BUDAYA JAYA, MAJALAH BUDAYA TEMPO DOELOE

 

Pada tahun 1968, terbit Budaja Djaya (kemudian Budaya Jaya). Majalah bulanan ini mengaku sebagai “majalah kebudayaan umum”, dan diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Pendirinya, Ajip Rosidi[1], yang sekaligus menjadi Pemimpin Redaksinya bersama Ilen Surianagara, Ramadhan K. H., dan Harijadi S. Hartowardojo. Sebagaimana yang tercantum dalam mazed, Budaya Djaja diasuh oleh Penanggungjawab: Hen Surianegara, Redaksi: Ajip Rosidi, Harijadi S. Hartowardojo, dengan dibantu oleh: Ramadhan KH, Moh. Amir Sutaarga, Arief Budiman, Asrul Sani, Gajus Siagiaan, Goenawan Mohamad, Mochtar Kusumaaatmadja, Nono Anwar Makarim, Oesman Effendi, Taufiq Ismail, Toto Sudarto Bachtiar, Trisno Sumardjo, Zulharmans S, Wing Kardjo dan Ajat Rohaedi.

Tentang awal penerbitannya, bercerita Ajip Rosidi, bahwa pada tahun 1968, ia dan Ramadhan KH diajak oleh orang bernama Ilen Suryanegara menemui Gubernur Jakarta Ali Sadikin untuk menjajagi kemungkinan penerbitan majalah kebudayaan yang dirasakan sangat diperlukan di Indonesia. Ternyata menurutnya, Gubernur Ali Sadikin sangat antusias dan bersedia menyediakan dana untuk mencetak.[2]

Tentang tujuan penerbitannya, dikatakan oleh redaksinya, “Peranan sebuah majalah kebudayaan bukanlah hanya peranan merekam kegiatan yang ada. la aktif dalam kegiatan itu sendiri. ia memberikan tempat kepada kreasi yang lahir, tapi ia pun memberikan arah kepada pemikian dalam kebalauan pemikiran. Artinya sementara kelangsungan kebalauan, ia harus membentuk suatu wujud tujuan. Karenaitu sebuah majalah kebudayaan tidaklah memberi sekedar hiburan supaya orang dapat senang-senang melupakan masalah hidup sekitarnya. Justru sebaliknya: majalah kebudayaan mengajak orang untuk aktif turut memikirkan hidup, kehidupan, masyarakat dan tanairnya. Majalah kebudayaan tak dapat melepaskan diri dari situasi zamannya. Maka majalah kebudayaan harus memberi tempat kepada segala suara dan acuan yang tumbuh dalam masyarakat itu, memberinya kesempatan untuk madju dan untuk menyatakan dirinya.

Menurut hemat kami, sekarang kita membutuhkan sebuah majalah kebudayaan yang umum, di mana akan mendapatkan tempat segala hasil pemikiran, gagasan dan hasil; kreasi di samping majalah-majalah khusus sastra yang sekarang sudah ada. Pikiran inilah yang mendorong lahirnya majalah Budaya Jaya, ini yang mengajak semua pihak untuk bersama mengisinya. Mudah-mudahan akan membawakan angin segar dalam kehidupan kebudayaan kita khususnya.”[3]

Majalah berformat kecil itu kemudian dikenal sebagai corong resmi Dewan Kesenian Jakarta. Sayangnya, berhenti terbit pada tahun 1972.

Keistimewaan majalah ini yang mungkin masih diingat pembacanya adalah, di samping memuat esai-esai seni dan budaya, juga menerbitkan pula nomor-nomor khusus yang memuat kumpulan sajak seorang penyair atau karya drama. Pada masa-masa terakhirnya, majalah ini bahkan rajin memuat ceramah-ceramah seni dan budaya umum yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki.[4] ***

(Dikutip dari buku SEJARAH MAJALAH DI INDONESIA, Kurniawan Junaedhie, GPU, 1995)

