Belajar dari Big Hero 6

Ada pelajaran penting dari film Big Hero 6. Bukan karena aku menonton itu bersama Zane, satu kali pergi ke WC, dan berhasil tertawa terbahak-bahak karena humor di dalamnya. Tetapi ketika Tadashi berhasil menggoda Hiro Hamada untuk pergi kuliah bersamanya.

“Apa yang harus kulakukan agar bisa diterima di universitas kutu buku?” tanya Hiro Hamada.

Dengan tersenyum, Tadashi bilang Hiro hanya perlu menunjukkan karyanya di pameran robotik universitas tersebut.

Manusia dihargai dari karyanya. Aku melihat Indonesia belum menghargai karya-karya anak bangsanya. Pendidikan di Indonesia masih berorientasi pada angka. Anak yang pintar yang ulangannya dapat 10, kelulusan dinilai dari ujian, kualifikasi lamaran kerja menyaratkan IPK, dan semacamnya. Alhasil, produk pendidikan itu adalah manusia dengan profil nilai, bukan profil karya.

Kabar baik baru-baru ini, setiap mahasiswa harus menulis jurnal ilmiah sebelum meraih gelar sarjananya. Hal seperti itu harusnya dimulai sejak dini. Setiap seleksi apapun, haruslah menyertakan assignment, tugas, yang merepresentasikan dirinya.

Mau masuk kuliah di jurusan Matematika, ada syarat bikin esai tentang Matematika di dalam hidup. Mau assessment eselon 3 di suatu instansi, juga harus menulis pandangannya tentang instansi dari sudut pandang eselon 3. Dengan cara itu, manusia-manusia Indonesia dituntut berpikir kritis, dan mempunyai cakrawala terhadap bidang yang akan digelutinya.

Nah, sudahkah kamu berkarya, menuliskan pandangan-pandanganmu sesuai bidangmu saat ini?

UFO di Kushiro, Haruki Murakami

LIMA hari berturut-turut perempuan itu menghabiskan waktunya di depan televisi, mengamati reruntuhan bank dan rumah sakit, toko-toko yang terbakar, rel kereta api dan jalan raya yang terhambat. Ia tak mengucapkan satu kata pun. Terbaring di bantal sofa, mulutnya terkatup rapat. Ia tak menjawab ketika Komura mengajaknya bicara. Ia tak menggelengkan kepala ataupun mengangguk. Komura bahkan tak yakin suaranya itu sampai di telinga perempuan itu.

Perempuan itu berasal dari utara jauh di Yamagata dan, sejauh yang Komura tahu, istrinya itu tak punya keluarga atau kerabat yang mungkin menjadi salah satu korban gempa bumi di Kobe. Meskipun begitu, perempuan itu terus berada di depan televisi dari pagi hingga malam. Dalam pengamatan Komura, perempuan itu tak meminum atau memakan apa pun selama itu, dan tak juga beranjak ke kamar mandi. Kecuali untuk mengambil remote dan memindahkan channel, ia nyaris tak bergerak sedikit pun. Komura sendiri mulai terbiasa menyiapkan kopi dan roti bakarnya sendiri sebelum berangkat ke kantor. Setibanya di rumah malam harinya, ia akan mengatasi rasa laparnya dengan camilan yang ia temukan di lemari es; memakannya sendiri. Istrinya itu masih saja mengamati berita-berita di televisi ketika Komura memasuki kamar dan memutuskan untuk tidur. Sebuah dinding sunyi yang tinggi seperti mengelilingi perempuan itu, dan Komura akhirnya menyerah untuk merobohkan dinding tersebut.

Ketika ia tiba di rumah sehabis kerja pada hari Minggu itu, hari ketujuh, istrinya menghilang.

KOMURA adalah seorang salesman di salah satu toko peralatan elektronik tertua di “Kota Elektronik” Akihabara, Tokyo. Ia menangani barang-barang paling mahal dan mendapatkan komisi yang sangat lumayan setiap kali ia berhasil menjual salah satunya. Kebanyakan kliennya adalah dokter, pebisnis kaya, dan pegawai pemerintahan. Ia telah melakukan hal ini selama delapan tahun dan memiliki pendapatan yang baik dari sejak ia memulainya. Perekonomian sendiri memang sedang bagus; harga-harga real-estate meningkat dan Jepang sedang kelebihan uang. Dompet orang-orang dipenuhi lembaran puluhan ribu Yen, dan mereka gemas sekali untuk segera membelanjakannya. Barang paling mahal jadi barang pertama yang habis terjual.

