Cerpen Haruki Murakami: Kino

Penerjemah Ika Yuliana. Sumber: Ceruk Aksara

LAKI-LAKI itu selalu duduk di tempat yang sama, di bangku terjauh di ujung meja bar. Ketika tempat itu kosong, tentu saja, tapi bangku itu nyaris tidak pernah ditempati. Barnya jarang penuh sesak, dan tempat duduk itu adalah yang paling tersembunyi sekaligus paling tidak nyaman. Tangga di belakangnya membuat atapnya miring dan rendah, jadi sulit sekali berdiri di sana tanpa membuat kepalamu terbentur. Laki-laki itu tinggi, tapi karena suatu alasan, memilih tempat yang menyempil dan sempit itu.

Kino ingat kali pertama laki-laki itu datang ke barnya. Penampilannya langsung menarik perhatian Kino—kepala gundul kebiruan, tubuh yang kurus tapi berbahu lebar, kilatan mata tajam, tulang pipi menonjol, dan kening yang lebar. Laki-laki itu tampaknya berumur tiga puluhan, dan dia mengenakan jas hujan panjang berwarna abu-abu meskipun tidak sedang turun hujan. Awalnya, Kino menganggap laki-laki itu anggota yakuza yang sedang berjaga di daerahnya. Waktu itu pukul 7.30, pada suatu malam yang dingin di bulan April, dan barnya sedang tak berpengunjung. Laki-laki itu memilih duduk di ujung meja bar, menanggalkan jas hujannya, memesan bir dengan suara pelan, kemudian membaca buku tebal dengan tenang. Setengah jam kemudian, birnya sudah habis, dia mengangkat tangannya satu atau dua inci untuk memanggil Kino, kemudian memesan wiski. “Merek apa?” tanya Kino, tapi laki-laki itu bilang dia tidak punya merek favorit. Continue reading Cerpen Haruki Murakami: Kino

Tidak Mudah Menjadi Hesti-nya Maulidan Rahman Siregar

Apa kabar indonesia?

Maaf jika masih menggunakan huruf kecil.


Orang mungkin akan menyebut Joko Pinurbo atau Hasta Indrayana kalau ditanya siapa penyair yang sajaknya penuh humor dengan makna yang mendalam. Sekarang, nama itu patut ditambah seorang lagi, Si Brewok, bernama Maulidan Rahman Siregar.

Kutipan puisi di atas tampak sederhana. Hanya persoalan penggunaan huruf kecil pada kata Indonesia yang seharusnya diawali huruf kapital. Tafsir yang muncul adalah belum mampunya Indonesia menjadi negara besar. Bisa juga ketiadaan kapital (modal) di negara kita yang sudah sedemikian dikuasai asing. Kapitalisme, disadari atau tidak, masih membuat bangsa kita menjadi bangsa kecil (atau mungkin juga kerdil). Continue reading Tidak Mudah Menjadi Hesti-nya Maulidan Rahman Siregar

Pintar Berbahasa dengan Senarai Padanan Asing Indonesia

“Pring, kata reviu itu sudah ada belum sih di KBBI?” tanya seorang teman.

Pertanyaan semacam itu kerapkali muncul di keseharianku. Maklum, saat ini aku bertugas di Subdit Litbang yang banyak melakukan publikasi. Setiap hari kami meninjau tulisan-tulisan yang dikirim oleh segenap Insan Perbendaharaan di seluruh Indonesia yang masuk di Forum Kajian Perbendaharaan. Dalam tulisan mereka, kata atau istilah asing seringkali masih ditulis apa adanya sehingga kami harus mencari padanannya dalam bahasa Indonesia.

Bahasa memiliki sifat yang dinamis. Artinya, bahasa berkembang. Perkembangan bahasa tergantung pula dari cara bahasa beradaptasi dari maraknya penggunaan bahasa asing. Dalam konteks tersebut, bahasa Indonesia harus mampu menyerap bahasa asing tersebut atau memiliki padanannya. Jangan sampai kita mengaminkan ucapan sebagian akademisi yang mengatakan, “Dalam bahasa Indonesia, kata asing ini tidak ada padanannya. Tidak ada pas untuk mengungkapkannya.”

Baru-baru ini, Kemendikbud merilis sebuah aplikasi berbasis android bernama Senarai Padanan Asing Indonesia (SPAI). Aplikasi ini membantu kita mencari padanan yang tepat dari bahasa/istilah asing yang kita gunakan.  Aplikasi tersebut bisa diunduh di Playstore secara gratis.

 

Yang menarik adalah adanya menu Usul Istilah. Ya, sebagai masyarakat umum, kita bisa mengusulkan bahasa tertentu yang bisa jadi padanan istilah asing.

