Sajak Nizar Qabbani, Terjemahan Lepas M. Aan Mansyur

Lari-lari Kecil pada Pagi Hari

Kita memasukkan diri ke dalam barisan

seperti kawanan domba yang hendak disembelih.

Kita berlari, terengah-engah, ingin mencium

sol sepatu para pembunuh.

Mereka menculik anak Maryam

padahal ia masih bayi. Mereka mencuri

dari diri kita ingatan pohon-pohon jeruk,

dan aprikot dan rimbun semak mint,

dan lilin dari masjid-masjid.

Mereka meletakkan di tangan kita

sekaleng sarden bernama Gaza

dan sepotong tulang kering bernama

Yerikho. Mereka membiarkan kita

tumbuh sebagai tubuh tanpa tulang,

sepasang lengan tanpa jemari.

Setelah perselingkuhan rahasia yang basah

di Oslo, kita dilanda kekeringan.

Mereka memberi kita tanah air

yang lebih kecil dari sebiji gandum.

Tanah air yang akan kita telan tanpa air,

seperti sebutir aspirin.

Kita memimpikan perdamaian yang hijau

dan bulan sabit putih

dan laut biru.

Namun, kini, kita menemukan diri kita

cuma seonggok tinja.

*

Tuan Sultan

Jika ada yang menjamin keselamatanku,

jika aku mampu bertemu dengan Sultan,

aku akan mengatakan kepadanya: O Tuanku Sultan!

Anjing Tuan yang rakus merobek-robek jubahku,

mata-mata Tuan mengikutiku sepanjang waktu.

Mata mereka, hidung mereka, kaki-kaki mereka

mengejarku seperti takdir, seperti nasib.

Mereka menginterogasi istriku

dan menulis nama semua sahabatku.

Wahai, Sultan!

Karena aku berani mendekati dindingmu yang tuli,

karena aku mencoba mengungkapkan kesedihan

dan kesusahanku, aku dipukuli

dengan sepatu bututku sendiri.

Wahai, Tuan Sultan!

Engkau telah kalah perang dua kali

karena setengah dari orang-orang kita

tidak memiliki bahkan sepotong lidah.

 

*

 

Bahasa

Ketika seorang lelaki jatuh cinta,

kenapa ia harus memakai kata-kata?

Apakah para wanita mendambakan

kekasih mereka berbaring di dekatnya

sebagai ahli bahasa?

Aku tidak mengucapkan apa pun

kepada wanita yang aku cintai.

Aku memasukkan kamus-kamus

ke dalam koper dan melarikan diri

dari semua bahasa.

*

Percakapan

 

Jangan kausebut cintaku

seikat cincin atau gelang.

Cintaku adalah pengepungan.

Keberanian dan kemauan keras

yang bangkit dari kematian mereka.

Jangan kausebut cintaku

sebagai semata bulan.

Cintaku lebih hebat dari ledakan

cahaya.

*

 

Surat dari Bawah Laut

 

Jika engkau sahabatku,

bantu aku menanggalkanmu.

Atau, jika engkau kekasihku,

bantu aku menyembuhkan diri darimu.

Andai aku tahu lautan sedalam ini,

aku tidak akan menceburkan diri,

Andai aku tahu bagaimana aku berakhir,

aku tidak akan pernah memulai.

Aku mendambakanmu, maka ajari aku ketidakinginan.

Ajari aku mencabut akar cintamu dari kedalaman.

Ajari aku memadamkan kesedihan di mata

hingga cinta memutuskan bunuh diri.

Jika engkau seorang nabi,

bersihkan aku dari kutukan ini,

bebaskan aku dari ketiadaan iman.

Mencintaimu ibarat tak memeluk satu agama pun,

maka sucikan aku dari kehampaan ini.

Jika engkau kuat,

angkat aku dari dasar laut ini

karena aku tidak tahu berenang.

Ombak biru di sepasang matamu

menarikku ke palung paling dalam

biru

biru

seluruh biru

dan aku tidak memiliki pengalaman

mencintai dan tidak ada perahu

sama sekali.

Jika engkau mengasihiku

ulurkan lenganmu, rengkuh aku,

sebab aku dipenuhi nafsu

dari rambut hingga kuku-kuku

kakiku.

Aku bernapas dari sini, di bawah laut.

Aku tenggelam,

tenggelam,

tenggelam.

Cahaya Lebih Penting daripada Lampu

Cahaya lebih penting daripada lampu,

puisi lebih penting daripada buku catatan,

dan ciuman lebih penting daripada sepasang bibir.

Surat-suratku kepadamu

lebih agung dan lebih penting daripada kita berdua.

Lembaran-lembaran itu satu-satunya dokumen

di mana orang-orang kelak menemukan

kecantikanmu

dan kegilaanku.

