Undangan menulis puisi Dari Negeri Poci 10: R A N T A U

Antologi negeri poci

Undangan menulis puisi Dari Negeri Poci 10: R A N T A U

Komunitas Dari Negeri Poci/Radja Ketjil Jakarta mengundang Anda untuk bergabung dan berpartisipasi dalam antologi puisi Dari Negeri Poci 10: RANTAU.

Pengertian rantau: ran.tau
n pantai sepanjang teluk (sungai); pesisir (lawan darat): berlayar sepanjang —
n daerah (negeri) di luar daerah (negeri) sendiri atau daerah (negeri) di luar kampung halaman; negeri asing

Dari Negeri Poci, adalah serial antologi puisi yang diterbitkan sejak tahun 1993, yang menghimpun karya puisi anak rantau dan negeri/daerah lintas generasi, lintas gender, dan genre. Antologi “Rantau” adalah seri kesepuluh.

Persyaratan umum:
1. Terbuka bagi siapa saja–baik penyair atau bukan penyair –segala usia, baik laki-laki maupun perempuan, berdomisili di mana saja di rantau atau pun di daerah/negeri ini.
2. Puisi yang dikirimkan adalah karya asli, bukan plagiat, atau pun dituliskan oleh orang lain..
3. Puisi sebanyak 6 (enam) buah, beserta foto dan biodata terbaru (paling banyak 12 baris/ kalimat), alamat, e-mail, dan nomor telepon. Ditulis dalam satu lembaran/scroll.
4. Di setiap puisi, ditulis nama penyair dan judul puisi ditulis dalam huruf besar. Pakailah font Calibri ukuran 12, dengan 1,5 spasi.
5. Salah satu puisi bertema rantau. Lima puisi lainnya bebas.
6. Panjang setiap puisi maksimal 40 baris, tidak bersambung ke halaman lain. Jadi cukup termuat masing-masing puisi satu halaman dalam buku.
7. Puisi harus karya terbaru tahun 2019 – 2020 dan tidak/belum pernah dimuat dalam buku, media sosial/ massa mana pun.
8. Pengiriman puisi yang lewat/di badan email dianggap tidak memenuhi syarat, akan diabaikan. Begitu juga kalau kirim puisinya satu demi satu, tidak digubris.
9. Silakan kirim karya terbaik Anda, ke email: antologirantau@gmail.com, dan paling lambat sudah harus diterima pada 31 Maret 2020, pukul 24.OO.
10. Tidak diadakan surat-menyurat atau pun kontak lainnya.

Ketentuan lain-lain:
1. Puisi-puisi yang dikirim hendaknya terbaru, terkini, terbaik.
2. Puisi-puisi yang masuk akan diseleksi oleh tim kurator/editor yang ditunjuk.
3. Tidak ada pungutan uang untuk keikut-sertaan dalam antologi ini, termasuk bagi mereka yang puisinya terpilih.
4. Setiap penyair yang karyanya terpilih dan dimuat akan mendapat 1 (satu) eks. buku sebagai nomor bukti.

Jakarta, 13 September 2019

Komunitas Radja Ketjil/ Dari Negeri Poci
Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto
Dr. Handrawan Nadesul
Adri Darmadji Woko
Kurniawan Junaedhie

Inland Waterways Cikarang, Solusi Atasi Kemacetan

Kemacetan selalu menjadi keluhan masyarakat di kota besar. Apalagi pada jalur yang boleh dilalui kendaraan besar seperti truk dan kontainer, pasti akan menjadi sumber macet utama. Di Jawa Barat, salah satu solusi yang digagas pemerintah setempat adalah membangun inland waterways Cikarang. Walau masih dalam tahap persiapan, namun dinilai mampu memecah macet dalam kota yang terhubung.

Nama lainnya adalah transportasi air atau sungai, dimana khusus bagi kendaraan yang mengangkut logistik atau bermuatan banyak, dialihkan rutenya melalui jalur air. Tapi memang banyak hal yang perlu dipersiapkan hingga menjadi benar-benar terealisasi dan berdampak positif bagi mobilitas kendaraan.