Catatan kaki:
[1] Ajip Rosidi dikenal banyak menjadi redaktur untuk sejumlah penerbitan majalah terutama yang berkaitan dengan sastra dan budaya, utamanya dalam bahasa daeah Sunda. Ketika masih bersekolah (SMP), misalnya, ia menjadi redaktur dan memimpin majalah Suluh Peladjar (1953-1955) yang beredar luas di seluruh Indonesia. Tahun 1955 menerbitkan dan menjadi Pemimpin Redaksi bulanan Prosa yang mengkhususkan diri untuk cerita pendek. Tahun 1965-1967 mendirikan dan menjadi Pemimpin Redaksi Mingguan Sunda (kemudian Madjalah Sunda) majalah umum berbahasa Sunda di Bandung. Ia juga pernah menjadi Redaktur ruangan kebudayaan “Matahari” dalam majalah Mimbar di Jakarta (1971-1973). Sejak 2004 menjadi pemimpin umum majalah bulanan bahasa Sunda Cupumanik.
[2]Perginya Pengarang ”Priangan Si Jelita”, Ajip Rosidi. Pikiran Rakyat, 18 Maret 2006
[3] Budaya Jaya, ibid.
[4]http://prov.jakarta.go.id/jakv1/encyclopedia/detail/1026

KOMPETISI MENULIS CERPEN INDONESIANA X NULISBUKU 2019

Kompetisi menulis cerpen
Kompetisi Menulis Cerpen

KOMPETISI MENULIS CERPEN INDONESIANA X NULISBUKU 2019

Halo Sahabat,

Bulan ini nulisbuku.com mengadakan kompetisi menulis cerpen (fiksi) bersama Platform kebudayaan Indonesiana (http://platformindonesiana.id/). Indonesiana adalah platform pendukung kegiatan seni budaya di Indonesia yang bertujuan untuk membantu tata kelola kegiatan seni budaya yang berkelanjutan, berjejaring, dan berkembang. Indonesiana diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Indonesiana dikerjakan dengan semangat gotong royong dan dengan melibatkan semua pihak yang memiliki kepedulian dan kepentingan atas pemajuan kebudayaan di Indonesia.

Genre ceritanya bebas, kamu boleh menuliskan kisah drama romantis, petualangan, inspiratif, atau lainnya. Namun ceritamu tersebut harus menggunakan latar belakang cerita dari 18 kota/daerah yang telah ditentukan, atau budaya yang berkaitan dengan festival di kota pilihan tersebut. Kota-kota tersebut meliputi: Wonosobo-Temanggung, OKU Selatan, Ngada, Jawa Timur, Sumatera Barat, Jakarta, Ponorogo, Gayo Luwes, Lebak, Flores Timur (Larantuka), Belu, Blora, DI Yogyakarta, Tomohon, Tanjung Pinang, Ambon, Halmahera Barat (Jailolo), Mojokerto.

Tetarik, kan? Buruan simak info detailnya di bawah ini; Jangan lupa kirim karyamu yang paling keren dan jangan sampai telat kirim karena deadline-nya pada hari Sabtu, 30 November 2019 pukul 23.59 WIB

Syarat Peserta

Dapat diikuti oleh seluruh Warga Negara Indonesia, tanpa batasan usia, tanpa batasan jenis kelamin, tanpa batasan agama, dan tanpa batasan lokasi tempat tinggal. Setiap peserta dapat mengirimkan 1 (satu) karya tulisan terbaiknya.

Syarat Cerpen

Cerpenditulis dalam bahasa Indonesia minimal 4 halaman, atau maksimal 8 halaman A4, diketik rapi dalam file Microsoft Word spasi: 1.5, dengan font: Times New Roman, ukuran font: 11pt, dengan margin sesuai standar Microsoft Word saja, tidak perlu diubah.

Karya dikirimkan melalui email ke send@nulisbuku.com (WAJIB), dan Kemudian terbitkan cerpenmu tersebut di Storial.co (Caranya baca di sini: http://bit.ly/2BjJXGe)

Karya tersebut belum pernah diterbitkan dalam media nasional mana pun dan merupakan karya asli penulis. Dengan mengikuti lomba ini, berarti penulis menyatakan bahwa karya tersebut adalah murni karya aslinya dan jika ada tuntutan pelanggaran hak kekayaan intelektual maka akan menjadi tanggung jawab penulis.

Judul dan genre tulisan bebas, namun ceritamu tersebut harus menggunakan latar belakang cerita dari 18 kota atau daerah tujuan festival pendukungan Indonesiana 2019 yang telah ditentukan (Baca: http://.platformindonesiana.id/). Kamu boleh pilih salah satu dari daerah-daerah tersebut yang bisa kamu gunakan sebagai latar belakang cerita.

