Menilik Treasury dan Peran Treasury di Indonesia

 

Bagian treasury menempati peran sentral dalam tatakelola keuangan perusahaan. Treasury bertanggung jawab untuk menjaga likuiditas perusahaan, yaitu memastikan bahwa perusahaan memiliki cukup kas untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan, sewaktu-waktu.

Peran dari organisasi treasury secara dramatis berkembang sejak adanya krisis ekonomi. Lahirnya UU No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara juga menjadi sebuah pengakuan baru dari betapa pentingnya organisasi Perbendaharaan sebagai treasurer republik ini. Selaras dengan itu, treasury terus-menerus diminta memainkan peran strategis seperti juga halnya di sektor privat, yang peran dan fungsinya terus diperluas dan makin memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan.

Ditjen Perbendaharaan Negara pun mengamini kondisi itu dan mengambil dan mengadaptasi beberapa peran dan fungsi treasury di sektor privat. Namun juga masih ada peran dan fungsi lain yang belum diambil oleh sektor publik dengan beberapa pertimbangan. Dalam kondisi kekinian, sembari mengamin survei AFP Strategic Role of Treasury, Ditjen Perbendaharaan perlahan tapi pasti mulai mempelajari dan mencoba mengimplementasikan peran dan fungsi tersebut.

KPPN sebagai bagian dari fungsi perbendaharaan, paling tidak terkait dengan tiga fungsi, yaitu pelaksanaan anggaran, pengelolaan kas, serta akuntansi dan pelaporan. Dalam fungsi pelaksanaan anggaran, KPPN melakukan pencairan dana berdasarkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Saat ini dan ke depan fungsi ini dapat berkembang menjadi: standardisasi dan bimbingan teknis pembuatan komitmen dan pembayaran pada satuan kerja; monitoring dan evaluasi pelaksanaan anggaran; dan analisis belanja pemerintah.

Dalam fungsi akuntansi dan pelaporan, KPPN melakukan akuntansi atas transaksi APBN dan menyusun Laporan Keuangan Kuasa BUN, serta melakukan rekonsiliasi laporan keuangan dengan satker. Saat ini dan ke depan, fungsi ini dapat berkembang ke arah analisis penyempurnaan bagan akun standar (BAS), analisis penyempurnaan sistem akuntansi, peningkatan kualitas laporan keuangan pemerintah, dan perluasan analisis atas laporan keuangan di wilayahnya.

Operasionalisasi fungsi dalam uraian tugas tersebut, tentu masih bisa diperdebatkan. Namun yang perlu kita ingat, sebagaimana dikatakan oleh Hal G. Rainey (dalam Understanding and Managing Public Organizations, 1996), organisasi publik harus selalu siap untuk berubah karena tuntutan external political (problem depletion), eksternal economic/technical (environmental entropy),internal political (political vulnerability), dan internal economic/technical (organizational atropy). Untuk mempertahankan eksistensinya, maka organisasi publik harus semakin efektif, inovatif, berorientasi pada misi dan stakehoders, serta pemberdayaan sumber daya manusia.

 

Peran 1. Membuat Perencanaan Kas (Cash Forecasting)

Sempat terjadinya cashflow shortage menjelang akhir tahun 2014 lalu dikarenakan perencanaan kas yang tidak memadai. Perencanaan kas (cash forecasting) adalah awal dari semua peran lainnya yang dijalankan oleh bagian Treasury. Tidak seperti pegawai lain yang menangani kegiatan penerimaan dan pembayaran kas setiap hari, pegawai treasury yang bertugas untuk mengambil data yang telah dimasukan oleh pegawai bagian akuntansi ke dalam sistem untuk kemudian mengompilasikannya dan untuk menghasilkan perkiraan kas  jangka pendek dan jangka panjang. Perkiraan dan semua komponen yang terdapat pada peramalan kas diperlukan untuk:

  • Menentukan apakah perusahaan membutuhkan lebih banyak uang tunai. Jika itu terjadi, maka mereka bisa membuat rencana pendanaan (financing) baik melalui penggunaan hutang atau ekuitas.
  • Membuat rencana investasi, jika hasil ramalan surplus dimana ada kelebihan kas (excess) yang akan timbul.
  • Membuat rencana operasi yang dapat melindung nilai tukar mata uang perusahaan dengan mata uang asing.