2021, Target Inland Waterways Beroperasi

Berdasarkan informasi dari berbagai pihak, saat ini proses pembangunan inland waterways Cikarang sudah mengantongi izin penggunaan sumber daya untuk menunjang terealisasinya proyek ini. Selanjutnya Badan terkait yaitu pengelola jasa transportasi untuk kawasan Jabodetabek akan bertanggung jawab atas pembangunan proyek dengan nilai Rp3,4 triliun ini. Seperti apa tahapannya?

  • Tahap 1

Pada tahap ini, jalur transportasi masih akan menggunakan kanal buatan Kementrian PUPR. Dengan jalur dari Cikarang di kawasan pelabuhan Bekasi melalui Marunda yang berada di kawasan Jakarta Utara. Jalur ini juga akan menunjang bangkitnya sejumlah pelabuhan lain seperti pelabuhan Karawang yang lokasinya cukup berdekatan.

Kapal akan mengangkut kendaraan dengan muatan logistik, untuk kemudian berlabuh dan menurunkan muatannya di Marunda. Hal ini dinilai membantu memecah kemacetan kawasan Cikarang yang saat ini sudah semakin parah, bahkan pada Juli lalu kemacetan sepanjang 13 km, yang terparah adalah saat perbaikan jalan dan pembangunan tol yang mencapai 20 km.

  • Tahap 2

Andil PT Pelindo II pada tahap ini sangat penting, dimana akan dibuat tambahan rute yang melewati Tanjung Priok ke Cikampek. Diharapkan bisa menjadi penghubung lalu lintas logistik menuju sejumlah kawasan industri salah satunya melewati pelabuhan Karawang, yang juga menjadi lokasi strategis bagi bongkar muat kapal.

Jika terealisasi sesuai jadwal, maka keberadaan inland waterways Cikarang bisa jadi percontohan di Indonesia, untuk memecah konsentrasi kemacetan, plus mengatasi penumpukan logistik di berbagai pelabuhan, yang pastinya akan sangat berdampak pada aspek perekonomian dan infrastrukur di daerah-daerah industri.

Kata Siapa Halim Nggak Ada Damri? Book Damri Airport di Halim!

Book Damri Airport di Halim jadi pengalaman baru buatku.  Soalnya dulu, cukup ribet kalau mau naik atau turun pesawat di bandara Halim. Aku harus pesan taksi (yang lumayan harganya), sedangkan naik taksi on line harus kucing-kucingan dengan petugas. Kalau nggak gitu, keluar dari bandara, kemudian nunggu ojek on line yang mengantarkanku ke Stasiun Cawang. Sekarang, kata siapa di Halim nggak ada Damri? Ada kok!

Buat kamu yang belum tahu, Damri di Bandara Halim ini bukanlah bus Damri ya, melainkan shuttle bus. Jangan khawatir dengan kenyamanannya, dijamin nyaman naik Damri Airport. Tempat meletakkan kopernya juga memadai.

Itulah yang kurasakan saat dalam perjalanan pulang ke Bogor setelah mengikuti acara Danone Blogger Academy di Bali beberapa waktu lalu. Mendarat di Halim Perdana Kesuma, pukul 9 lewat, aku langsung naik Bus Damri Airport pukul 22.00 ke Bogor. Tempat pemberhentian akhirnya di Botani Square.

Jadwal Bus Damri Airport Halim-Bogor ada tiap satu jam sekali mulai dari pukul 7 pagi sampai pukul 10 malam. Jadi aku beruntung masih bisa mengejar keberangkatan yang terakhir ya. Sedangkan dari Bogor (Botani Square), mobil berangkat mulai dari pukul 3 pagi hingga pukul 7 malam.

Jadwal Keberangkatan Bus Damri Airport dari Halim ke Bogor

Tips Buat Kamu yang Ingin Menikah Muda(h)

Tak terasa sudah lebih dari 8 tahun aku menikah. 1 Juli 2011, akad nikah diselenggarakan. Tiga hari kemudian aku memboyong istriku ke tempat aku bertugas di Sumbawa Besar, NTB.

Banyak cerita yang mengiringi proses keputusan pernikahan. Di antaranya, seorang teman, Bamby Cahyadi, pernah mencoba meramal pernikahanku. Ia mengeluarkan bandul dan memintaku bertanya pada bandul itu, pada usia berapakah aku akan menikah. Lalu bandul itu bergerak tepat sebanyak 27 kali. Menurutnya, aku akan menikah saat berusia 27 tahun.