Kota-kota tersebut meliputi: Wonosobo-Temanggung, OKU Selatan, Ngada, Jawa TImur, Sumatera Barat, Jakarta, Ponorogo, Gayo Luwes, Lebak, Flores Timur, Belu, Blora, DI Yogyakarta, Tomohon, Tanjung Pinang, Ambon, Halmahera Barat (Jailolo), Mojokerto.

Cara Berpartisipasi

Menulis cerita pendek fiksi sesuai ketentuan kompetisi #NulisIndonesiana2019 yang sudah diketik rapi dalam file Microsoft Word.
a. Kirimkan cerpen tersebut beserta data diri: Nama, Alamat, No. handphone, No. KTP (Atau kartu pelajar), Twitter account (Jika ada), Alamat facebook (Jika ada), ke alamat email: send@nulisbuku.com (berupa file lampiran-attach files, BUKAN di body email) dengan format subject email dan nama file sebagai berikut: [NulisIndonesiana2019]–[Judul tulisan]–[Nama Penulis]. Contoh: NulisIndonesiana2019–Perjalanan Seru di Halmahera Barat–Bagus Bagaskoro.

Setiap penulis  dimohon membuat paragraf singkat maksimal 5 (lima) kalimat untuk memperkenalkan diri untuk profil penulis di dalam buku NulisIndonesiana2019. Profil singkat ini ditulis di badan email.

b. Posting/submit cerpenmu di www.storial.co (Cara submit tulisan di storial: http://bit.ly/2BjJXGe)
c. Wajib Follow & mention akun Twitter /Facebook/Instagram @nulisbuku @storialco dan @platform_id (Twitter)/@platformindonesiana.id (Instagram)/PlatformIndonesiana(FB), kemudian silakan twit sinopsis tentang karya cerpenmu minimal sebanyak 5 (tiga) kali twit. Twit dan post ini berguna untuk mempromosikan karyamu yang telah dikirim tersebut. Jangan lupa tambahkan hashtag #NulisIndonesiana2019 #Indonesiana2019 #platformindonesiana pada setiap twit dan post Facebook, dan Instagram-mu!
d. Untuk mengikuti kompetisi ini tidak dipungut biaya, GRATIS!

Periode Kompetisi

Deadline kompetisi pada hari Sabtu, 30 November 2019 pukul 23.59 WIB.

Pemilihan Pemenang
Pemenang terdiri dari 3 pemenang utama dan 22 finalis. Seluruh tulisan yang masuk akan dinilai berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut:

– Kesesuaian isi tulisan dengan tema.
– Originalitas.
– Teknik penulisan yang menarik dibaca.
– Sesuai dengan syarat lomba.
– Pemenang akan dipilih oleh juri yaitu tim Nulisbuku.com. Keputusan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

Pengumuman Pemenang
3 orang pemenang utama dan 22 finalis terpilih akan diumumkan pada 13 Desember 2019 di web dan sosial media nulisbuku.com.

Hadiah Pemenang
– Uang tunai sebesar 7.000.000 Rupiah, 1 eksemplar buku, dan sertifikat untuk juara pertama.
– Uang tunai sebesar 3.000.000 Rupiah, 1 eksemplar buku, dan sertifikat untuk juara kedua.
– Uang tunai sebesar 1.000.000 Rupiah, 1 eksemplar buku, dan sertifikat untuk juara ketiga.
– Uang tunai sebesar masing-masing 300.000 Rupiah, 1 eksemplar buku, dan sertifikat untuk 22 cerita pilihan.
Atas publikasi buku ini, para pemenang dan finalis tidak menerima kompensasi berupa royalti lagi.

Lain-Lain
Seluruh karya akan melalui proses editing dan desain tata letak oleh Nulisbuku.com sebelum karya dipublikasikan.