Dalam sektor publik, Ditjen Perbendaharaan telah mencoba melakukan hal itu dan bahkan akurasi perencanaan kas satuan kerja ini menjadi indikator kinerja utama (IKU) Seksi Pencairan Dana Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara.

Dalam fungsi pengelolaan kas, KPPN melakukan pembebanan pencairan dana pada rekening kas negara dan penatausahaan penerimaan negara. Saat ini dan ke depan, fungsi ini dapat berkembang ke arah: cash disbursement monitoring (menyediakan informasi penarikan kas untuk pencairan dana satker, ketika pencairan dana satker harus dikaitkan dengan rencana penarikannya); bimbingan teknis rencana penarikan kas satker; monitoring dan analisis arus dana Kuasa BUN tingkat regional; serta analisis sistem penatausahaan penerimaan negara.

Pada kenyataannya, data perencanaan kas yang dikirimkan satker kebanyakan tidak akurat. Data yang kemudian dikirimkan ke Dit. PKN belum dapat diolah karena sifatnya masih dikategorikan sebagai data sampah. Hal ini dikarenakan karena kurangnya pemahaman satuan kerja pada pengelolaan keuangan. Dan ini juga tidak terlepas dari minimnya bimbingan teknis yang dilakukan oleh KPPN dan belum jelasnya posisi dan peran penyuluh perbendaharaan.

Pada dasarnya, pencairan dana mudah direncanakan jika pejabat pengelola keuangan di satuan kerja memang berkompetensi di bidangnya. Katakanlah begini, SPM Gaji sudah pasti batas waktunya, belanja-belanja rutin juga sudah pasti nominalnya dengan deviasi yang tidak terlalu besar. Yang tersisa adalah belanja modal. Belanja modal, kontrak ataupun pengadaan, bila mengikuti prosedur yang ada dalam Perpres 70, semua sebenarnya bisa diperkirakan. Pencairan per termin pun sudah dituangkan di dalam data kontrak. Tinggal kedisiplinan pejabat pembuat komitmen untuk membuatkan SPP-nya kelak.

Kemudian, perencanaan kas juga melibatkan cash in. Ceteris paribus, sifat belanja pemerintah berpengaruh pada konsumsi dan pendapatan nasional. Pendapatan nasional berpengaruh pada pajak. Seharusnya, terjadi sinergi antara perencanaan kas keluar dengan perencanaan kas masuk. Juga ada analisis dari pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari kas keluar yang teratur. Dengan begitu, ketersediaan dana di pemerintah dapat diperkirakan sebaik-baiknya.

 

Peran-2 Melakukan Tatakelola Modal Kerja (Working Capital Management)

Penggunaan utama dari kas perusahaan adalah untuk memenuhi kebutuhan modal kerja. Modal kerja merupakan komponen kunci dari peramalan kas. Tata kelola di wilayah ini antara lain melibatkan perubahan tingkat aktiva lancar dan kewajiban lancar sebagai respon atas capaian penjualan perusahaan. Lain daripada itu treasurer juga mesti mampu memberikan masukan bagi manajemen tentang dampak perubahan kebijakan yang diusulkan pada tingkat modal kerja. Oleh sebab itu, seorang treasurer harus mengetahuai bagaimana modal kerja digunakan, apa pengaruh dan kaitannya dengan elemen-elemen keuangan lainnya.

 

Peran-3 Melakukan Tatakelola Kas (Cash Management)

Modal kerja merupakan manajemen keuangan jangka pendek. Dengan menggabungkan informasi dalam perkiraan kas dan kegiatan modal kerja manajemen, treasurer harus mampu menjamin ketersediaan dana yang cukup bagi kebutuhan operasional perusahaan.