Saat itu, aku masih berusia 21 tahun. Kenyataannya, ramalan itu tidak terbukti. Aku pun teringat, ibuku yang ingin aku menikah di usia 27 tahun. Ia mewanti-wanti, itu adalah usia paling pas untuk pernikahan. Jangan buru-buru. Menabung dulu. Ketika aku mengutarakan niatku untuk menikah, butuh usaha keras untuk mendapatkan kerelaannya. Aku masih terlalu kanak-kanak katanya.

Pada akhirnya, aku menikah pada usia yang cukup muda, belum pas 23 tahun.  Sampai sekarang, begitu sering aku mendapat pertanyaan, “Kenapa kamu menikah muda?”

Dengan bercanda kujawab Chairil Anwar dan Soe Hok Gie meninggal menjelang usia 27. Aku tidak mau meninggal sebelum aku menikah.

Salah Persepsi Tentang Menikah Muda

Ada banyak orang menganggap aku menikah muda. Aku tidak merasa demikian. KUH Perdata saja sudah jelas mengatakan batas usia dewasa adalah 21 tahun atau sudah kawin. Mengacu pada UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974, batas usia pernikahan adalah 19 tahun bagi laki-laki. Jadi ditilik dari segi apapun, usiaku bukan usia muda lagi.

Yang terjadi adalah kebanyakan orang tua tidak rela anaknya menjadi dewasa. Mereka sengaja atau tidak sengaja membuat si anak masih berlindung di bawah ketiak orang tua dengan dalih kamu sekolah dulu sampai jenjang yang lebih tinggi. Aku pribadi malu ketika usia sudah berada di kepala dua, namun segala sesuatu masih dibayari orang tua.

Bisa jadi juga, kita salah mengambil perbandingan. Ketika menonton drama Korea, kita lihat tokohnya sudah mendekati usia kepala 3 namun bertingkah bak remaja. Usia 20 tahun di Korea masih dianggap sangat anak-anak. Masih kecil. Aku penasaran dan menemukan kenyataan bahwa usia harapan hidup di Korea lebih tinggi dari di Indonesia. Di Korea, usia harapan hidup adalah 81,37 tahun sementara di Indonesia hanya 70,61 tahun (2012). Selebritis Korea pun menikah kebanyakan setelah umur 35 tahun. Di samping faktor budaya pernikahan yang biayanya mahal di sana, aku pikir ini ada kaitannya juga dengan usia harapan hidup.

Menikah Itu Mudah

Dari atas pesawat, sudah kusaksikan Kota Padang. Aku ingat betul perjalananku ke Padang. Dari Padang, aku harus meneruskan perjalanan ke Talang Babungo, kampung kecil di perbukitan yang tak jauh dari Danau Kembar. Perjalananku kali pertama yang justru untuk langsung melamar kekasihku.

Aku pergi sendirian, bertemu orang tuanya. Kekasihku di kamar bersama ibunya. Aku mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan niatku. Tidak kusangka, niat baik untuk membangun mahligai rumah tangga itu dimudahkan. Ayahnya menerimaku.

Tadinya ada bermacam pikiran di kepalaku. Maklum, kami berasal dari dua latar belakang yang berbeda. Aku orang Palembang, namun berdarah Jawa. Sedangkan istriku orang Minang asli.

Aku pikir pernikahan dua budaya akan sangat rumit. Ternyata tidak. Pihak perempuan memberi banyak sekali keringanan. Banyak prosesi adat yang tidak wajib ditiadakan sehingga menyisakan prosesi yang penting-pentingnya saja.

Misalnya, aku diberi “suku” Chaniago. Kalau yang ribetnya, pemberian suku ini biasanya diiringi pemberian gelar dan harus potong sapi lho.

Sebelum akad pun cuma melakukan “Malam Balatak Tando”. Sebuah proses yang seru karena seolah beradu pantun khas Minang antara pihak keluarga laki-laki dan perempuan.

Proses resepsi pun sederhana. Diadakan di rumah mempelai perempuan tanpa ada kewajiban tertentu. Oh yang unik mungkin adalah proses setelah akad. Kami berjalan keliling kampung menggunakan pakaian adat. Yang kasihan ya istriku, karena suntiang (yang dipakai di kepala) itu berat banget lho.