*

Wahai,Kekasihku

Wahai, Kekasihku,

jika kau berada di sini, di puncak kegilaanku,

kau akan menyingkirkan semua perhiasanmu,

kau akan menjual habis gelang-gelangmu,

dan pulas tertidur di mataku.

*

Tentang Menyelami Lautan

 

Cinta, pada akhirnya, tiba juga

dan kita memasuki surga,

menyelusup

di bawah kulit air

seperti ikan.

Kita melihat mutiara laut berkilau

dan mata kita dipenuhi kekaguman.

Cinta, pada akhirnya, menimpa kita juga,

tanpa paksaan, dengan keinginan yang setara,

sebesar yang kuberi, sebesar yang kauberi,

dan kita merasa sama adil.

Cinta menyerahkan diri, pasrah,

seperti mata air yang terbit begitu saja

dari balik tanah.

 

*

 

Coretan-coretan Anak Kecil

 

Kesalahanku, kesalahan terbesarku,

Duhai, Putri bermata laut,

adalah mencintaimu

seperti seorang anak kecil mencintai.

Namun, kekasih paling mulia,

sesungguhnya, adalah anak kecil.

Kesalahan pertamaku

dan bukan yang terakhir

adalah hidup

di pusat keingintahuan

selalu siap terkesiap

bahkan oleh peralihan sederhana

kelam dan terang. Malam dan siang.

Dan menyediakan diri kepada setiap perempuan

yang aku cintai untuk memecahkan diriku

menjadikanku ribuan serpihan,

mengubahku jadi kota terbuka dan terluka,

dan meninggalkanku di balik punggungnya

sebagai kepulan debu.

Kelemahanku adalah melihat dunia

dengan pikiran anak kecil.

Dan, sungguh, kesalahanku adalah menyeret cinta

keluar dari gua, melepaskannya ke udara,

memugar dadaku jadi gereja

yang menerima semua pecinta.

*

Cintamu adalah Sekolahku

Cintamu mengajariku bagaimana cara berduka,

dan selama berabad-abad yang sungguh kucari

adalah perempuan yang mampu membuatku bersedih.

Aku membutuhkan seorang perempuan

yang membuatku menangis di bahunya seperti seekor burung.

Aku membutuhkan perempuan yang mau mengumpulkan

serpihan diriku seperti mengumpulkan pecahan-pecahan kaca.

Cintamu, Duhai Perempuanku, mengenalkanku kebiasaan buruk

paling buruk, mengajariku meminum ribuan gelas kopi setiap malam,

mengajakku ke laboratorium mengamati bahan-bahan kimia,

memaksaku mengunjungi dokter dan para peramal,

Cintamu mengajariku meninggalkan rumah

menelusuri ruas-ruas jalan, mencari wajahmu

di benang-benang hujan dan lampu-lampu kendaraan,

mengamati pakaianmu di tubuh orang-orang yang tak kukenal,

mencari senyummu di poster-poster dan iklan-iklan koran.

Cintamu mengajariku mengembara, mencari model rambut

yang membuat semua perempuan gipsi cemburu, mencari

wajah dan suara yang lebih indah dari seluruh wajah dan suara.

Cintamu, Perempuanku, memasukkanku ke dalam kesedihan,

kota yang tidak pernah kudatangi sebelum menemukanmu.

Aku tidak tahu, kesedihan adalah manusia itu sendiri.

Tanpa air mata, manusia hanya kenangan.

Bayangan belaka.

Cintamu mengajariku menggambar wajahmu dengan kapur

seperti seorang anak kecil. Di tembok-tembok kota, di dinding

perahu para nelayan, di lonceng-lonceng geraja, di patung-patung

Yesus.

Cintamu mengajariku bahwa cinta mampu mengubah peta waktu.

Cintamu mengajariku bahwa jika aku mencintai, bumi akan tertegun

dan lupa bagaimana cara perputar.

Cintamu mengajarkan kepadaku hal-hal yang tak masuk akal.

Aku membaca buku-buku dongeng. Aku memasuki kastil

para peri. Aku bermimpi mereka akan menikahkan aku

dengan putri Sultan. Duhai, sepasang mata itu, lebih bening

daripada mata air, lebih segar dari buah-buah delima.

Aku bermimpi jadi seorang pangeran dan menculiknya.

Dan aku bermimpi memberikannya seuntai kalung mutiara.

Cintamu, Wahai Perempuanku, mengajariku arti hayalan

dan kegilaan. Mengajariku bahwa hidup akan baik-baik saja

meskipun putri Sultan tidak pernah datang. Mengajariku

menemukan dan mencintaimu dalam hal-hal sederhana.

Di pohon-pohon musim gugur yang telanjang, di daun-daun

kering yang jatuh, di butiran-butiran hujan, di ketenangan kuil,

di tengah riuh kafe tempat orang mabuk, dalam malam-malam

senyap, dalam bergelas-gelas kopi hitam.