Komura orang yang tinggi-langsing dan ia seseorang yang peduli pada penampilannya. Interaksinya baik dengan orang-orang di sekitarnya. Di masa lajangnya ia bahkan berkencan dengan banyak perempuan. Namun sehabis menikah, pada usia dua puluh enam, ia menemukan bahwa hasratnya akan petualangan seksual seperti itu secara misterius lenyap. Begitu saja lenyap. Ia tak pernah tidur dengan perempuan mana pun selain istrinya selama lima tahun pernikahan mereka. Bukan berarti kesempatan itu tak pernah ada, namun memang yang dirasakan Komura adalah lenyapnya hasratnya itu. Ia tak lagi tertarik pada hubungan singkat dan seks-semalam. Ia lebih memilih untuk pulang cepat, makan dengan santai bersama istrinya, berbicara dengan perempuan itu beberapa lama ketika mereka berada di sofa, lalu masuk ke kamar dan bercinta. Semua itu telah memuaskannya.

Teman-teman Komura dibuat bingung oleh pernikahannya itu. Dibandingkan dengan sosoknya yang bersih dan menarik, istrinya justru biasa-biasa saja. Perempuan itu pendek dengan lengan agak besar, dan penampilannya tidak menggairahkan. Dan bukan hanya secara fisik: tak ada juga yang menarik dari kepribadiannya. Perempuan itu jarang bicara dan selalu menunjukkan raut muka masam.

Meskipun begitu, entah bagaimana menjelaskannya, Komura selalu merasa gairahnya meluap saat ia sedang menghabiskan waktu bersama istrinya di rumah; itu adalah satu-satunya saat di mana ia bisa benar-benar merasa rileks. Tidurnya lelap ketika ia bersamanya, tak terusik oleh mimpi aneh yang pernah membuatnya kesulitan di masa silam. Ereksinya sendiri bagus; kehidupan seksnya hangat. Ia tak lagi mencemaskan kematian atau penyakit kelamin atau luasnya alam semesta.

Istrinya, di sisi lain, tidak menyukai keramaian Tokyo dan merindukan Yamagata. Ia merindukan orang tua dan dua kakak perempuannya, dan ia akan pergi mengunjungi mereka kapan pun ia merasa membutuhkannya. Orangtuanya sukses mengelola sebuah penginapan, di mana dengan itulah kondisi keuangan mereka nyaman-nyaman saja. Ayahnya sangat menyukai anak perempuan terkecilnya itu dan dengan senang hati membayarkannya uang perjalanan pulang-pergi. Beberapa kali, Komura tiba di rumah sehabis kerja dan menemukan istrinya itu tak ada dan sebuah memo diletakkan istrinya itu di meja dapur, memberitahunya bahwa istrinya itu sedang mengunjungi orangtuanya untuk beberapa lama. Ia tak pernah menentang apa yang dilakukan istrinya itu. Ia hanya menunggu perempuan itu kembali, dan selalu, setelah seminggu atau sepuluh hari, perempuan itu kembali, dengan suasana hati yang baik.

Tapi memo yang ditinggalkan istrinya ketika perempuan itu lenyap lima hari setelah gempa bumi itu berbeda: Aku tak akan kembali, tulisnya, lalu beralih ke penjelasan, sederhana tapi jelas, mengapa ia tak ingin lagi hidup bersamanya.

Continue reading UFO di Kushiro, Haruki Murakami

Fairy Tail dan Omong Kosong Power Up


Aku tidak tahu apakah ada orang lain di dunia yang juga membayangkan dirinya tiba-tiba dapat power up secara tiba-tiba. Aku sering membayangkan hal demikian. Tiba-tiba aku mendapatkan kekuatan mahadahsyat. Aku bisa terbang, aku bisa mengeluarkan bola energi dari tangan, aku bisa memegang pedang dan satu kali tebasan pedangku memiliki kekuatan penghancur seperti Roronoa Zoro. Aku pun berandai-andai menggunakan kekuatan itu untuk pergi ke Palestina dan sendiri aku menghadang pasukan Israel, menghadang tank-tank, menebas pesawat-pesawat tempur dengan begitu heroiknya.