Jarak Pandang Kita

Tidak pernah ada kabut
Sebab udara tak juga mengenal gigil
Meski matari tampak seolah berselimut
 
Aku tak bisa memandangmu
walau kurasa jarakmu hanya secuil.
Tidak ada tembok, Jerman telah bersatu
Tersisa sebuah, tempat orang memanggil
Tuhan yang jauh dan tinggi
Aku pun merasa sesak, tanpamu, bernapas menjadi
hal paling tak bebas. Tak bisa kulepas
masker di wajah, namun mata perih, tetap
tak bisa melihatmu sama sekali.
Aku ingin meratap, mencaci asap
Api asmara telah membakar hutan di dada
dan gambut-gambut yang seperti busa
sudah tidak lagi bisa menyimpan air mata

Puisi | Lanang Penyungkan (dari Cerita Rakyat Banyuasin, Rumah Lame)

Mereka membuat rakit, dan mengikatnya dengan
rasa sakit. Ingatan tentang Yusuf yang rupawan
dibuang di sebuah sumur, lalu diselamatkan sebagai
budak, membuat keenam kakak lupa umur.
Namun bukan iri, bukan dengki. Hanya tak rela
bapaknya didurhakai.

Mereka membuat rakit, lalu mengabaikan dendang
tentang kesek dan labu parang. Berharap dan tidak
berharap tuah. Bila tuah, kembalilah. Bila tanpa, hilanglah.
Biar arah tercabut dari akarnya.

Sampai mereka menutup mata, dan mengingat dulu
pernah ada hamba, duduk di bawah sebuah pohon
lalu menjadi Buddha

Seperti itu pula kemudian, rakit itu tersangkut
di sebuah Kayu Bayur. Tak ada sumur, sebab Musi berkelana
hingga jauh. Segala bisa terhanyut, namun tidak ia.
Yang terbangun dan papah, memandang diri tak berdaya
Sirna sudah segala keengganan, namun matahari bersinar
Diraba dadanya, masih cukup jumlah debar.

Ia pun mulai membangun rumah, dari segala yang terlewat
Sambil mengingat mereka yang membuat rakit, saat ia tertidur
menolak pergi ke sawah, merambah kasih Tuhan
lewat bibit dan lumpur.

Lalu ia letakkan segala yang berharga dan tidak berharga
dan menerapkan mantra, siapa saja boleh memilih gila
kehilangan akalnya, bila mencuri di Rumah Lama.

 

Puisi ini terinspirasi dari cerita rakyat Banyuasin berjudul Asal Mula Rumah Lama Rantau Bayur.

3 Tempat Wisata Terbaru di Blitar

Bicara tentang wisata Blitar, pikiran kita pasti tertuju pada tempat peristirahatan terakhir presiden pertama Indonesia yang juga dilahirkan di kota ini. Selain itu, kita akan teringat pula pada kompleks Candi Penataran dengan relief dan bangunannya yang memikat. Dua destinasi ini memang sudah dikenal sebagai wisata andalan Kota Proklamator.

Namun, objek wisata di Blitar tak hanya terbatas pada tempat yang telah populer saja. Kini, banyak bermunculan destinasi baru yang tak kalah menarik untuk dijadikan tujuan wisata. Nah, inilah beberapa tempat wisata terbaru di Blitar untuk referensi kunjungan kita ke Blitar.

Gumuk Sapu Angin

Ingin merasakan sejuknya suasana alam dengan udara segar? Berkunjunglah ke Gumuk Sapu Angin (GSA). Tempat wisata baru di Blitar ini menawarkan bentangan alam hijau yang sungguh memukau. Pun, udaranya begitu sejuk sehingga cocok untuk menyegarkan diri sejenak. Berada di ketinggian sekitar 828 mdpl, Gumuk Sapu Angin dapat kita temukan di Resapombo, Doko.

Gumuk Sapu Angin(sumber : explorewisata.com)

Untuk lebih menikmati keindahan pemandangan kawasan Gunung Kawi dan Kelud, kita dapat memanfaatkan gardu-gardu pandang yang tersedia. Selain untuk menyaksikan panorama, gardu-gardu pandang dari bambu ini juga berfungsi sebagai spot favorit untuk berfoto dengan latar alam memesona.

Negeri Dongeng

Mau berfoto dengan landmark populer di seluruh dunia, tanpa harus jauh-jauh ke luar negeri dan menghabiskan banyak biaya? Cukup datang saja ke Negeri Dongeng Blitar. Di sini, kita bisa menemukan berbagai miniatur bangunan terkenal di dunia, seperti Menara Pisa, Colosseum Roma, Patung Liberty, Menara Eiffel, bahkan Candi Borobudur dan Monas. Tentunya, mengambil gambar berbagai gaya dengan latar landmark ini pasti keren.

negeri dongeng(sumber : travelingyuk.com)

Nah, kita pun berkesempatan berfoto dengan latar unik lainnya. Sebut saja rumah pohon, sepeda terbang, karpet Aladdin, wahana rumah terbalik, maupun pemandangan alam sekitar yang indah. Lelah berfoto, bersantai di bawah teduhnya pohon-pohon belimbing bisa menjadi pilihan. Jangan lupa mencoba relaksasi dengan terapi ikan atau menyegarkan diri di kolam untuk menyempurnakan liburan di Blitar.