Cintamu mengungsikanku di kamar-kamar hotel murah tak bernama,

di gereja-gereja tak bernama, di rumah-rumah kopi tak bernama.

Cintamu mengajariku bagaimana malam dipenuhi kesedihan

orang-orang asing. Mengajariku melihat Beirut sebagai perempuan,

kekejaman godaan sebagai perempuan, memasangkan gaun

paling indah yang dia punya ke tubuh setiap malam,

dan menumpahkan parfum ke dadanya.

Cintamu mengajariku menangis tanpa air mata.

Mengajariku menidurkan kesedihan, seperti anak kecil

dan kakinya yang kelelahan berjalan dari Rouche ke Hamra.

Cintamu mengajariku bagaimana cara berduka,

dan selama berabad-abad yang sungguh kucari

adalah perempuan yang mampu membuatku bersedih.

Aku membutuhkan seorang perempuan

untuk membuatku menangis di bahunya seperti seekor burung.

Aku membutuhkan perempuan yang mau mengumpulkan

serpihan diriku seperti mengumpulkan pecahan-pecahan kaca.

*

Ketika Aku Mencintai

 

Ketika aku mencintai,

aku merasa akulah penguasa waktu,

aku pemilik bumi dan segala sesuatu di atasnya,

dan aku menunggang kuda dan melaju

menuju matahari.

Ketika aku mencintai,

aku adalah lelehan cahaya,

kasat mata, dan puisi di buku catatanku

tumbuh jadi taman bunga paling indah.

Ketika aku mencintai,

air mengalir dari sela jari-jariku,

rumput tumbuh di lidahku,

Ketika aku mencintai,

aku menjadi waktu di luar seluruh waktu .

Ketika aku mencintai seorang wanita,

semua pohon, tanpa alas kaki,

berjalan ke arahku.

*

Ketika Aku Mencintaimu

Ketika aku mencintaimu,

bahasa baru terbit seperti mata air,

kota baru, negara-negara baru, ditemukan .

Jam dinding bernapas seperti anak-anak anjing.

Gandum tumbuh di halaman-halaman buku.

Burung-burung berlepasan dari matamu

seperti lelehan madu. Serombongan kafilah

datang dari dadamu membawa ramuan India.

Buah-buah mangga berjatuhan dari dahan,

hutan terbakar, dan gendang-gendang Nubia

tak henti menyeru para penari.

Ketika aku mencintaimu,

sepasang payudaramu melepaskan rasa malu,

berubah menjadi petir dan gelegar guntur,

sebilah pedang, dan badai pasir yang hebat .

Ketika aku mencintaimu,

kota-kota Arab bangkit dan meneriakkan

perlawanan terhadap zaman penindasan,

menumpahkan kemarahan kepada hukum

yang menganiaya suku-suku tertentu.

Dan aku, ketika aku mencintaimu,

aku ikut berbaris melawan semua kejahatan,

melawan pengusaha yang menimbun garam,

melawan penguasa yang mengubah gurun

jadi kebun sendiri.

Dan aku akan terus mencintaimu

hingga banjir bandang itu datang,

Aku akan terus mencintaimu

hingga banjir bandang itu datang

menghapus dunia.

*

Pada Musim Panas

Pada musim panas,

kubawa diriku ke pantai

berbaring dan memikirkanmu.

Kutumpahkan ke dada laut

seluruh perasaanku kepadamu.

Laut akan menanggalkan pantai,

meninggalkan karang-karang,

kerang-kerang, juga ikan-ikan,

dan berjalan mengikutiku pulang.

 

*

 

Kekasihku Bertanya Kepadaku

Kekasihku bertanya kepadaku:

“Apa bedanya aku dengan langit?”

Perbedaannya, Sayang,

adalah jika kau tertawa,

aku lupa apa itu langit.

*

Puisi tentang Laut

Di pelabuhan biru matamu

berembus hujan dan kilau suar

ibarat suara-suara yang merdu.

Matahari gemetar dan layar

melukis perjalanan mereka

ke keabadian.

Di pelabuhan biru matamu

lautan terbuka seperti jendela.

Burung-burung datang dari jauh,

mencari pulau-pulau yang tiada

dalam peta.

Di pelabuhan biru matamu

salju jatuh menyelimuti bulan Juli.

Kapal sarat dengan bebatuan mulia

tumpah ke laut dan tidak tenggelam.

Di pelabuhan biru matamu

aku menyusur pantai bagai anak kecil.

Menghirupembuskan aroma garam

dan memulangkan burung-burung

yang kelelahan ke sarang.

Di pelabuhan biru matamu

karang bersenandung pada malam hari.

Siapa gerangan yang menyembunyikan ribuan puisi

ke dalam lembaran buku tertutup di matamu?