Dengan melibatkan masyarakat, pertimbangan padanan kata akan menjadi lebih kaya.  Jangan sampai ketika sudah ditetapkan menjadi bahasa Indonesia, istilah tersebut jadi bahan olok-olok karena ketidaklumrahannya.

Yuk, tunggu apalagi, segera unduh aplikasi tersebut. Mari kita gunakan bahasa Indonesia seperti semangat Sumpah Pemuda dalam menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia!

 

 

Mitos-Mitos Tentang Air dan Kesehatan

 

Masih jelas terekam dalam benak, manakala teman-temanku mengajak berenang pada siang hari saat bulan puasa. Saat itu aku masih duduk di bangku SMP.

Setelah Orde Baru runtuh, masa reformasi dimulai, pemilu pertama memenangkan PDI Perjuangan. Namun, Presiden yang terpilih adalah Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Salah satu kebijakan Gus Dur yang populer adalah libur sekolah selama Ramadhan.

Hal itu menjadikan waktuku begitu lengang. Pagi-pagi, bakda menunaikan salat subuh di masjid, aku akan jalan-jalan pagi sambil main petasan. Setelah matahari mulai gagah, aku akan main ding dong sampai uang jajanku habis. Setelah itu, tak tahu harus apalagi menunggu buka puasa. Saat itulah, teman-temanku mengajak berenang di kedukan di desa belakang. Katanya, kalau kita berenang saat puasa, rasa dahaga kita akan hilang. Continue reading Mitos-Mitos Tentang Air dan Kesehatan

Puisi Pringadi Abdi di Solo Pos, 7 Oktober 2018

 

 

Pulang

 

Hatiku bersamanya, tetapi
pikiranku adalah yahudi terkutuk
yang berjalan, tak sampai-sampai

hingga malam demi malam hanya untuk
sebuah gerhana penuh
berwarna merah darah

yang kemudian dikhianati mendung
hanya seekor burung muda tersesat
di langit, terbang, tak tahu pulang

Hatiku bersamanya, tetapi
pikiranku begitu muda, ingat pulang
tapi tak punya tempat.

Jatuh ke Senyummu

 

aku terjatuh ke dalam senyummu
dan aku terperangkap, terpenjara
sia-sia sudah kemerdekaan
bertambah lagi duka
setelah kemiskinan, intoleransi
kini aku papah padamu

isi kepalaku berubah, bukan lagi
kolam berair jernih
ikan-ikan tak berkumpul, pergi
menujumu

bagaimana caramu menjatuhkan aku
lebih cepat dari pukulan ali
ketika menjatuhkan foreman

senyummu adalah sebuah lubang
yang memaksaku jatuh
dan tak ingin aku bangkit kembali
biarlah kini duniaku di dalammu

Memeluk Bahaya

sayang, hiduplah dalam bahaya
dengan begitu, setiap hari engkau akan mengingat tuhan

tuhan hadir dalam kilatan peluru,
dalam langkah kaki yang terburu

sesuatu tak pernah berhenti mengejarmu
ia yang kalah adalah ia yang lelah

sayang, hiduplah sambil memeluk ketakutan
peluk lebih erat dari engkau memeluk bahagia

kelak, tuhan yang akan memelukmu
sebagai balas jasa kau telah mengingatnya
setelah lama ia dilupakan

 

 

Memeluk Seluruhmu

Aku ingin memeluk seluruhmu
dirimu yang lebih luas dari seluruh nama
kedua lenganku yang tak terbiasa
mengukur dunia—kelilingnya telah diaku
oleh columbus, menemukan dunia baru
tempat orang-orang lari atau mencari kesunyian

dunia baruku adalah kamu, tetapi seluruhmu
di luar nalarku

aku tak bisa berpikir jernih
sungai musi, sungai kapuas, sungai bengawan
diberi tawas setempayan masih
sekeruh ingatan

sampai aku merasa khianat
sampai aku mengusir sepenuh kalimat
yang diciptakan daun-daun merah kemarin
disematkan cicit-cicit burung sriti muda
yang terbang setinggi-tingginya

aku ingin memeluk seluruhmu
seperti lengan sayap burung itu
ketika hendak memeluk langit

Mitos Minum 2 Liter Air

Minum 2 liter air tiap hari.

Pasti kita sering mendengar ujaran tersebut. Jika menggunakan gelas berukuran 250 mL, kebutuhan minum kita menjadi 8 gelas per hari. Benarkah demikian?

Ternyata, kebutuhan minum seseorang itu berbeda-beda. Minum 2 l air per hari hanyalah angka rata-rata. Nyatanya, kebutuhan  minum setiap orang berbeda-beda tergantung dari aktivitas dan bobot tubuh orang tersebut. Continue reading Mitos Minum 2 Liter Air