 

Peran-4. Tatakelola Investasi (Investment Management)

Ketika peramalan kas menunjukkan adanya kelebihan dana, maka staf treasury bertanggung jawab untuk menginvestasikannya dengan tepat dan benar. Tiga tujuan utama dari peran ini adalah:

(a) tingkat pengembalian investasi yang maksimal

(b) Kecocokan antara tanggal jatuh tempo investasi dengan proyeksi kebutuhan kas perusahaan, dan yang paling penting adalah

(c) tidak menginvetasikan dana pada risiko tinggi.

Dengan dibentuknya Treasury Dealing Room, Ditjen Perbendaharaan pun akan melakukan investasi jangka pendek atas idle cash. Yang jadi perdebatan adalah adanya dua dealing room pemerintah yang bermain di pasar modal bisa jadi menimbulkan masalah. Seharusnya pengelolaan kas dan utang disatukan atau berada pada satu payung sehingga tidak terjadi kebingungan di pasar modal. Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah dengan terjunnya pemerintah ke sektor moneter, itu tidak mengurangi keberadaan pemerintah di sektor riil. Di sini nantinya TDR harus bertindak dengan bijak dan hati-hati atas pengelolaan kas yang ada.

 

Peran-5 Melakukan Tatakelola Risiko (Risk Management)

Para treasurer juga bertanggung jawab untuk menciptakan strategi manajemen risiko dan menerapkan taktik hedging untuk melindung perusahaan dari segalam macam risiko keuangan—terutama sekali dalam rangka mengatisipasi keadaan dimana: (a) suku-bunga pasar membumbung tinggi melebihi suku bunga obligasi perusahaan terhadap institusi lain; (b) posisi selisih kurs perusahaan juga bisa beresiko jika kurs tiba-tiba memburuk.

 

Peran-6 Menjaga Hubungan Baik Dengan Bank (Bank Relation)

Hubungan jangka panjang perusahaan dengan pihak bank bisa menjadi sangat bermanfaat pada saat suatu saat kelak perusahaa mengalami kesulitan keuangan. Untuk itu Treasurer hendaknya sering bertemu dengan perwakilan dari setiap bank yang digunakan oleh perusahaan untuk: membahas kondisi keuangan perusahaan, struktur biaya bank, setiap utang yang diberikan oleh bank kepada perusahaan (Jika ada), dan transaksi valuta asing, hedging, kawat transfer, cash pooling, dan lain sebagainya.

 

Peran-7 Penggalangan Dana (Fund Raising)

Mempertahankan hubungan baik dengan komunitas investasi untuk tujuan penggalangan dana sangatlah penting. Mulai dari para broker dan bankir investasi yang menjual utang perusahaan dan mengelola penawaran ekuitas, sampai dengan para investor, dana pensiun, dan sumber-sumber kas lainnya yang suatu saat tertentu mungkin dapat membeli utang atau ekuitas perusahaan.

Selain peran-peran utama di atas, pada dasarnya staf Treasury seharusnya juga memonitor kondisi pasar terus-menerus, karena hal itu diperlukaan pada saat tim manajemen perusahaan meminta informasi tentang suku bunga, kemampuan perusahaan untuk membayar utang baru, dan keberadaan utang pada saat tertentu. Jika perusahaan berencana untuk melakukan merger atau akuisisi, maka staf treasury harus mampu mengintegrasikan sistem treasury perusahaan yang akan diambil alih dengan perusahaan induk. Peran lainnnya termasuk menjaga dan mengelola berbagai asuransi atas nama perusahaan

 

Dalam menggapai peran dan fungsi tersebut di atas, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bagi organisasi treasury di Indonesia.

 

dds

Gambar 1: Treasury Best Practices Environment

Sumber: Treasury Strategies

 

               

Seperti isu yang beredar saat ini, isu penajaman fungsi organisasi dengan bergabungnya kembali DJKN atau DJPP ke DJPB atau menjadikan MoF sebagai Ministry of Treasury dengan dibentuknya Badan Penerimaan Negara itu adalah bagian dari tuntutan zaman.