Andai saja, andai saja aku seorang pelaut,

andai saja ada seorang memberiku perahu,

aku akan menggulung layarku setiap malam

dan bersandar di pelabuhan biru

matamu.

Jam Makan Siang

 

Cerita ini milik seorang teman dari temanku.

Ada seorang tokoh fiksi yang dekat dengan penulisnya bercerita bahwa ia ingin segala sesuatu sudah siap di meja makan pada jam makan siang. Bagaimanapun caranya, walau 1 jam lagi dunia kiamat, orang-orang ribut di luar mencari cara menyelematkan diri, atau satu per satu masyarakat melakukan bunuh diri ketimbang melihat ada sebuah meteor besar menyentuh permukaan bumi, menimbulkan ledakan berjuta kali lipat dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, dan yang selamat dari ledakan itu tinggal menunggu maut dan kepunahan seperti dinosaurus di masa lampau, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa dan tidak boleh dilakukan oleh lelaki. Itulah alasan Tuhan mencabut satu tulang rusuk dari dada lelaki kemudian menciptakan perempuan.

Aku tidak pernah mendengar cerita seaneh itu sejak sebuah cerita lain mengatakan ada lelaki tua yang bisa bicara dengan kucing. Setiap kali lelaki itu membuka payung, hujan akan turun. Bukan hanya titik-titik air yang turun, kadang-kadang juga ikan sarden dan bahkan lintah.

Teman dari temanku itu—aku tidak tahu apakah dia seorang penulis, tapi keputusannya untuk menceritakan hal itu kepada temanku menunjukkan cerita ini adalah sesuatu yang penting. “Apa kau sependapat dengan temanku yang bilang kalau yah, para perempuan seharusnya pandai memasak?” tanya temanku itu sambil masih memegang ponselnya. Ia tidak menatapku sama sekali dalam pertanyaan itu. Aku merasa sedikit tersinggung dan tidak segera menjawab dan sengaja mengetukkan jari-jariku di meja kaca, mencoba menyusun nada yang asal-asalan agar ia mengerti ponsel sialan itu tidak bisa menggantikan pertemuan macam apapun.

“Apakah tokoh fiksi, perempuan, juga harus pandai memasak?” Kali ini ia menegakkan kepalanya, lurus, menatap mataku dan aku merasa benar, dalam tatapan mata kita bisa melihat banyak hal. Terlepas ia menggunakan kontak lensa, yang berwarna cokelat, bulat, dan lama-lama terlihat mengerikan, aku banyak melihat keputusasaan dari dalam matanya itu.

Aku merasa teman dari temanku itu bukan sekadar teman biasa. Aku diam-diam memberanikan diri untuk bertanya hal lain, bukan menjawab pertanyaannya untuk menjawab rasa penasaranku. “Kau mencintai temanmu itu?”

Ada bunyi gemuruh di langit menembus dinding kaca tempat kami duduk sekarang ini. Aku mengalihkan pandangaku sebentar ke luar. Awan hitam bernaung di sana. Klakson-klakson menjerit hampir bersamaan ketika ada seorang lelaki yang menyeberang begitu saja, berlari, menutupi kepalanya dengan tasnya, tidak di tempat penyeberangan yang seharusnya.

Aku kembali menatap temanku itu lagi. Dia belum selesai menyiapkan jawabannya. Aku tidak tahu kenapa harus selama itu menyiapkan sebuah jawaban yang hanya terdiri dari satu kata. Aku agak  curiga, jangan-jangan temanku juga punya bakat menjadi seorang penulis. Penulis yang baik tentu penulis yang pandai bertele-tele.

“Apa kau tertarik dengan kehidupan pribadiku?” Tuh kan. Dia mengelak-tidak mengelak. Dia mengambil gelas kopinya yang masih mengepulkan asap panas. Asap itu punya aroma khusus yang membuatku mual. Meski berbeda sebab, mual tetaplah mual. Mual karena berada di bis tak ber-ac yang sumpek dijejali penumpang adalah mual yang sama dengan aroma asap kopi.

“Aku tidak tertarik dengan kehidupanmu. Tetapi bagaimana bila kubilang, aku tertarik dengan pribadimu?”

Aku pikir pertanyaanku dapat membuatnya sedikit terkejut atau gelagapan, salah tingkah. Tapi dengan tenang ia menjawab, “Aku sudah biasa menerima rayuan.”

Menatap gelas kopinya, aku teringat gelas air putihku yang hangat. Ia tidak memesan apapun untuk pertemuan makan siang pertama kami. Aku memesan kwetiau dan banana split dan mengingat-ingat bentuk sebuah pisang adakalanya mirip dengan sebuah senyuman. Monyet-monyet menyukai pisang karena mengira itu buah yang ramah. Tapi bukan berarti aku mengamini Charles Darwin atau bukan juga dengan membantah Darwin berarti aku setuju dengan Landmark. Aku hanya menyukai pisang, apalagi jika disertai dengan es krim.