Pertimbangan Utama Menikah Muda

Selain memang sudah berpacaran lebih dari 3 tahun, aku memikirkan kapabilitas untuk bisa menemani anak-anakku kelak. Dari tabel di atas bisa dilihat bahwa kalau menikah di usia yang relatif muda, kita bisa lebih memiliki kemampuan untuk menopang kebutuhan sang anak.

Tips Menikah Muda(h)

Tips menikah muda

Pertama, kamu sudah punya pasangan yang saling mencintai. Kalian berdua sudah memiliki pemahaman yang baik mengenai rumah tangga seperti apa yang hendak kalian bangun.

Kedua, jangan nekad. Sebagai lelaki, setidaknya kamu sudah punya penghasilan tetap. Dan kamu terbuka ke pasanganmu, berapa penghasilanmu, dan sudah sepakat bagaimana hidup bersama dengan itu.

Ketiga, belajar ilmu pernikahan, mulai dari mengelola rumah tangga hingga parenting.

Keempat, dekatlah dengan orang tua. Jangan jadikan pernikahan sebagai pelarian dari orang tua. Justru pernikahan harusnya mendekatkan kita.

Kelima, selenggarakan acara pernikahan semampunya. Nggak perlu maksa harus resepsi yang kayak gimana. Yang penting akad, sudah sah sebetulnya. Usahakan berikan mas kawin yang bernilai.

Bila Tak Punya Space yang Cukup Buat Resepsi di Rumah

Biasanya, persoalan pengen resepsi di gedung itu terjadi di kota besar. Bukan soal gaya, melainkan karena lahan yang sempit dan terbatas di rumah plus efek kemacetan komplek yang bisa timbul, membuat pasangan muda di kota besar lebih memilih menyelenggarakan resepsi di gedung.

Beberapa waktu yang lalu, Jakarta Event Enterprise (JEE) menyelenggarakan Bekasi Wedding Exhibition (BWE) di Grand Galaxy Convention Hall. Sebelumnya, BWE sendiri sudah menyelenggarakan  6 (enam) kali  event secara rutin dan merupakan wadah terbesar dan terbaik bagi lebih dari 60 vendor profesional se-Jabodetabek dalam memberikan penawaran terbaik sesuai kebutuhan calon pengantin, koleksi-koleksi terbaru, serta ide-ide pernikahan untuk membantu masyarakat Bekasi dan sekitarnya.

Buat yang belum tahu, gedung  pernikahan di Bekasi yang paling besar ya Grand Galaxy Convention Hall ini yang bisa menampung hingga 2500 orang. Buat kamu yang punya uang dan nggak mau ribet, cukup serahkan  ke Grand Galaxy Convention Hall karena memiliki paket all in one untuk para pengantin.

Tema 7th Bekasi Wedding Exhibition kali ini unik lho. “Industrial Wedding”. Apa itu?


Tema industrial banyak digunakan sebagai salah satu desain kafe ataupun restoran, namun konsep yang kental dengan dekorasi kayu yang terkesan ‘vintage’ juga hiasan bohlam yang digantung di langit-langit ruangan yang dikombinasi dengan unsur tembaga, akrilik, emas ataupun metal.


Instagramable banget ‘kan?

Kalau sudah tahu menikah itu ibadah, menikah itu juga mudah, tunggu apalagi, kenapa harus menunda-nunda pernikahanmu?

SanDisk Dual Drive Senjata Andalanku

“DSLR sudah habis. Sekarang, kamera tinggal mirrorless dan kamera ponsel. Sekarang, coba apa yang tidak bisa dilakukan kamera ponsel yang semakin lama semakin canggih. Bila pun ada pembedanya, paling hanya cara ponsel membaca objek berdasarkan gerak yang berbeda. Tapi di situlah juga letak keunikan kamera ponsel yang bisa kita eksplorasi,” ujar Arbain Rambey malam itu.

Kusimak baik-baik petuah dari fotografer jagoan Kompas itu. Pengalaman-pengalamannya yang luar biasa dahsyat membuatku percaya diri untuk lebih serius memfoto menggunakan ponsel. Selama ini, aku merasa kamera ponsel enak dipakai hanya karena kepraktisannya. Tapi ada banyak hikmah lain yang bisa kita dapat dengan kamera ponsel.