Selain itu, beberapa hal terkait dengan pemanfaatan teknologi yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Kebutuhan dana yang besar dan waktu yang lama untuk membuat sistem dan infrastruktur yang merata seluruh indonesia;

 

  1. Infrastuktur telekomunikasi yang tidak merata di Indonesia, terutama di daerah terpencil akan menghambat pelaksanaan program.
  2. Dalam organisasi akan terdapat pengurangan jumlah pegawai seiring dengan struktur organisasi akan menjadi lebih sederhana; serta
  3. Mempengaruhi budaya dan lingkungan pekerjaan.

Penataan organisasi sebagai konsekuensi penggunaan teknologi juga akan untuk mengubah pola operasi yang semula lebih menekankan ada aspek operasional menjadi lebih fokus pada aspek strategis. Hal ini selaras dengan fungsi Direktorat Jenderal Perbendaharaan sebagai treasury yang lebih banyak terkait dengan aspek manajemen strategis dan analitical dibandingkan operasional yaitu: perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang perbendaharaan negara; penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria  di  bidang  perbendaharaan  negara;  pemberian  bimbingan  teknis  dan  evaluasi  di  bidang perbendaharaan  negara;  dan  pelaksanaan  administrasi  Direktorat Jenderal  Perbendaharaan.

 

 

 

Hari #5, Alasan Pendidikan

Tak sengaja membaca komentar seorang teman di sebuah status tentang keinginan kuliah di luar negeri. “Terus kalau sudah balik ke Indonesia mau ngapain?”

Aku tercenung membaca pertanyaan itu dan bertanyatanya apa yang sudah kulakukan dan apa yang akan kulakukan. Apakah selama ini yang kulakukan hanya untuk kepentinganku sendiri dan apa yang kurencanakan akan kulakukan tak bermanfaat juga bagi orang banyak?

Aku jujur mengakui, aku ingin kuliah ke luar negeri. Kalau tidak ke Jepang, ya Australia. Kalau tidak ke Australia, ya ke Eropa. Alasan pertamanya tentulah pengalaman. Aku ingin jalan-jalan, bertemu banyak orang, memiliki sudut pandang baru. Tapi itu semua untuk diriku. Aku belum berpikir sesuatu yang lebih besar. Aku belum berpikir pengamalan apa yang akan aku lakukan nantinya.

Ketika hendak mengikuti tes D4 STAN pun, baru di tes ketiga aku lulus. Di tes pertama dan kedua aku gagal meski aku punya keyakinan tak seharusnya aku gagal. Istriku berkata, mungkin ada yang salah dari niatku, mungkin Tuhan menyiapkan waktu yang terbaik untukku. Luruskanlah niat terlebih dahulu, katanya.

Aku jujur mengakui menganggap D4 sebagai sweet escape, pelarian manis dari rutinitas pekerjaan dan penempatan yang jauh dari keluarga. Dengan lulus D4, aku akan lebih dekat dengan istri dan anakku. Bintaro–Bandung ditempuh hanya dengan satu travel saja. Pun alasan lain, kenyataan bahwa setelah lulus D4 aku akan naik golongan menjadi III.a tanpa perlu ikut ujian penyesuaian,  dan kemungkinan penempatan yang lebih baik nantinya. Alasan lain, aku akan lebih dekat dengan teman-temanku di dunia kepenulisan yang banyak berada di Jakarta dan sekitarnya.

Tapi ternyata, selama mengikuti perkuliahan aku malah mendapatkan sesuatu yang berharga. Adalah Ghul, seorang teman yang paling sering duduk sebangku denganku yang memberi pencerahan pertama.