“Tentang tokoh fiksi itu…” aku mengembalikan arah pembicaraan pada topik mula-mula. “Dia lelaki yang bagaimana?”

“Nah, itu, aku juga tidak tahu persisnya, menurutku dia seorang yang egois…”

“Egois?”

“Iya betul. Temanku bilang, kadang-kadang dia merasa tokoh fiksinya itu tidak mau diberi karakter yang sesuai dengan isi kepala temanku. Dia suka berontak. Termasuk dalam cerita ini. Bayangkan, dia ingin perempuan tunduk di bawah kaki para lelaki.”

“Jadi dia seorang maskulin sejati atau antifeminisme begitu?”

“Tidak tahu juga, ya… dia tidak melarang istrinya bekerja asalkan setiap jam makan, terutama makan siang, meja makan harus sudah tersiapkan segala sesuatunya. Semua makanan yang dia suka harus ada di sana. Itu menggelikan, bukan?”

“Memangnya apa makanan kesukaannya?”

“Apa ya? Umm… sebentar aku ingat-ingat dulu.”

Lalu temanku itu tampak berpikir serius. Dia mengernyitkan alisnya, menaikkan bola matanya satu bergantian. Aku pun membayangkan bola lampu di sisi atas kepalanya. Aku tidak peduli benar apakah bola lampu itu ditemukan Thomas Alfa Edison atau sebenarnya ia mencurinya dari Tesla. Hanya aku merasa penasaran siapa orang pertama yang memetaforakan ingatan, ide, solusi, dengan bola lampu. Di situ kadang aku merasa geli sendiri jika setiap bola lampu butuh listrik untuk menyala, dan setiap aliran listrik harus dibayar setiap bulannya, dan setiap tahun kenaikan tarif dasar listrik bisa terjadi, berapa banyak uang yang harus dibayar untuk memasang bola lampu imajiner itu di atas kepala manusia. Barangkali juga karena sadar hal itu, bola lampu itu tidak sering-sering menyala sebagai upaya penghematan. Namun sehemat-hematnya, setidak begitu seringnya bola lampu itu menyala, abodemennya juga tetap harus dibayar.

“Ah iya, sayur bayam. Dia suka sayur bayam!” teriak temanku kencang-kencang. Semua pelanggan kafe yang lain menoleh ke arah kami.

“Hush, jangan ndeso kamu. Pelan-pelan saja ngomongnya.”

“Ya tapi ini kan ekspresiku. Ini barangkali persis seperti ketika Newton kejatuhan apel dan menemukan hukum gravitasi. Senang. Ketemu. Kau sih tak pernah mengalami hal-hal semenarik menemukan ingatan.”

Aku tidak bermaksud mengganggu kesumringahan temanku itu tatkala kukatakan padanya bahwa Newton dan apel itu cuma mitos. Kenyataannya, butuh sekitar 20 tahun bagi Newton untuk merumuskan Hukum Gravitasi.

“Kamu pernah dengar teori 10.000 jam?” tanyaku untuk membuatnya tak bersungut-sungut lagi. “Begini, untuk mahir dalam sesuatu, seseorang harus berlatih minimal 10.000 jam dalam 10 tahun. Di bidang apa saja. Aku pikir jika seseorang sudah berlatih berpikir dalam 10.000 jam, selanjutnya orang itu tak akan kesulitan lagi untuk berpikir.”

“Kau menyinggungku?” tanyanya masih dengan nada yang marah.

“Tidak, bukan begitu. Walau ada iyanya juga sih. Kalau kita terbiasa mengingat sesuatu, sudah 10.000 jam mengingat-ingat sesuatu, selanjutnya, kita tak perlu mengingat-ingat untuk mengingat sesuatu itu. Kalau temanmu sudah menulis 10.000 jam, aku yakin juga, ia tidak perlu khawatir tokoh fiksinya berontak kepadanya. Dan kalau istri tokoh fiksi itu sudah berlatih 10.000 jam untuk bisa memasak, maka ia akan bisa memasak dan mampu menyiapkan meja makan dan seluruh isinya dengan cepat.” Aku cukup puas menciptakan kesimpulan ini.

“Tapi itu tidak menjawab pertanyaanku. Kau ini bodoh, ya?”

Aku tidak percaya pada responnya. Padahal aku sudah berusaha terlihat pintar dengan mengatakan teori-teori itu.

“Pertanyaanku adalah, apakah setiap perempuan harus pandai memasak dan apakah setiap tokoh fiksi, perempuan, juga harus pandai memasak? Aku sengaja membedakan keduanya, perempuan dan tokoh fiksi perempuan karena aku pikir ya, mungkin, keduanya punya realitas yang berbeda… meski aku tidak tahu juga apa fiksi pantas disebut realitas.”