Sampai juga perandaian itu terbawa-bawa ke dalam mimpi.

Semalam aku baru memimpikan hal itu. Aku punya kekuatan seperti Son Go Ku, tapi anehnya aku lupa cara mengeluarkan kamehameha. Padahal musuh di depan mata. Alhasil aku dihajar habis-habisan. Ketika sadar, aku terbangun dan jam menunjukkan pukul 06.30. Ada 2 panggilan tak terjawab dari Bapak. Aku sadar aku belum shalat Subuh.

Hidup tentu tidak seomong kosong komik-komik seperti Fairy Tail, yang tokoh-tokohnya bisa mendadak hebat, meningkatkan kekuatan untuk mengalahkan musuh bahkan dalam satu serangan mutlak.

Kebanyakan komik memang menyaratkan itu. Dihajar berkali-kali, sang tokoh baik tidak juga kalah, namun dalam satu pukulan balasan, musuh yang harusnya begitu kuat langsung KO seketika. Sebagai pembaca serius, aku tak menyukai hal seperti itu. Aku menyukai komik-komik yang sedikit realistis.

Sebab ada satu hal yang membedakan fiksi dari kenyataan, yakni fiksi harus masuk akal.

Karena itulah aku menyukai Hanamichi Sakuragi dalam komik Slam Dunk. Selain dia pernah dipecundangi Sendoh, kalah dari Kainan Daifozoku, Sakuragi kemudian membawa kemenangan tak terduga melawan juara bertahan Sannoh Kogyo dengan sebelumnya melakukan latihan yang amat keras. Bukan hanya itu, kemenangan itu diraih dengan pengorbanan. Sakuragi cedera parah. Sohoku habis-habisan dan tersingkir di pertandingan berikutnya.

Cerita seperti itu sangat manusiawi dan tidak mungkin kulupakan seumur hidupku.

Kata kuncinya adalah usaha dan kerja keras. Tidak mungkin dalam hidup ini kita meraih hal yang instan. Aku meyakini itu dan percaya, aku tak boleh takut gagal. Aku harus menghabiskan satu per satu stok gagal selagi muda biar nanti kutuai hasil keberhasilannya.

Kamu, apakah kamu takut gagal?

Sikap dan Perubahan Sikap

Aku menyadari betul bahwa sikap penting bagi seseorang. Sikap itulah yang akan menentukan identitas. Seperti homofictus, kemoderatan pada dasarnya tidak bisa ditoleransi. Kemoderatan bisa berarti abu-abu, ketidakteguhan dalam mengambil sikap. Homofictus yang moderat tidak akan menghasilkan konflik cerita yang kuat. Manusia yang moderat pada akhirnya akan menjadi politikus banci.

Manusia adalah makhluk politik. Setiap langkahnya bisa jadi merupakan langkah politik.

Terkait dengan berita hari ini, Presiden Jokowi baru saja menaikkan harga BBM, beberapa sikap pun lahir. Ada yang dengan tegas menolak, konsisten menolak kenaikan harga BBM, dan ada yang tegas menerima keputusan tersebut. Ada pula yang pernah menolak kenaikan BBM, sekarang justru menerima keputusan itu. Juga ada yang pernah menerima kenaikan BBM, sekarang malah menolaknya. Sikap dan perubahan sikap adalah sisi natural dalam diri manusia. Namun, perlu ditelaah lebih jauh mengenai motif dari perubahan terbesar itu.

Aku sendiri juga mengalami perubahan sikap atas isu besar itu.

Baru ketika kuliah di STAN, aku mulai peduli pada topik ini. Demo kenaikan harga BBM pada saat itu aku ledek karena kondisi minyak dunia yang sedang mengalami kenaikan, bulb effect minyak hitam, terang saja membebani APBN. Kenaikan harga adalah keniscayaan.

Tetapi sikapku justru berubah beberapa tahun kemudian karena pengetahuan baru. Aku menolak kenaikan harga BBM. Bahkan aku sempat bersitegang dengan kepala kantorku karena aku mengejek pemasangan spanduk KPPN mendukung kenaikan harga BBM sebagai upaya penjilatan dan pencitraan. Aku tak sudi KPPN dijadikan alat oleh pemerintah untuk hal-hal seperti itu. Apalagi dasarnya adalah surat edaran. Surat edaran tentu tidak punya kekuatan hukum. Surat edaran hanya berisi imbauan. Aku menampik itu.