Jembatan Merah Menganti
Hasil foto menggunakan ponsel

Namun sayangnya, ponsel memiliki ruang memori yang terbatas.  Seperti saat aku ke Bali bersama Danone Blogger Academy minggu lalu, tiba-tiba ada peringatan memori ponselku sudah hampir penuh. Terpaksa aku membuka galeri, dan mencari file yang bisa dihapus terlebih dahulu. Padahal kan dibuang sayang.

Ribet ‘kan?

Pengalaman Menggunakan Memori Eksternal

Sebagai penulis dan traveler, selama ini, aku memakai mayoritas memori ponselku untuk foto dan dokumen. Dengan mobilitas yang tinggi, aku juga membutuhkan pemindahan data dari ponsel secara tepat agar selain data itu cepat bisa digunakan, ponselku juga kembali memiliki ruang penyimpanan.

Bicara kapasitas memori, aku jadi teringat flashdisk pertamaku. Warnanya hitam. Kapasitasnya hanya 32 Mb. Beberapa bulan setelahnya, aku memiliki MP3 Player yang juga bisa menjadi tempat penyimpan data. Warnanya merah. Kapasitasnya 256 Mb. Virus paling viral saat itu adalah Brontox.

Kenangan itu adalah bagian dari tahun-tahunku ketika berkuliah di ITB pada tahun 2005. Tak banyak yang bisa kuceritakan selain bahwa kuliahku tak selesai. Hanya sampai 2007. Aku pergi dari Bandung sebagai orang kalah. Naik bis Pahala Kencana, menyeberangi Selat Sunda. Di atas kapal, aku duduk di geladak sambil memandangi bulan yang sendiri sampai lampu-lampu di Bakauheni terlihat. Saat kembali ke bis, aku baru menyadari dompetku lenyap. Bukan soal uangnya yang hanya satu lembar lima puluh ribuan, melainkan kartu mahasiswaku sebagai salah satu sisa kenangan pernah jadi mahasiswa ITB itu yang kusayangkan. Aku pun menempuh sisa perjalanan kekalahan itu dengan selembar uang 10 ribu yang kusimpan hati-hati untuk naik ojek dari terminal ke rumah, dan terpaksa tak makan dan minum selama itu.

Deritaku bertambah. Tak lama setelah menjadi orang kalah, komputer yang menyimpan semua kenangan (materi kuliah, foto, dan data lain) dari semua perkuliahanku meledak. Karena sudah berangkat ke tempat kuliahku yang baru, aku menyesalkan keputusan kakakku yang membawanya ke tempat reparasi dan menerima saja perkataan bahwa semua hal di komputer itu tidak bisa diselamatkan. Kenanganku di komputer itu pun lenyap. Sedih rasanya tak punya lagi foto-foto selama di Bandung, terutama foto dengan teman-teman kuliah (selagi aku masih langsing).

Seandainya saat itu aku memiliki banyak media penyimpanan data yang lebih besar dan lebih aman….

Waktu berlalu sedemikian cepat. Kini, keadaan berubah. Tak pernah kubayangkan bahwa hari ini ada flashdisk dengan kapasitas bergiga-giga byte. Dulu, ukuran giga byte itu untuk harddisk eksternal. Sekarang, HD eksternal malah ber-terabyte. Ponsel yang kugunakan sekarang bahkan berkapasitas 64 GB. Namun, itu tidak cukup.

SANDISK YANG MEMBACA ZAMAN

Koleksi SanDisk di meja kantorku.
SanDISK APAC di meja kantorku. Dokumentasi pribadi.

Sandisk memiliki solusi untuk penyimpanan data tersebut. Sandisk melahirkan berbagai produk seperti microSD Card yang diintegrasikan ke slot di ponsel. Sedikit repot memang kalau kita hendak memindahkan data dari ponsel ke komputer misalnya, karena harus mengeluarkan microSD Card tersebut dari ponsel dan tidak semua laptop punya slotnya.

Untuk mengatasi itu, Sandisk juga mengeluarkan Micro USB Dual Drive yang didesain untuk pengguna android. Dengan mudah kita bisa memindahkan data di ponsel ke komputer tanpa harus memakai kabel data. Untuk pengguna iPhone juga ada yakni iXPand Flash Drive.