“Itu hal yang menarik, aku juga bertanya-tanya, apakah tokoh fiksi mampu membedakan realitas dan bukan realitas?”

“Kau ini… tolong jawab saja pertanyaanku tadi. Sebentar lagi jam makan siang ini akan berakhir dan aku harus kembali ke kantorku.”

“Jika aku menjawab pertanyaanmu, apakah kita masih akan bertemu lagi? Aku tidak tahu kenapa, aku punya perasaan, jika aku menjawabnya, apapun jawabanku, kamu tidak akan mau menemui aku lagi.”

Pesananku itu, kwetiau dan banana split, juga belum datang. Ketika melihat daftar menu, pada saat kami baru bertemu, ia menertawakanku karena memesan masakan yang menurutnya masakan Cina di restoran Padang. Tapi itu bukan salahku karena bukan aku yang mencantumkan kwetiau sebagai salah satu menu.

Yang terpenting dari manusia adalah waktu, tapi sudah setengah jam lebih kuhamburkan waktu untuk pertanyaannya. Aku yakin pertanyaan dan jawaban itu tidak penting bagiku karena keduanya bisa dihilangkan dari seratus juta lebih daftar alasan kenapa aku harus bertemu dengannya.

“Sepertinya aku kenal dengan temanmu itu…” kataku lagi. “Dia pasti seseorang yang gendut dan kurang ajar. Dia selalu berpikir setiap cerita harus memiliki akhir yang bahagia, bagaimanapun peliknya alur yang dia ciptakan.”

Temanku itu tampak keheran-heranan mendengar kalimatku barusan. Dia yang baru saja menghabiskan isi gelas kopinya, merapikan jaket yang dikenakannya, dan memasang topi di kepalanya—topi bertuliskan Ketika Fiksi Tak Cukup Lagi—kembali menatapku lekat.

“Apa maksud kalimatmu itu?” Nadanya agak memaksa.

“Kamu tahu Popeye? Aku menontonnya waktu kecil. Jadi aku suka bayam. Itu kebenaran, tapi temanmu berbohong tentang satu hal atau justru dia tidak bisa membaca perasaan tokoh fiksinya sendiri. Semua yang disangkakannya itu keliru. Aku tidak pernah menuntut seperti itu.” Aku menghentikan kalimatku dan kuingat istriku di rumah yang sedang menangis karena aku. Sungguh sial, perutku yang kelaparan belum juga terisi siang ini. Aku tidak tahu apakah temanku itu mengerti yang kubicarakan atau tidak. Ketika dia masih tampak mencerna kalimat-kalimatku, aku berdiri, dan memegarkan payung yang kubawa dari rumah. “Seharusnya jika aku penulisnya, aku akan segera menurunkan hujan dengan sangat deras. Itu akan tampak menggetirkan. Setidaknya itu dapat menutupi betapa menggetirkannya seorang tokoh fiksi yang tidak mampu membedakan realitas dan bukan realitas….”

 

 

Lomba Cerpen Lahat (Deadline 1 April 2015)

Syarat Umum:

  1. Peserta adalah WNI.
  2. Tema: “Kekayaan Bangsa Indonesia dalam Kehidupan Berbudaya.”
  3. Konten cerpen tidak boleh memicu SARA atau yang mendorong semangat fanatik sempit, picik, anti-refleksi dan anti-pembelajaran, pelecehan terhadap kemanusiaan.
  4. Sesuai dengan tema, konten membicarakan kekayaan sumber daya alam Indonesia yang mana kekayaan itu sangat memberi pengaruh terhadap kehidupan ekonomi, politik, dan budaya suatu tempat atau lokal.
  5. Cerita pendek harus memiliki/mengandung Kisah.
  6. Naskah harus karya asli secara keseluruhan, dan bukan terjemahan atau saduran.
  7. Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik ataupun online, dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
  8. Peserta hanya boleh mengirimkan 1 naskah terbaiknya.
  9. Naskah yang dikirim menjadi milik panitia penyelenggara, dengan hak cipta tetap pada penulis.
  10. Hak untuk mempublikasikan naskah peserta dan para pemenang menjadi sepenuhnya milik penyelenggara lomba, dan tidak diperkenankan mempublikasikannya di media lain, terkecuali bila penulis yang bersangkutan ingin membukukannya dalam antologi atau karya tunggalnya sendiri.
  11. Hak penerbitan dalam bentuk buku sepenuhnya ada di tangan penulis.
  12. Setiap naskah yang dikirim akan ditampilkan di marwanmansyur.org
  13. Naskah yang tidak sesuai dengan persyaratan tidak akan ditampilkan di marwanmansyur.org dan tidak akan disertakan dalam proses penjurian .
  14. Penyelenggara lomba berhak mengganti judul dan menyunting, tanpa mengubah isi.
  15. Keputusan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak ada surat-menyurat.
  16. Dewan juri akan mempertanggungjawabkan secara tekstual atas alasan mengapa naskah menjadi pemenang. Dan akan dipublikasikan di bawah bersama naskah pemenang di media yang sama.
  17. Lomba dibuka tanggal 1 Maret 2015 dan akan ditutup pada tanggal 1 April
  18. Pengumuman pemenang berikut publikasinya dapat dilihat di marwanmansyur.org pada tanggal 30 April 2015.
  19. Pajak ditanggung Panitia.