Ghul menceritakan sebuah riwayat kepadaku. Ada seorang pekerja mendapat upah 5 dirham dari pekerjaannya. Ia merasa upah itu tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Lalu datanglah ia ke seorang ulama untuk berkonsultasi. Ulama tersebut malah memberi saran untuk menghadap majikannya dan meminta upah 4 dirham saja. Sang lelaki pekerja pun datang dan meminta penurunan upah menjadi 4 dirham. Sebulan kemudian, sang pekerja datang lagi ke ulama dan mengadu, penghasilan 4 dirham itu tak cukup juga. Sang ulama malah memberi saran untuk meminta menurunkan upahnya menjadi 3 dirham saja. Karena percaya atas kebesaran sang ulama, sang lelaki pekerja pun menuruti saran ulama tersebut.

Sebulan berikutnya, sang lelaki pekerja datang lagi ke ulama tersebut dan terheran-heran, takjub ia bertanya, “Kenapa upah saya yang 3 dirham jadi cukup untuk menghidupi keluarga saya? Padahal kan 3 dirham jauh lebih kecil dari 5 dirham?”

Sang ulama tersenyum dan berkata, “Itulah yang pantas untuk pekerjaanmu lakukan sekarang.”

Artinya, berkah pekerjaan itu ada di 3 dirham. Sisanya bukan haknya. Implikasinya, saat itu Ghul mengajakku bertanya, kalau kita mengeluh terus mendapatkan penghasilan kurang, selama kita tugas belajar ini, apakah penghasilan yang kita dapatkan itu sudah pantas kalau cuma kos-kampus-kantin saja?

Ghul mengajakku sadar bahwa kita harus berusaha agar pantas dihargai 5 dirham, bekerja lebih baik lagi, memberi manfaat lebih banyak lagi, dan yang lebih penting kita menemukan peran 5 dirham yang tepat sesuai kapasitas yang kita miliki.

Di kesempatan lain, Direktur STAN, pada suatu kuliah berkata kita harus menemukan satu hal yang benar-benar kita sukai dan kita kuasai. Tidak mungkin semua mata kuliah dilahap sampai ngelotok kering. Pilih satu saja, maqam tempat kita menjadi ahli. Aku pikir ini ada hubungannya dengan peran itu tadi.

Di situlah aku kemudian tertarik pada satu bidang dan merasa aku D4 ini adalah untuk dipertemukan dengan bidang itu.

Pun nanti S2, aku akan berusaha untuk memang menjadikan diriku ahli di suatu bidang dan kemudian aku dapat mengaplikasikannya untuk kepentingan dan kebaikan orang banyak.

Semoga.

 

PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA MENULIS RESENSI TIGA NOVEL

PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA MENULIS RESENSI TIGA NOVEL

10356018_10152919859609794_618580206955014216_n

Pertama, kami begitu berterima kasih atas antusiasme para peserta yang mengirimkan naskahnya kepada kami. Ada banyak naskah resensi yang masuk dan masing-masing naskah memiliki keistimewaan tersendiri. Tiga buku yang dijadikan objek resensi (4 Musim Cinta, Toba Dreams dan A Girl Who Loves A Ghost) dikulik sedemikian rupa dari berbagai sisi dan sudut pandang sehingga kami, para juri, cukup merasa kebingungan untuk menentukan pemenang.

Penilaian resensi dilakukan oleh tim juri yang terdiri dari editor, kritikus sastra dan penulis. Penilaian didasarkan pada kualitas konten resensi, yang meliputi teknik mengomposisi tulisan (meliputi logika, koherensi, dan kebaruan apa saja yang menarik yang lahir dari pembacaan novel) dan bobot serta proporsionalitas kritik atau pujian.