Untuk klasifikasi mobile flashdrive untuk pengguna Android  dibedakan menjadi 3, yaitu SanDisk Ultra Dual Drive USB Type C, Sandisk Ulta Dual USB Drive 3.0, dan Sandisk Ultra Dual Drive m3.0. Apa bedanya? Dari kapasitas, sama saja. Maksimal berkapasitas 256 GB. Paling rendah 16 GB. Tentu kapasitas ini juga harus  disesuaikan dengan kualitas ponsel. Kemampuan transfernya pun sama yakni hingga 150 MB/detik. Hanya konektor dan teknologi saja yang membedakannya.

Sumber: Materi Presentasi.

Untuk kualitas ponsel android menengah ke bawah, produk keren dari Sandisk APAC adalah Dual Drive DD1. Kapasitas tertingginya 128 GB. Produk ini didesain ringan dan ramping sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Untuk ponsel berkualitas tinggi, bisa menggunakan Dual Drive DD2/DD3.

Kemampuan memindahkan data dengan cepat yang dimiliki Sandisk ini sangat membantuku yang memiliki hobi traveling. Aku sendiri punya SANDISK ULTRA DUAL DRIVE M.30 yang berkapasitas 128 GB. SanDisk yang ini disebut juga USB OTG SanDisk memiliki konektor micro-USB di satu sisi, dan konektor USB 3.0 di sisi yang lain. Drive ini memungkinkan kita dengan mudah memindahkan konten lintas perangkat. Konektor USB 3.0 memiliki performa tinggi dan di sisi sebaliknya kompatibel dengan port USB 2.0.


OTG itu maksudnya On the Go. Jadi, fitur ini tuh punya banyak manfaat mulai dari melakukan pembacaan dan penulisan data seperti flashdisk, card-reader, isi MP3 Player/smartphone lain (merk tertentu dengan modus mass storage) serta pembacaan/pengenalan HID (Human Interface Devices) seperti mouse, keyboard, serta gamepad.


Aku sih yakin kamu juga pernah mengalami momen menyebalkan seperti manakala sedang asik-asiknya mengambil gambar, merekam video, lalu ada notifikasi kalau memorimu sudah penuh seperti yang kualami itu. Bisa juga kadang, kita punya teman yang punya ponsel dengan kamera yang lebih aduhai, yang jelas menghasilkan gambar yang lebih bagus, terus kita minta gambarnya, tapi dia bilang nanti… dan waktu berlalu, foto tidak dikirim-kirim juga. Atau dikirim melalui Whatsapp, dan gambarnya pecah?

Dengan Sandisk  Dual Drive yang kumiliki saat ini, 128 GB pula, hal tersebut bisa teratasi dengan lebih praktis dan cepat. Tinggal colok, lalu pindahkan. Asik, bukan? Nah, kamu sudah punya belum?

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba  Sandisk Blog Competition
#DibuangSayang #SanDiskAPAC #USBOTGSANDISK

Cari Hotel Murah di Yogyakarta, Begini Caranya!

Cari hotel yang murah di Yogyakarta sudah pasti menjadi salah satu agenda utama kalau mau liburan ke Yogyakarta. Kota satu itu memang penuh pesona dan ngangenin. Beberapa kali aku sudah ke Yogyakarta dan merasa tidak bosan.

Pengalaman pertama ke Yogyakarta datang pada tahun 2010. Saat itu aku masih mahasiswa. Aku datang ke Yogyakarta naik bis Sumber Alam yang tidak ber-AC. Sampai di Yogyakarta aku menginap di kosan teman, 2 malam.

Pengalaman kedua ke Yogyakarta datang saat launching bukuku, “Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih” pada tahun 2015. Di sana, aku menginap semalam di kos teman, semalam lagi sebuah pesantren karena ada acara di sana. Pengalaman ketiga datang saat mengajak keluargaku liburan. Kali ini kami menginap di rumah saudara.



Pengalaman keempat, lagi-lagi, aku masih menginap di rumah teman saat membincangkan buku baruku “Hari yang Sempurna untuk Tidak Berpikir” pada tahun 2017 lalu. Dari keempat pengalaman itu, belum pernah aku menginap di hotel.

Baru pada kelima kalinya, aku menginap di hotel. Tapi itu juga dibayarin. Aku menginap semalam di hotel ECO Green atau Greenhoust Boutique Hotel di Prawirotaman, Yogyakarta. Itu karena aku mengikuti kegiatan bersama Danone Blogger Academy 2018. Continue reading Cari Hotel Murah di Yogyakarta, Begini Caranya!

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan