjadi pemikiran atau bahkan ideologi. Ciri utamanya, mereka tidak segan membunuh sesama muslim.

Dari cerita ini, sebenarnya saya ingin bilang bahwa motif politik sangat kental. Kalau ada yang kembali menyebut Wahabi, langsung saja cermati motifnya.

Meski dalam cerita yang belum diceritakan di sini ada riak-riak lain dalam Dinasti Muawiyah sehingga Syiah sebagai entitas politik (bukan aliran ya) sangat membenci Sunni, atau ulah-ulah Syiah sendiri yang membuat garis batas antara Sunni-Syiah semakin melebar. Begitu juga dalam Saudi Arabia, bila kita lihat awalnya gerakan pembaharu itu untuk memurnikan Kakbah dengan nilai-nilai Islam, bagaimana sekarang?

Lalu bagaimana di Indonesia? Siapa Wahabi? Netizen suka menyebut PKS itu wahabi, FPI itu wahabi, atau salafy itu wahabi. Padahal PKS yang akarnya Ikhwanul Muslimin juga berseberangan dengan Salafy. Jadi balik lagi ke pernyataan Karen Armstrong, siapa kelompok yang tidak kita sukai… maka itulah yang kita sebut wahabi.

Jadi, siapa wahabimu?

Terjemahan Charles Bukowski dan Henry Wadsworth Longfellow

And The Moon And The Stars And The World

Charles Bukowski

 

Long walks at night–
that’s what good for the soul:
peeking into windows
watching tired housewives
trying to fight off
their beer-maddened husbands.

 

Dan Bulan dan Bintang dan Dunia

karya Charles Bukowski

 

Perjalanan panjang di malam hari–

sungguh baik buat jiwa:

melongok melalui jendela

menyaksikan ibu rumah tangga kelelahan

mencoba menyingkirkan

suami-suami yang mabuk dan gila

 

 

 

 

Anak Panah dan Lagu

Henry Wadsworth Longfellow

aku melepaskan anak panah ke udara

ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana;

begitu cepat ia melesat, pandangan mataku

tak dapat mengikuti arah lesatannya.

aku menghembuskan lagu ke udara,

juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana;

siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat,

sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?

lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak

aku menemukan anak panah, belum patah

juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai

aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.

The Arrow and the Song

Henry Wadsworth Longfellow

 

I shot an arrow into the air,

It fell to earth, I knew not where;

For, so swiftly it flew, the sight

Could not follow it in its flight.

 

I breathed a song into the air,

It fell to earth, I knew not where;

For who has sight so keen and strong,

That it can follow the flight of song?

 

Long, long afterward, in an oak

I found the arrow, still unbroke;

And the song, from beginning to end,

I found again in the heart of a friend.

 

(diterjemahkan oleh Pringadi Abdi Surya)

Sajak Subagio Sastrowardoyo

Sajak Subagio Sastrowardoyo

 subagio-sastrowardoyo-quotes-2

Kampung

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena hawa di sini sudah pengap oleh
pikiran-pikiran beku.

Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
di mana setiap orang ingin bikin peraturan
mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan
daftar diri di kemantren.

Di mana setiap orang ingin jadi hakim
dan berbincang tentang susila, politik dan agama
seperti soal-soal yang dikuasai.

Di mana setiap tukang jamu disambut dengan hangat
dengan perhatian dan tawanya.

Di mana ocehan di jalan lebih berharga
dari renungan tenang di kamar.

Di mana curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya.

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena aku ingin merdeka dan menemukan diri.

Sajak Yang Dewasa

sajak yang dewasa
sudah tak peduli
apakah aku menangis atau ketawa

di muka cermin
aku tak mengenal lagi
ia bayangan siapa

setiap hendak kutangkap
ia lolos dari dekap

tak mau menampung rasa

di luar jamah
ia sebagian dari semesta
satu dengan suara manusia

setelah ia dewasa
aku tak punya kuasa
maka kubiarkan dia berjalan merdeka

Salam Kepada Heidegger

Sajak tetap rahasia
bagi dia yang tak pernah
mendengar suara nyawa.
Kata-kata tersembul dari alam lain
di mana berkuasa sakit, mati
dan cinta. Kekosongan harap
justru melahirkan ilham
yang timbul-tenggelam dalam arus
mimpi. Biarlah terungkap sendiri

makna dari ketelanjangan bumi.
Masih adakah tersisa pengalaman
yang harus terdengar dalam bunyi?
Sajak sempurna sebaiknya bisu
seperti pohon, mega dan gunung
yang hadir utuh tanpa bicara

Ambarawa 1989

Sebelum tidur istriku menyulam
di bawah lampu temaram. Sebuah bunga
biru dengan latar kelabu yang akan diberi
pigura dan digantungkan di dinding.
Aku menyempatkan diri mengikuti
berita terakhir di koran yang belum
dapat kubaca pagi hari.
Kami sudah lupa bahwa di kota ini
pernah terjadi revolusi dengan kekejaman
dan kematian. Keluarga lari mengungsi

ke gunung dan aku turut bergerilya
mengejar Belanda. Berapa peluru sudah
kutembakkan di malam buta menyerang
musuh yang menghadang dengan senjata.
Pikiran tegang selalu oleh cemas
dan curiga.
Kini peperangan hanya terjadi di roman
petualangan yang kubaca dan yang kulihat
di layar TV, jauh entah di negeri mana.
Nampak tak nyata dan hampir tak bisa
dipercaya.
Ah, biarlah kedamaian berlanjut
begini. Semua — bunga, dinding, lampu,
kuri, istri — terliput dalam kabut
puisi. Suling mengalun menembus
malam. Aku tak tahan lagi melihat darah.