Dari perdebatan yang panjang, akhirnya kami memutuskan lima naskah resensi yang memenuhi variabel-variabel yang kami inginkan. Selain lima naskah tersebut, kami juga memutuskan menambah dua naskah sebagai pemenang untuk diberi penghargaan. Berikut ketujuh peresensi dan naskah tersebut:

Juara I: Aditya Rustama dengan judul “Cinta dari Perspektif 4 Musim
http://adityarustama.blogspot.com/2015/05/cinta-dari-perspekstif-empat-musim.html

Juara II: Sulfiza Ariska dengan judul “Kisah Cinta dalam Belenggu Tradisi Misoginis
https://www.goodreads.com/review/show/1289416771?book_show_action=true&from_review_page=1

Juara III: Frumen Sedha
https://www.goodreads.com/review/show/1286691397?book_show_action=true&from_review_page=1

Juara IV: Duma Milanta dengan judul “Sebuah Novel Kelas Internasional
http://dumacyrusswift.blogspot.com/2015/05/sebuah-novel-kelas-internasional.html

Juara V: Irma Garnesia
https://www.facebook.com/notes/irma-garnesia/a-girl-who-loves-a-ghost-alexia-chen/10152693610382693

Juara VI: Frida Kurniawati dengan judul “4 Musim Cinta Bersinggungan di Negeri 2 Musim
http://kimfricung.blogspot.com/2015/05/resensi-4-musim-cinta-4-musim.html

Juara VII: Athi Suqya Rahmah dengan judul “Menemukan Cinta di Danau Toba
http://t.co/39opABhHkL

Untuk pemenang 1, 2, dan 3 akan mendapatkan hadiah uang tunai masing-masing sebesar Rp1.500.000,-, Rp1.000.000,- dan Rp500.000,-. Sementara untuk pemenang 4,5,6 dan 7 akan mendapatkan paket buku dari PT Kaurama.

Untuk para pemenang sayembara yang belum menyertakan nomor rekening bank dan alamat lengkapnya, silakan mengirim nomor rekening bank-nya ke email redaksi (fiksiexchange@gmail.com cc: bunda_laksmi@yahoo.com) untuk keperluan transfer hadiah. Dan kepada para peserta yang belum beruntung menjadi pemenang sayembara, semoga penerbit Exchange bisa menyelenggarakan sayembara serupa di waktu-waktu mendatang, dan kami berharap Anda semua juga berpartisipasi kembali.

Tabik,
Shalahuddin Gh (Ketua Dewan Juri)

Hari #4, Ayah Andrea Hirata

Barangkali aku tak salah jika berpikir karya puncak Andrea Hirata ada pada Edensor. Setelah itu, Andrea mengalami masalah yang cukup serius. Napas menulis Andrea menjadi sangat pendek. Itu juga berakibat pada kecenderungannya untuk bertindak hanya sebagai penutur.

Menulis adalah seni yang soliter. Seorang penulis bertindak sendirian. Ia sebagai komposer sekaligus pemain musiknya. Ia sebagai penata panggung dan performernya. Ia sebagai penulis cerita dan penutur ceritanya. Artinya ada hal penting lain selain bercerita, yang dibutuhkan di dalam cerita. Banyak yang menyebutnya sebagai sebuah “show”. Show di dalam fiksi berarti menciptakan adegan. Adegan adalah suatu aksi yang berhubungan dan berkelanjutan bersama-sama dengan deskripsi dan latar belakang cerita.

Menilik Ayah, pada 5 halaman pertama aku langsung jatuh tertidur panjang. Kira-kira dua jam. Lalu bangun, makan, dan melanjutkan pembacaan sampai halaman 300. Keesokan harinya aku kembali membaca sampai selesai. Dan Andrea Hirata tetaplah Andrea Hirata. Ia seorang penulis yang tetap harus dibaca dan dinantikan perkembangannya.

Aku menyebut Andrea Hirata sebagai penulis hiperbolis, ketimbang metaforis. Ia banyak menggunakan majas hiperbola sebagai bagian dari olok-oloknya pada kehidupan. Ia juga banyak menggunakan satir-satir yang menohok dan ekspresi lain mengenai keluguan, kebodohan yang menyimpan kearifan dari para tokohnya.

Dalam Ayah, salah satu hal yang disinggungnya adalah soal pendidikan dan pemberian nilai di sekolah. Tokoh ceritanya mendapat nilai 2, 3, 4, 5. Angka merah bertaburan di rapor mereka. Itu nyata. Dulu, sekolah-sekolah selalu jujur memberikan nilai rapor kepada muridnya. Aku pun pernah mendapatkan nilai 4 di rapor beberapa kali.