Pada saat itu aku mulai mengikuti topik-topik mengenai migas lebih dalam. Ucapan-ucapan Kwik Kian Gie, Kurtubi di televisi menjadi bahan yang baik untuk dipelajari. Jangan sebut Ichsanuddin Noor. Bagiku dia omong kosong. Pengetahuannya buruk dan out of date.

Pertanyaannya saat itu adalah apa sebenarnya subsidi itu? Apa yang sebenarnya disubsidi itu?

Ya, pengelolaan migas tak pernah jujur, termasuk dalam penentuan harga. Produksi minyak dalam negeri sebesar A dengan harga produksi X kemudian harus melalui mekanisme trading di Petral untuk kemudian dibeli dengan harga Y oleh Pertamina. Pemerintah kemudian memberi subsidi atas Y menjadi harga Z. Bukan hanya itu saja masalahnya, bensin yang masuk ke Indonesia adalah ron 88, kualitas paling rendah yang tidak beredar di Eropa. Ron 88 ini dibeli dengan harga Y (harga untuk ron 93 yang kualitasnya baik). Terlihat sekali, ada permainan besar migas di republik ini.

Mekanisme trading ini ditengarai sebagai momoknya. Kita sebenarnya bisa membeli langsung minyak dengan harga X. Pertamina boleh menetapkan harga X lebih dari harga produksi murni (dengan memasukkan biaya pengembangan, dll). Atau pernah ketika Ahmadinejad datang ke Indonesia dan menawarkan minyak dengan harga lebih murah, tetapi tak ditanggapi. Dan itu sekarang diinisiasi oleh Jokowi dengan melakukan kerja sama dengan Angola. Peran Petral memang mau tidak mau harus dilenyapkan segera!

Masuk kembali ke dunia kuliah, aku melihat negara dari sisi manajemen keuangan publik. Keadaan di 2014 ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tapi pertanyaannya bukan lagi kenapa kita harus menaikkan harga BBM, tetapi kenapa kita harus mencabut subsidi BBM?

Pada saat ini, negara tidak punya uang. Target penerimaan pajak jauh panggang dari api. Bahkan sempat tagihan ke negara tidak bisa dibayar pada beberapa minggu yang lalu, menunggu ketersediaan dana.

Dengan sisa waktu yang ada, dengan bakal melonjaknya transaksi di November dan Desember, APBN kita akan sangat terbebani bila belanja subsidi masih ada. Bahkan bila seluruh belanja subsidi BBM dicabut pun, kita tetap mesti berutang lagi (menambah utang dari sebelumnya 54 T) untuk mendanai belanja negara yang belum terealisasi itu. Karena sudah diprediksi, penerimaan negara tak akan sanggup mengkover itu.

Pemerintah harus membuat pilihan, bukan? Itulah arti kebijakan.

Namun, bila bicara 2015 dan tahun-tahun selanjutnya. Kenaikan harga BBM ini perlu dengan syarat kita akan mengubah arah fiskal kita. Aku akan bahas ini lain kali. Karena A. Prasetyantoko sudah membahasnya dengan sangat baik di koran beberapa hari lalu, aku butuh sudut pandang yang lebih segar.

Ya, apa pun itu, kepada kalian yang merasa mampu membeli mobil, mampu membeli motor untuk penggunaan pribadi, harap malulah dan segera beli Pertamax. Subsidi BBM tidak tepat sasaran selama ini gara-gara kita lho ya.

Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono

sapardi-djoko-damono3
Pada Suatu Pagi Hari
 
Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil
Berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun
Rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil
Menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
Memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin
Menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di
Lorong sepi pada suatu pagi.
Pada Suatu Hari Nanti
 
pada suatu hari nanti
jasadku takakan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetapa kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari
Di Restoran
 
Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
Ilalang panjang dan bunga rumput –
Kau entah memesan apa. Aku memesan
Batu di tengah sungai terjal yang deras –
Kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
Saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
Yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
Memesan rasa lapar yang asing itu.
Dalam Sakit
 
waktu lonceng berbunyi
percakapan merendah, kita kembali menanti-nanti
kau berbisik: siapa lagi akan tiba
siapa lagi menjemputmu berangkat berduka
di ruangan ini kita gaib dalam gema. Di luar malam hari
mengendap, kekal dalam rahasia
kita pun setia memulai percakapan kembali
seakan abadi, menanti-nanti lonceng berbunyi
Dalam Diriku
 
dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma.
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya
Akulah Si Telaga
 
akulah si telaga: berlayarlah di atasnya
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil
yang menggerakkan bunga-bunga padma
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya,
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja perahumu
biar aku yang menjaganya
Aku Ingin
 
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Juara II Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas 2012

Sekian Fragmen Perjalanan, Ketika Aku dan Kau Memutuskan

Pergi atau Kembali demi Menuntaskan Rindu dan Kerinduan

I.

Hujan turun tipis. Kau bersiap menepis kenyataan bahwa kita duduk berhadap-hadapan, memesan dua gelas jahe, dengan madu dan coklat, dan orang-orang menatap kita dengan pandangan yang berkilat. Aku ingin meminta sesaat, mencari detak jantung yang berisik, pelan kian melubangi dada seperti peluru berkaliber berat. Kau meneguk satu gelas, dan gelas-gelasnya pecah seperti udara yang berebut masuk ke hidung, memenuhi paru-paru, meledakkannya jadi remah roti milik Hansel Gretel.

Dan hujan berteriak, seperti raungan burung koak. Beberapa milik kenangan tercerai berai, pontang-panting, tunggang-langgang, meloncat dua meter ke langit, tersangkut di pohon perdu. Kau yang merindu, tapi ombak terlalu tinggi dan angin yang kemarin memejam, bangun malam ini.

Suara, tidakkah ini tampak begitu ganjil? Aku dan bayangan kompak saling bermusuhan?

II.

Karena para perokok mengadakan rapat di dekat jembatan, lupa mandi pagi dan gosok gigi, asap-asap terkepul lalu berkumpul di langit. Burung-burung pingsan, banyak anak sekolah kesiangan. Seorang pegawai KPPN lupa absen dan hendak menyalahkan hujan yang akrab memeluk dirinya. Dia melihat ke atas, dua jejak asap mula-mula sebesar bola ping pong melebar menyerupai cendawan. Seseorang telah meledakkan C4, Seseorang telah meledakkan C4! Dia menjerit, pegawai negeri di imigrasi dan pengadilan negeri ikut

berhamburan, panik dan mulai belajar mengatupkan tangan kembali, memohon kiamat tidak terjadi hari itu dengan alasan terlalu banyak dosa dan paspor-paspor terbengkalai, devisa negara akan berkurang karena para TKI gagal berangkat.

Padahal, para perokok hanya saling berlomba mengepulkan asap yang paling gagah seperti adu kelamin yang tabah bercinta dengan sesuatu bernama sunyi.

III.

Janus jatuh di pohon mangga. Anak kecil yang biasa bermain sepeda terbangun, keluar kamar dengan mengendap. Padahal malam masih muda, jalan-jalan sekitar Sumbawa masih ramai, berpasang kekasih saling bertukar anai-anai. Tapi kumbang telah tidur, katak telah tidur, lalat-lalat yang biasa mengacau, menghindari nyala lilin juga telah tidur.

Pukul 21 Wita, ada Janus di luar sedang menyembunyikan salah satu wajahnya, ada aku di dalam sedang mencari satu-satunya wajah.

IV.

Malaikat yang mematahkan sayapnya itu menyamar menjadi dirimu. Matahari ada sembilan, satu di langit dan sisanya mengitari Kau sebagai pusat galaksi. Aku hanya seekor bulan yang hendak mengorbit di sebuah planet, agar air dapat pasang surut dan dongeng tentang pungguk jadi abadi.

V.

Maka, langit terbuat dari kecap. Hitam pekat dan kental. Sekoloni semut berusaha memanjatnya tapi tak ada sulur pohon dari surga, tak ada dinding pondasi cakar ayam yang kuat menantang udara yang tipis, dikuasai nitrogen dan karbondioksida. Aku menduga, bila kiamat tiba, sehektar cabe akan mekar mula-mula lalu tumbuh besar seperti dongeng milik Jack, berbuah, meletus dan langit jadi warna merah, pedas, membara. Orang-orang yang tadinya takut diabetes pergi ke WC, membuka celana dan menunaikan haknya yang paling asasi, tapi berkali-kali sampai dehidrasi. Rumah sakit penuh. Dokter-dokter yang tak makan seminggu kewalahan dan mayat-mayat bergelimpangan terlantar di jalan-jalan karena ongkos ambulance yang kian mahal sesuai teori ekonomi Adam Smith. Maka di dunia lain, Smith menggerutu dan menggugat Tuhan, meminta dipercepat saja kiamatnya biar tak makin banyak tuntutan dialamatkan kepadanya.