Continue reading Lomba Cerpen Lahat (Deadline 1 April 2015)

Novel 4 Musim Cinta

10952008_10152840538994794_1183052442_n

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

Kau pernah membayangkan ada sebuah novel yang ditulis oleh 4 orang dengan karakter yang berbeda-beda?

Barangkali, novel 4 Musim Cinta dapat memberikanmu jawaban atas itu.

Empat orang PNS dari Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan yang menulis novel ini. Mereka adalah Mandewi, Puguh Hermawan, Abdul Gafur dan Pringadi Abdi Surya. Nama terakhir tak asing karena ialah pemilik blog ini.

Kisah ini bermula dari persahabatan keempatnya. Mereka bertemu di sebuah diklat. Di sanalah, musim semi dimulai bagi Pring (si penulis memang suka menggunakan namanya sendiri sebagai nama tokoh). Pring merasa ada yang berbeda dari Gayatri. Ia berbincang dengan gadis Bali itu dan merasa jantungnya seperti dikapak oleh kakek penebang pohon. Jatuh cinta itu indah, tetapi tidak bagi yang sudah menikah.

Sementara Gayatri harus melupakan masa lalunya, Adam, yang berpisah darinya karena perbedaan-perbedaan yang ada. Ia juga didera kebencian atas pekerjaannya yang membuatnya tak dapat menghindari ngaben Aji/ayahnya. Hatinya membeku. Tapi, puisi-puisi dari Pring mulai melelehkannya.

Teman sekamar Pring ketika diklat, Gafur, punya gairah hidup yang membara. Percintaannya dengan seorang barista selalu membicarakan–mempertanyakan dunia. Ia tidak tahu, bahwa sahabatnya sendiri, Arga, juga menyukai gadis itu.

Di sini, di antara persahabatan, segalanya dimulai dan mungkin juga harus diakhiri.

Apa kau penasaran bagaimana nasib keempat orang ini?

NANTIKAN 4 MUSIM CINTA, TERBIT 13 MARET 2015.

Dapat dipesan langsung ke 085239949448 ya kalau mau yang bertanda tangan, atau nantikan di toko buku terdekat kamu.

 

Bercermin pada Natsuo Kirino

 

Aku harus berterima kasih kepada Ardy Kresna Crenata karena suatu hari dia menyebut Natsuo Kirino di statusnya. Tidak lama setelah itu, aku pulang ke Palembang, dan melihat satu buku masih terbungkus plastik tergeletak di atas meja. Buku itu kakakku yang beli. Judulnya Grotesque. Pengarangnya Natsuo Kirino.

Grotesque bicara lebih dari perempuan. Grotesque juga bicara lebih dari hierarki sosial. Grotesque menunjukkan kepadaku bahwa kebahagiaan memiliki makna yang unik. Ketika selesai membaca novel ini, salah satu pertanyaan yang muncul di benakku adalah siapakah di antara tokoh-tokohnya yang merasa paling bahagia?

Aku jadi ingat masa laluku. Ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar, tepatnya kenaikan kelas 4 SD, hidupku berubah. Kala itu ada tes satu kecamatan untuk menentukan siapa saja yang masuk ke kelas unggulan. Tesnya tertulis. Sebelumnya di kelas 3, aku selalu menduduki peringkat III selama 3 caturwulan berturut-turut. Di atasku ada Mega, anak tentara pindahan dari Jakarta yang sepertinya sudah mengenyam pendidikan lebih baik. Juga Mursal, yang selalu menduduki peringkat II. Tapi tak disangka, pada tes itu, nilaiku terbaik se-Kecamatan.

Aku bukanlah murid yang menonjol di kelas. Aku menyadari aku cukup cerdas, tetapi aku tidak pernah aktif di kelas. Aku tidak pernah maju atau pun menunjukkan tangan ketika guru bertanya. Aku diam saja di bangkuku, dan mencoret-coreti buku tulisku itu.

Aku dipanggil ke ruangan Kepala Sekolah. Di sana sudah ada pejabat dari Dinas Pendidikan. Kepala Sekolahku bertanya, “Kamu anaknya siapa?” Aku menjawab nama Bapakku. Dan ia manggut-manggut dan berkata, “Pantas saja. Bibitnya sudah unggul.”