Kemudian terjadilah nilai ujian nasional untuk syarat kelulusan. Kata pemerintah waktu itu, sebuah bangsa yang berpendidikan tercermin dari nilai-nilai mata pelajarannya yang tinggi. Akibatnya, bukan pendidikan yang dibenahi, melainkan kunci-kunci jawaban bertebaran, dan bahkan dicurigai diotaki oleh sekolah itu sendiri.

Di sisi lain, aku baru baca tulisan Prof. Rhenald Kasali, di luar negeri, nilai-nilai itu mudah diberikan karena pendidikan di sana bersifar encouragement. Anaknya yang baru pindah ke luar negeri, disuruh bikin tulisan, diberi nilai A padahal bahasa Inggrisnya buruk. Sang guru mengatakan pemakluman dan sebuah nilai tidak diberikan saklek untuk menghambat kemajuan si anak. Sebuah nilai ada untuk menyemengati si anak untuk bisa.

Andrea menempatkan posisi guru dan murid yang serba lugu dan bodoh dalam sistem pendidikan itu dengan begitu cerdas. Cobalah tengok ketika sang guru bertanya, “100 itu berapa persen dari 400?” Teman Sabari diam tak berkutik. Sabari ingin memberi tahu jawabannya adalah 45%. Tapi keburu sang guru berkata yang benar itu 15%. Kesemua jawaban itu salah.

Pola-pola adegan seperti itu banyak dilakukan Andrea Hirata sebagai bentuk sindiriannya pada kenyataan.

Selain itu, tak ada yang baru kecuali dua hal mungkin. Andrea kini mengenal Gabriel Garcia Marquez setelah sebelumnya mengaku tak pernah membaca karya sastra selain dua buku saja. Dan coba-cobanya menggunakan teknik foreshadow pada tokoh Amiru yang tak lain tak bukan ialah Zorro.

Selebihnya, napas pendek Andrea Hirata yang disiasati dengan bab berfragmen belum dapat membuatku menyebut novel ini istimewa. Edensor masih jauh lebih baik. Aku bilang karakter-karakter yang dituturkan itu tak begitu hidup seperti halnya kenanganku pada Arai dan Lintang.

Pengulangan-pengulangan deskripsi seperti blue moment, batu besar dari zaman Jura juga menjadi titik lemah novel ini. Pun kehiperbolisannya yang terlalu hiperbola (apa pula itu).

Akhirnya, aku bertanya-tanya, apakah sebuah karya dengan nilai tradisionalitas/lokalitas selalu dinilai tinggi oleh para penggiat sastra? Apakah Andrea Hirata dan Benny Arnas itu bersaudara? Sebab sepanjang membaca novel ini, entah kenapa, aku jadi teringat pengarang dari Lubuk Linggau itu.

Hari #3, Sebagaimana Juni

tak lagi bisa kusekap segalamu
dalam ruang kenangku
kau telah menjadi seekor burung bebas
yang tak butuh rumah kembali

adakalanya aku merasa menjadi semesta
yang menaungi air mata dan cerita
dan bila malam tiba, seluruhku
akan memelukmu dari hujan bulan juni
yang dingin dan tabah itu
aku lupa pada sisasisa debu
yang lengket di wajah, menjadi jerawat kecil atau komedo
karena kututup mata ketika hidung kita bertemu
bertingkah laiknya orang eskimo
bertukar napas yang menderu

kemudian udara menjauh, kau mengibasnya
angin terakhir musim kemarau ingin pergi juga
ke kutub utara, katamu

aku tak tahu, aku tak tahu
apakah kau mengenangku
seperti aku mengenangmu
apakah ciumanmu seperti
juga ciumanku yang pertama
begitu pasrah menerima

tapi pertanyaanpertanyaan itu
hanyalah kerikil yang dilempar ke sungai
menanti tenggelam dan hanyut

seperti juga kenanganku, yang tak seorangpun tahu

Hari #2, UFO

Surat Lia Eden ke Presiden tentang izin pendaratan UFO yang dikendalikan Malaikat Jibril itu mengingatkanku pada penampakan-penampakan UFO yang pernah kulihat.

UFO selalu diidentikkan dengan alien, dengan makhluk luar angkasa. Padahal UFO adalah unidentified flying object, benda terbang yang tak dapat diidentifikasi. Artinya, belum tentu dia alien. Bisa jadi dia pesawat canggih buatan manusia yang tidak diketahui, seperti halnya pesawat raksasa markasnya The Avenger itu toh.

Aku tidak akan membahas UFO itu apa, alien itu apa, hanya saja, ketika pertama aku melihat UFO itu, aku merasa aku adalah manusia spesial. Tidak semua orang pernah melihat UFO. Tidak semua orang diperlihatkan UFO.

Aku punya kebiasaan itu sejak kecil. Aku suka melihat langit. Seringkali aku berbaring di hijaunya rumput Jepang di halaman rumahku atau duduk di ayunan sambil menengadah ke langit. Aku akan melihat birunya langit dan awan-awan putih yang menggumpal di sana. Dari itu, aku akan membayangkan awan-awan itu membentuk sesuatu, kadangkala sesuatu yang kuinginkan ada, maka awan itu akan menjadi apa saja yang kuinginkan itu. Bila malam tiba pun, aku akan senang sekali melihat langit dan menyaksikan bintang jatuh. Saat itu, aku belum berpikir mengenai UFO karena aku belum tahu.

Kejadian pertama adalah ketika aku pulang dari Sastra Reboan. Di taksi kami berlima, aku duduk di samping sopir. Di perjalanan Norman dan teman-teman asik mengobrol, aku asuk melihat bulan di langit. Tak jauh dari bulan itu ada pancaran cahaya. Kukira dia bintang. Tapi kemudian cahayanya semakin besar, memejar, dan ia bergerak sebelum menghilang beberapa detik setelahnya. Aku berteriak. “Hei, kalian lihat itu?” tanyaku pada teman-teman. Mereka heran dengan yang kutanyakan. Sang sopir di sebelahku menjawab, “Saya lihat, Mas.”

Ya, itu UFO. Hal seperti itu beberapa kali kulihat kembali dalam waktu yang berbeda.

Beberapa waktu lalu juga aku membaca sebuah artikel mengenai fenomena hantu yang coba dijelaskan oleh peneliti. Beberapa orang yang skeptis diminta jadi volunteer di tempat-tempat yang dianggap menyeramkan. Awalnya mereka tidak merasakan apa-apa. Ketika para peneliti menambahkan suara berfrekuensi rendah, barulah mereka dapat melihat sesuatu. Dari situ disimpulkan bahwa, frekuensi suara yang rendah dapat mengakibatkan seseorang melihat sesuatu. Ada bagian-bagian otak yang bekerja di sana.

Aku jadi berpikir, segala yang kita lihat, segala yang kita indrai ini sebenarnya hanyalah kerja otak. Kalau otak kita rusak, kita tidak dapat merasakan panas itu panas. Aku bertanya-tenya apakah segala yang kita lihat itu sebenarnya ada. Kita melihat warna laut itu biru karena mata kita melihatnya biru, karena sensor, syaraf dan kerja otak yang melihatnya sebagai warna biru. Apakah laut benar-benar biru?

Dalam konteks yang lebih luas, apakah dunia ini benar-benar ada? Apakah kita ini benar-benar ada? Ataukah kita hanya satu bagian otak, satu kerja sistem, sebuah kesadaran dan realitas yang ada saat ini hanyalah buah kesadaran itu?

Aku tidak tahu, apakah UFO yang kemudian membuatku berpikir bukan tentang apakah kita benar-benar sendirian di alam semesta ini, melainkan apakah kita benar-benar ada atau hanyalah sebuah proyeksi dari kesadaran yang dibuat oleh sesuatu?

Entahlah.