Dunia awalnya amat sederhana, langit terbuat dari kecap. Kita di dalam botol, saling mencecap bibir masing-masing.

(2012)

 

  • PENGUMUMAN LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL KOMUNITAS KOPI ANDALAS 2012

Panitia Lomba Cipta Puisi Kopi Andalas telah menerima 150 karya dari 69 penulis seluruh Indonesia. 150 karya tersebut sebelumnya diserahkan oleh panitia kepada dewan juri dengan menghilangkan  nama penulis dan menggantinya dengan angka, hal ini mengingat panitia memperlakukan puisi dengan status yang sama tanpa melihat siapa pengarangnya. Seperti diketahui sebelumnya, setiap peserta dikenakan biaya sebesar sepuluh ribu/puisi. Inilah yang mendasari panitia menyamakan status puisi yang masuk ke ruang panitia. Puisi yang disusun acak berdasarkan angka tersebut diberikan oleh panitia kepada dewan juri pada tanggal 15 Januari 2013, adapun dewan jurinya adalah :

–   Rusli Marzuki Saria (Penyair Senior Sumatera Barat)

–   Zelfeni Wimra (Penyair dan Cerpenis)

–   Muhammad Ibrahim Ilyas (Penyair dan Budayawan)

Ketiga dewan juri tersebut melakukan akumulasi penilaian pada Selasa, 29 Januari 2013 di Taman Budaya, Sumatera Barat dan memutuskan hasil sebagai berikut :

Keputusan Pertama :

Puisi terbaik I dengan nomor puisi 45, dengan judul “Makassar”

Puisi terbaik II dengan nomor puisi 32 dengan judul “Sekian Fragmen Perjalanan, Ketika Aku dan Kau Memutuskan Pergi atau Kembali Demi Menuntaskan Rindu dan Kerinduan”

Puisi terbaik III dengan nomor puisi 15, dengan judul “Gambar Kecil di Meja Belajar Budi”

Keputusan Kedua:

Selain memilih tiga puisi terbaik yang menjadi pemenang, dewan juri hanya merekomendasikan 52 puisiyang layak untuk dibukukan oleh panitia, termasuk tiga karya terbaik.

Dua keputusan dewan juri di atas, menjadi acuan panitia yang tidak dapat diganggu gugat oleh peserta dikemudian hari. Akhirnya panitia pada Rabu, 30 Januari 2013 mengumumkan pemuncak dalam Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas adalah :

  1. Puisi terbaik I dengan nomor puisi 45, dengan judul Makassar”karya Bara Pattyradja.
  2. Puisi terbaik II dengan nomor puisi 32 dengan judul “Sekian Fragmen Perjalanan, Ketika Aku danKau MemutuskanPergi atau Kembali Demi Menuntaskan Rindu dan Kerinduan”karya Pringadi Abdi Surya.
  3. Puisi terbaik III dengan nomor puisi 15, dengan judul Gambar Kecil di Meja Belajar Budi”karya Sudianto-Manusia Perahu.

Tiga puisi terbaik akan memperoleh hadiah berupa :

1) Terbaik I : Tabungan Rp. 1.500.000,- +sertifikat+ 2 eks buku antologi

2) Terbaik II : Tabungan Rp. 500.000,- +sertifikat+ 2 eks buku antologi

3) Terbaik III : Tabungan Rp. 500.000,- +sertifikat+ 2 eks buku antologi

   

Kemudian, 49 karya lainnya yang akan dibukukan adalah :