GENESIS

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo

pembuat boneka
yang jarang bicara
dan yang tinggal agak jauh dari kampung
telah membuat patung
dari lilin
serupa dia sendiri
dengan tubuh, tangan dan kaki dua
ketika dihembusnya napas di ubun
telah menyala api
tidak di kepala
tapi di dada
–aku cinta–kata pembuat boneka
baru itu ia mengeluarkan kata
dan api itu
telah membikin ciptaan itu abadi
ketika habis terbakar lilin,
lihat, api itu terus menyala

HAIKU

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo

malam rebah
di punggung
sepiku
gigir gunung
susut di kaca
hari makin surut
dan bibir habis kata:
dinda, di mana, siapa
tangan terkepal
terhenyak di meja

JENDERAL LU SHUN

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo

Jenderal Lu Shun kewalahan. Ia tidak dapat menyelesaikan puisinya. Ia baru menulis dua dari empat baris pantun Cina, tetapi fantasinya seperti tersekat dalam kata-kata kosong tak berarti.
Maka ia keluar dari tendanya dan memerintahkan perwiranya mengumpulkan bala tentaranya.”Kita serang dusun itu di lembah dan bunuh penduduknya.”
Perwira itu masih mencoba mengingatkannya:”Tetapi Jenderal, ini malam hari dan orang tak boleh berperang waktu musuh sedang tidur. Hanya perampok dan pengecut yang menyerang musuh di malam hari.”
“Aku butuhkan ilham,” seru Jenderal Lu Shun, “dan aku tak peduli apa siang atau malam. Aku butuhkan kebengisan untuk menulis puisi.”
Kemudian ia naik kudanya yang beringas dan mendahului pasukan-pasukannya menyerbu ke lembah. Diayunkan pedang dan dicincang penduduk dusun yang tidak berjaga, sehingga puluhan laki-laki, perempuan dan anak-anak terbunuh oleh tangannya. Ia sungguh menikmati perbuatan itu, dan sehabis melihat dengan gairah darah mengalir dan tubuh bergelimpangan di sekelilingnya, ia kembali ke tendanya. “Jangan aku diusik sementara ini,” pesannya kepada seluruh bala tentaranya. Di
dalam keheningan malam ia kemudian menulis puisinya.
Ia menulis tentang langit dan mega, tentang pohon bambu yang merenung di pinggir telaga. Burung bangau putih mengepakkan sayapnya sesekali di tengah alam yang sunyi. Suasana hening itu melambangkan cintanya kepada seorang putri dan rindunya kepada dewa yang bersemayam di atas batu karang yang tinggi.
Itu semua ditulis dalam pantun Cina yang empat baris panjangnya.

KATA

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo

Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi

Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata

Karena itu aku
bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa

KEHARUAN

Oleh :
Subagio Sastrowardoyo

Aku tak terharu lagi
sejak bapak tak menciumku di ubun.
Aku tak terharu lagi
sejak perselisihan tak selesai dengan ampun.

Keharuan menawan
ktika Bung Karno bersama rakyat
teriak “Merdeka” 17 kali.

Keharuan menawan
ketika pasukan gerilya masuk Jogja
sudah kita rebut kembali.

Aku rindu keharuan
waktu hujan membasahi bumi
sehabis kering sebulan.

Aku rindu keharuan
waktu bendera dwiwarna
berkibar di taman pahlawan

Aku ingin terharu
melihat garis lengkung bertemu di ujung.
Aku ingin terharu
melihat dua tangan damai berhubung

Kita manusia perasa yang lekas terharu

Pustaka dan Budaja,
Th III, No. 9,
1962

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

KUBU

Oleh :
Subagio Sastrowardoyo

Bagaimana akan bergembira kalau pada detik ini
ada bayi mati kelaparan atau seorang istri
bunuh diri karena sepi atau setengah rakyat terserang
wabah sakit – barangkali di dekat sini
atau jauh di kampung orang,
Tak ada alasan untuk bergembira selama masih
ada orang menangis di hati atau berteriak serak
minta merdeka sebagai manusia yang terhormat dan berpribadi –
barangkali di dekat sini atau jauh di kampung orang.
Inilah saatnya untuk berdiam diri dan berdoa
untuk dunia yang lebih bahagia atau menyiapkan senjata
dekat dinding kubu dan menanti.

Daerah Perbatasan,
Jakarta : Budaya Jaya, 1970
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air