Puncak Kejora

Satu lagi tempat wisata terbaru di Blitar yang patut kita kunjungi adalah Puncak Kejora. Objek wisata ini berada di Ngadirenggo, Wlingi. Nikmati kesejukan alam di tengah kawasan hutan teduh yang dipenuhi pepohonan hijau untuk menghapus rasa penat. Anda bisa menikmati pemandangan Gunung Kelud, Kawi, maupun Butak dengan lebih maksimal lewat beberapa gardu pandang di Puncak Kejora.

Puncak Kejora(sumber : detikpiknik.blogspot.com)

Jangan lupa untuk mengabadikan keindahan setiap sudut Puncak Kejora. kita bisa berfoto dengan latar alam di gardu pandang yang terbuat dari bambu dan kayu atau jalan setapak di antara barisan pepohonan. Pilihan lainnya adalah kawasan puncak yang menawarkan bintang kejora besar sebagai background unik untuk mengambil gambar. Spot favorit wisatawan inilah yang juga mendasari penamaan Puncak Kejora.

Masih belum puas menikmati liburan di Blitar, Anda dapat bertandang ke Kebun Teh Sirah Kencong yang tak kalah menarik. Berada tak jauh dari Puncak Kejora, kawasan perkebunan ini menjadi salah satu spot foto Instagramable di Blitar yang tak boleh kita lewatkan.


Itulah beberapa destinasi baru di Blitar yang bisa menjadi alternatif tujuan wisata, terutama jika kita menghendaki suasana berbeda. Selain destinasi di atas, ada pula Zegra (Zero Gravitation) yang menawarkan banyak spot foto unik atau Bukit Teletubbies yang menghadirkan perbukitan hijau lengkap dengan para Teletubbies.

Nah, siapkan segera barang-barang untuk liburan ke Blitar. Jangan lupa booking hotel di Airy. Temukan berbagai hotel di Blitar yang nyaman dan mumpuni, tetapi dengan harga terjangkau.

Semoga liburan kita di Blitar menyenangkan.

Lirik Lagu Kun Saraswati dan Cerita Perjalanan

Lirik lagu Kun Saraswati berjudul “Done” itu mengena di hati. Tidak banyak penyanyi Indonesia yang menulis lirik lagu dalam bahasa Inggris. Yang kekinian kita kenal Raisa, Isyana Saraswati, dan kini ada Ku lon Saraswati.

Lirik Lagu Kun Saraswati

DONE
 
Verse 1
Take me with you or let me be with you
But if we knew, I’m trynna forget you
What did I do? I’m feeling so pale blue
This felt so true, but how about you?
Pre-chorus
The sky starts raining, but my heart keeps tracing 
The storms are raging, but my heart keeps falling
Reff
I’m clinging on to you, just tell me it’s not true that violets are not blue
I’m clinging on to you, just tell me it’s not true and there is no I love you
Verse 2
I’m broken in two, I’m drowning in deep blue
My feelings for you, has drowned with me too
Pre-chorus
The sky starts raining, but my heart keeps tracing 
The storms are raging, but my heart keeps falling
Reff
I’m clinging on to you, just tell me it’s not true that violets are not blue
I’m clinging on to you, just tell me it’s not true and there is no I love you

Lagu Kun Saraswati yang berjudul ‘Done’ ini menyuguhkan musik yang megah di lagu tersebut. Lagu balada tersebut juga memiliki karakter pop dan jazz.

Lirik musik Kun Saraswati bercerita mengenai kekecewaan. Judul lagu Kun Saraswati  ‘Done’ ternyata ditulis sendiri oleh Kun Saraswati yang terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Bagi Kun Saraswati tidak apa-apa merasa sedih, yang penting adalah bagaimana kita bangkit dari kesedihan itu dan melanjutkan hidup dengan semangat baru.