  1. “Menanggalkan Nyawa pada Hujan” karya Faustina Bernadette Hanna Kesuma
  2. “Hikayat Kali Porong” karya Samian Adib
  3. “Laut Menulis Kesunyian” karya Dodi Prananda
  4. “100 Tahun Kematianku” karya Hasan S.Ramadan
  5. “Gerimis Bernama Lin” karya Rahmi Intan Jeyhan
  6. “Kelainan Jiwa” karya Irma Garnesia
  7. “Catatan Tahun Baru” karya Pringadi Abdi Surya
  8. “Hawa” karya Dika Agusta
  9. “Ingin Kutulis Sebuah Sajak” karya Ni Wayan Idayati
  1. “Sajak Galodo” karya Syarifuddin Arifin
  2. “Riwayat Tanah Merah” karya Ahmad Musabbih
  3. “Kukenali Sajak yang Tak Sengaja Membuatmu Jatuh Cinta” karya  Pringadi Abdi Surya
  4. “Kala Itu” karya Dini Riza’i
  5. “Sebuah Perjalanan” karya Samian Adib
  6. “Cerita dari Sungai Junok” karya Frasdia Muzammil
  7. “Perempuan Menggenggam Bara” karya Achmad A.Arifin
  8. “Pecundang Adu Senyum” karya Dika Agusta
  9. “Ode Bagi Senja” karya Ni Wayan Idayati
  10. “Dua Episode Ibu” karya Dodi Prananda
  11. “Obituari” karya Ni Wayan Idayati
  12. “Hujan Desember” karya Syarifuddin Arifin
  13. “Wasiat” karya Bara Pattyradja
  14. “Sajak Untuk Orang Kesepian” karya Irma Garnesia
  15. “Seperti Dakocan” karya Syarifuddin Arifin
  16. “Satu Kilometer Rindu Dari Jantungku” karya Bara Pattyradja
  17. “Laut di Selat Madura”karta Frasdia Muzammil
  18. “Ibu Jadah” karya Samian Adib
  19. “Puisi Buat Baisillah” karya Bara Pattyradja
  20. “Ketika Kita Bertukar Masalalu” Ni Wayan Idayati
  21. “Susu Bersantan” karya Syarifuddin Arifin
  22. “Seperti Perahu” karya Frasdia Muzammil
  23. “Azarenka (1)” karya Budi Setyawan
  24. “Kawan Lama” karya Kemas Verri Rahman
  25. “Aku Pulang” karya Novia Rika Perwitasari
  26. “Di Lerung Kotamu” karya Budi Setyawan
  27.  “Teralis” karya Rahmannisa Atmadja
  28. “Tarian Penutup” karya Rahmi Intan Jeyhan
  29. “ Gita Cinta Anak Negeri” karya Samian Adib
  30. “Carut” karya karya Hasan S.Ramadan
  31. “ Di Ujung Senja” karya Windi Pebri Candra
  32. “Serupa Kembang” karya Nita Rizky Yani
  33. “ Tanah Leluhur” karya Homaedi
  34. “Puisi Penjaja Roti” karya Widya Karima (Dini Widya Herlinda)
  35. “Lubang Telinga Dunia” karya Ganto Swaro (Beni Usman)
  36. “Iktiar Burung” karya Rila Weni Dayanti
  37. “Menembus Kabut Benua” karya Budi Setyawan
  38. “Hari Perayaan” karya Novia Rika Perwitasari
  39. “Sayap Tak Berbulu” karya Anisah Kusuma Nizmasari
  40. “Batas Tiga Dunia” karya Novia Rika Perwitasari

Selamat ! Kami panitia Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas mengucapkan selamat dan terimakasih atas apresiasi rekan-rekan. Pengiriman hadiah baik berupa uang, sertifikat serta buku antologi kepada tiga pemenang terbaik serentak dilaksanakan pada Senin, 25 Februari 2013 mendatang. Hal ini dikarenakan panitia akan mempersiapkan penerbitan buku antologi puisi dan sertifikat pemenang. Hadiah berupa uang, buku antologi dan sertifikat hanya diperuntukkan untuk tiga pemenang terbaik. Jika peserta lainnya yang ingin mendapatkan buku antologi yang kami terbitkan silahkan menghubungi panitia pelaksana atas nama Halvika Padma (083181565044) dan akan dikenakan biaya cetak buku dan pengiriman buku. Kepada tiga peserta puisi terbaik diharapkan segera melakukan konfirmasi kepada panitia atas namaYosefintia Sinta (085288609699) untuk memastikan rekening dan alamat pengiriman nantinya. Salam kopi andalas, salam sastra.

Padang, 31 Januari 2013.12:54 PM