Hari itu, di awal kelas 4 SD, aku memahami makna kalimat tersebut dan menanggungnya di pundakku seakan-akan aku hidup di bawah nama orang tuaku. Di sisi lain, saat itu aku sudah berpikir, suatu hari aku harus keluar dari bayang-bayang orang tuaku.

Grotesque juga bicara itu. Pendidikan dan orang tua. Keluarga-keluarga kaya memasukkan anak-anaknya di sekolah berkualitas sejak sekolah dasar untuk menempuh hidup yang lebih baik. Di luar itu, keluarga lain begitu bangga ketika pada masa sekolah menengah, sekolah lanjutan, ada anaknya yang berhasil masuk ke dalam sistem tersebut. Satu strata terbentuk dari jenjang pendidikan. Mereka yang berpendidikan di sekolah yang bagus akan lebih mungkin mendapat pekerjaan yang lebih baik. Dan nilai manusia ditentukan dari situ.

Itulah yang ada di benak Kazue Sato. Ia berusaha mati-matian untuk masuk ke dalam sistem. Ketika sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan papan atas G, ia justru bekerja sampingan sebagai pelacur demi targetnya mendapatkan tabungan 10 juta yen sebelum umur 40 tahun. Dengan demikian, ia bisa menghabiskan sisa hidupnya dalam kenyamanan dan melepaskan diri dari bayang-bayang keluarganya. Ya, sejak kematian ayahnya, lulusan universitas Tokoyo, yang menerapkan strata pendidikan secara ketat, ia menjadi tulang punggung keluarga dan menganggap keluarganya sebagai beban penghidupan.

Jalan hidup Kazue juga tak terlepas dari peran Yuriko. Ketika Kazue melihatnya di masa sekolah, kecantikannya yang luar biasa (sampai-sampai disebut Monster) membuat Kazue terpana. Bahkan nama jalanannya adalah Yuri. Diambil dari Yuriko. Betapa terkejutnya ketika suatu malam ia melihat Yuriko yang bak siang dan malam dengannya itu juga menjadi pelacur jalanan dengan lapisan lemak yang menumpuk. Kecantikannya memudar dimakan usia.

Lalu, apakah Yuriko tidak bahagia dengan jalan hidupnya? Dalam bersitan pemikiran sang tokoh utama, Yuriko memanglah perempuan yang tak bisa tanpa air. Sejak keperawanannya hilang oleh pamannya sendiri, ia begitu menyukai seks. Dengan seks, ia bisa berada di atas laki-laki. Itu yang ada di benak Kazue juga. Dengan seks pula, Yuriko bebas dari segala hierarki sosial yang ada. Ia bisa bercinta dengan ia siapa saja. Ia juga bisa bercinta demi tiga juta yen atau pun tiga ribu yen.

Beda lagi dengan Mitsuru yang menjadi murid terpintar di sekolah. Ia harus menyewa tempat tinggal di tempat yang lebih mewah, membayar mahal untuk itu, padahal ibunya adalah pemilik bar. Meski dari sisi akademis ia mendapatkan semua yang diinginkan, ia kemudian terjebak dalam aliran keagamaan tertentu demi hierarki yang lebih tinggi. Andai, ia tetap berpuas diri pada apa yang telah diraihnya, mungkin ia akan jadi dokter selamanya. Tapi, apakah Mitsuru tidak bahagia setelah dua tahun dipenjara dan menyaksikan suaminya dihukum seumur hidup?

Keengganan Mitsuru yang lahir dan punya ibu di distrik P, sebuah tempat non-elite, juga menjadi pertanyaan bagi Zhang, pembunuh Yuriko. Zhang yang lahir sebagai anak dusun selalu bertanya, apakah hidup kita ditentukan dari tempat lahir kita?

Kini, giliran aku yang berpikir tentang sebuah dalil yang mengatakan semua bayi itu suci dan tidak berdosa. Orang tualah yang menentukan mereka Islam, Yahudi, Nasrani atau Majusi. Apakah itu juga berarti orang tuanya juga yang menentukan strata hidup anaknya? Seorang anak yang dilahirkan di keluarga kaya akan menikmati kemewahan dan status sosial yang diberikan ayahnya. Tetapi anak yang dilahirkan di keluarga miskin, akan hidup di atas kemiskinan itu. Tentu sangat sedikit orang tidak berada yang bisa menaikkan status hidupnya. Begitu pun sangat sedikit orang yang sudah kaya dan terhormat mendadak bisa turun menjadi melarat.

Hidup seperti ini menggangguku. Sepanjang membaca Grotesque, aku begitu gelisah dan tak dapat tak berpikir, bagaimana hidup seperti ini ada?

PS:
Sampai terakhir, aku tak tahu nama tokoh utamanya. Siapa nama kakak Yuriko?
Apakah dengan demikian, Natsuo Kirino hendak berkata diri kita yang bercerita tidak pernah penting dari apa-apa yang ada di dalam cerita?