Lagu Kun Saraswati tersebut sebenarnya mulai diciptakan pada 2016, tapi baru dijadikan sebuah karya lagu pada Agustus 2019.

Siapa Kun Saraswati?

Kun Saraswati ternyata adalah seorang musisi indie muda di Indonesia yang sudah mulai terlihat bakat musiknya sejak umur tiga tahun. Wanita yang lahir pada tanggal 9 September 1998 ini aslinya bernama Kun Andini Putri Saraswati.

Musik memang sudah lama dikenal oleh wanita 21 tahun itu. Ia sudah menunjukkan bakat bernyanyinya sejak usia 3 tahun.

Beranjak dewasa, Kun Saraswati makin yakin dengan dunia seni satu ini. Ia bahkan terjun menimba ilmu di Fakultas Ilmu Seni Musik Universitas Pelita Harapan.

Tentang Produksi Lagu Kun Saraswati

Kun Saraswati bekerjasama dengan Passion Vibe, label rekaman yang digawangi oleh Balanegara Abe dan Edo Abraham. Label ini telah banyak bekerja sama dengan musisi tanah air lainnya seperti Rinni Wulandari, Sherina, Heidi, Laki Official dan masih banyak yang lainnya lagi.

Lagu-lagu Kun Saraswati saat ini sudah dapat didengar di platform streaming musik seperti Spotify, Joox, iTunes, Deeger, dan Google dan tentu saja di channel Youtubenya. Nih kalau mau mendengarkan single Done dari Kun Saraswati.

Kenapa Lirik Musik Kun Saraswati Bisa Related dengan Cerita Perjalananku?

I’m broken in two, I’m drowning in deep blue
My feelings for you, has drowned with me too

 

Pada verse tersebut, aku merasa teringat kenanganku saat pernah hendak menyerah. Tidak banyak yang tahu bahwa aku pernah gagal di ITB dengan alasan yang remeh. Patah hati. Buruknya, patah hati itu aku alami persis sebelum ujian semester. Akibatnya, aku tidak bisa berpikir jernih. Nilaiku hancur, sehancur-hancurnya.

Aku masih ingat rasanya berjalan kaki dari kos kos ke Ciampelas Walk lalu berlanjut ke jalan layang sebelum kembali ke Plesiran. Aku terbelah menjadi dua, tenggelam pula. Tak tahu arah dan harus kemana.

Seandainya saat itu ada lagu Kun Saraswati ini aku akan bisa menghibur diri dan bangkit lebih cepat dari keterpurukanku.

Lagu Kun Saraswati di Belantara Lagu Indonesia

Kehadiran Kun Saraswati dengan lagunya yang berjudul ‘Done’ sebenarnya adalah kabar baik. Kebangkitan musik dengan lirik yang bagus sedang terjadi dan dibawakan justru oleh penyanyi generasi Z. Sebut saja yang paling fenomenal adalah Stephanie Poetri dengan I Love You 3000 yang membuatnya go international dan begabung dengan label 88 rising. Di sana sebelumnya sudah bercokol Rich Brian dan Niki yang terkenal lewat lagunya Low Key.

Seberapa besar peluang Kun Saraswati untuk sukses di industri musik?

Mengingat Kun Saraswati adalah musisi indie, kita bisa merasakan semangat indienya itu di lirik musik Kun Saraswati ini. Risikonya adalah pasarnya segmented. Meski diksi segmented sebenarnya sudah ambigu karena batas major label dengan indie label sudah begitu tipis. Keduanya punga peluang disukai sama besarnya oleh pencinta musik.

Medianya adalah Youtube. Semua penyanyi bisa eksis di Youtube dan menunggu nasib.

Single Kun Saraswati yang berjudul Done ini merupakan pintu masuk ke sana, meski secara pribadi aku tak begitu yakin nasibnya akan memiliki jutaan pendengar. Namun, mengingat materi vokal Kun, saya optimis, jika lagu berikutnya lebih mudah didengar, ia bisa menembus ekspektasi saya. Materi vokal Kun itu bagus banget lho.

Jadi ingat kata seorang teman, bahwa musisi itu akan terus eksis jika terus bisa memproduksi lagu sendiri. Maksudnya mungkin menulis lirik dan membuat musik sendiri. Karena itulah Andmesh sukses. Raisa, Isyana, dan Stephanie Poetri juga sukses. Mungkin Kun yang selanjutnya.

 

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan